Membaca Hari Raya Idul Fitri dari Kacamata H. Agus Salim

by admin
2 views

Sebagai tokoh nasional yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, H. Agus Salim merupakan sosok panutan dari banyak sisi. Kontribusi ilmu, literasi, gerakan organisasi, sampai perlawanannya terhadap penjajah hingga pasca-merdeka mengurus diplomasi internasional sudah tercatat dalam sejarah. Militansi beliau dalam belajar sudah tampak sejak dari kecil. Buktinya, di usia masih sangat muda, kurang lebih 25 tahun, Agus Salim muda telah menjadi polyglot, karena mampu menggunakan 7 bahasa asing; Arab, Inggris, Belanda, Jepang, Jerman, Turki, dan Perancis. Tidak heran jika tokoh kelahiran Koto Gadang, Agam – Sumatera Barat (8 Oktober 1884) ini kelak dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri pertama Indonesia dan dijuluki “The Grand Old Man”. Sepak terjangnya cukup prominen bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka, mulai dari era Sarekat Islam bersama H.O.S Tjokroaminoto sampai fase Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Barangkali, semua jasa beliau ini juga merupakan ketercapaiannya dalam mewujudkan harapan orang tua H. Agus Salim yang memberinya nama asli Mashudul Haq, yang berarti “Pembela Kebenaran”. Bagi saya, doa orang tuanya terkabul. Pasalnya, jelas terlihat dari jejak langkah beliau di multisektor, merambah pendidikan—lewat mendirikan HIS (Hollandsche Inlandsche School) yang sudah menetaskan banyak tokoh terkemuka. Kemudian di ranah politik dan sosial-keagamaan melalui berbagai ruang gerak dan sarekat di masanya, hingga bahkan literasi dan jurnalisme—sebagai jurnalis di Harian Neratja, redaktur Harian Moestika (Yogyakarta), dan founder Surat Kabar Fadjar Asia. Dan di tengah semua kontribusi tersebut, ada salah satu karya beliau yang memuat pandangannya secara spesifik terkait Hari Raya Idul Fitri. Karya tersebut beruntungnya selamat dari kemusnahan dan dikumpulkan menjadi buku sebagai peringatan ulang tahun H. Agus Salim ke-70 oleh Penerbit Tintamas bertitimangsa 1954—yang beruntungnya saya ikut memiliki.

Buah pikiran tokoh bangsa kita ini menarik untuk dibaca-ulang, disyukuri, digembirai, dan dimaknai kembali sebagai pelajaran berharga. Hari Raya Idul Fitri: Menutup Puasa dan Hari Bersuka-Suka “Tiap-tiap bangsa, tiap-tiap ummat mempunjai Hari-Raja, tempat mereka bermain-main, bersuka-suka. Demikian djuga ummat Islam mempunjai Hari-Raja agamanja.” Beginilah H. Agus Salim membuka karyanya, masih dengan ejaan lama tahun itu. Suatu kalimat general yang representatif dan mengena. Setelah itu, beliau menukil hadis Nabi Muhammad dari Anas bin Malik mengenai dua hari raya bagi kaum Muslim. Kemudian lanjut menjabarkan poin-poin pemaknaan penting yang mudah dicerna awam (setidaknya di masa dulu), bahwa: “Hari-Raja itu diadakan sesudah puasa penuh; bulan Ramadhân. Bulan itu kita puasakan, karena memuliakan kebesarannja. Dan ia berkebesaran, sebab dalam bulan Ramadhân Allah menurunkan Qur’an, diwahjukannja kepada Nabi Muhammad çlm. mengangkat Nabi itu kepada pangkat dan djabatan Rasul atau Pesuruh Allah, membawa petundjuk kebenaran dan kenjataan agama Allah kepada segala manusia.” (hlm. 191). Dari tulisan khusus bab Idul Fitri tersebut, saya mendapati kesan personal yang mendalam di setiap baris kalimat karangan beliau. Bahwa ada pemaknaan privat yang intim atas bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Sekalipun begitu, H. Agus Salim tidak lepas tanggung jawab dan tetap merujuk sumber-sumber otoritatif seperti Hadis, Al-Qur’an, dan tafsir sejumlah tokoh mazhab, termasuk perdebatannya. Pertentangan Hari Raya di Masa Pra-Indonesia (1935) Membahas metode penentuan jatuhnya Hari Raya, ru’yah (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan), H. Agus Salim memaparkan keduanya secara proporsional dan cukup adil. Dalam ulasannya, tampak betul ketelitian beliau dalam mengikuti perkembangan historis penggunaan kedua metode tersebut di Hindia-Belanda. Sebagai anak muda yang juga awam ilmu falak, saya menjadi tahu hal baru setelah membaca kalimat beliau yang meceritakan begini (salinan persis): “Berkenaan dengan Idul Fitri 1353 (Januari 1935) ada lagi tertjampur satu hal yang agak menambah katjaunya urusan itu. Biasanja Hari-Raja dan Hari Besar Islam itu ditetapkan didalam calendar dengan melangkahi satu hari.”

BACA JUGA:   RA Kartini Pernah Dapat Beasiswa di Belanda tapi Dibatalkan, Akhirnya Diberikan untuk Agus Salim

Konteks yang sedang dikemukakan lewat kalimat di atas adalah “pertikaian jang selalu terbit tentang Leparan Puasa” sehingga ini membuat pemerintah di masa itu berusaha mencari titik temu dan agar tidak mengganggu pekerjaan. Maka ditetapkanlah perayaan Hari Raya itu dua hari berturut-turut sebagai upaya menepis prasangka masyarakat Muslim terhadap pemerintah yang rawan dituding ‘berpihak sebelah’. Namun tidak berhenti di situ, polemik Hari Raya Idul Fitri yang ganda itu, yang bagi H. Agus Salim sendiri dinilai sebagai “aturan jang dengan kebidjaksanaan”, ternyata tidak meredam perselisihan. Masalah ini lalu merebak ke persoalan lainnya. H. Agus Salim memotret ada semacam kekecewaan yang muncul karena ada sebagian pemimpin daerah (bupati) yang menghadiri sembahyang Hari Raya di masjid tertentu, dan karenanya, ada aturan pelarangan memukul bedug panjang—yang di beberapa masjid lainnya justru menjadi pertanda lebaran (hlm. 199). *** Dari sinilah ada sakit hati dari umat Islam tertentu sehingga memantik perdebatan baru. Otomatis, letupan polemik pun mendapat ruangnya lagi. Untuk merespons seteru-pandangan ini, H. Agus Salim lantas membabarkan uraiannya dengan menyuguhkan perspektif dari beberapa Imam mazhab—Syafi’i, Hanbali, Hanafi. Serampungnya menjabarkan pandangan fiqh dari ketiganya, beliau melengkapi dengan ulasan padat secara kaleidoskopis seputar ‘evolusi ilmu’ dari era ilmu nujum sampai ilmu falak dan astronomi. Lalu sebagai pamungkasnya, H. Agus Salim menutup tulisannya dengan dua rekomendasi untuk pemerintah menyangkut pertikaian tersebut dengan narasi berikut: “Jang pertama: hendaklah fihak kekuasaan negeri menjerahkan dengan bersungguh-sungguh hak keleluasaan tiap-tiap fihak akan berhari raja pada harinja didalam atau diluar mesdjid. Jang kedua: hendaklah fihak kekuasaan dengan sengadja memperhatikan segala daja-upaja jang telah diuraikan diatas ini tentang menetapkan permulaan bulan Ramadhân dan bulan Sjawal.”

BACA JUGA:   bergabunglah pada giat Istiqomah Jum'at Berkah Berbagi sarapan pagi di Kios SI Syarikat Islam Kaltim

Berkaca dari secuil karya H. Agus Salim di atas, dapat kita teladani kecakapan beliau secara ilmu, referensi, dan kepekaan akan atmosfer sosial. Juga pentingnya kontekstualisasi agamawan dan sensitivitas penguasa dalam membaca perasaan masyarakat agar terhindar dari keputusan yang menyakiti atau mengecewakan. Dari segi penjabaran juga, luasnya pengetahuan beliau membuatnya secara kompleks namun tetap sederhana dalam menyajikan argumentasi. Pencantuman ayat Al-Qur`an, Hadis, sampai Imam mazhab dan nama-nama ilmuwan seperti Nicolas Copernicus, Johan Kepler, sampai Galileo Galilei menjadi bukti keseriusan dan keuletan beliau dalam mencari ilmu dan ‘keserakahan membaca’. Di samping itu, yang membuat saya terkesan adalah cara pengemasan narasi beliau. Seolah beliau mengunyahkan sumber-sumber teks keagamaan untuk kemudian disajikan secara lebih renyah, sederhana, dan terpahami banyak kalangan. Tidak seperti di masa kini, kebak orang pintar yang malah memperumit gaya komunikasi dan penjelasannya—hanya agar terkesan pintar. Sementara tujuan dari transmisi ilmu dan komunikasi, yakni menghasilkan pemahaman atau kesalingpahaman, malah tidak tercapai. Mari kita teladani H. Agus Salim dengan multidisiplin keilmuannya.[] Sumber Bacaan: Panitia Peringatan. 1954. Djedjak Langkah Hadji A. Salim: Pilihan Karangan, Utjapan dan Pendapat Beliau dari Dulu sampai Sekarang, Djakarta: Tintamas (Edisi Khusus Peringatan 70 tahun). Qitori (ed.). 2013 (Cet-I). The Great Wisdom from The Great Thinkers, Bandung: Penerbit Edelweis. Tempo. 2013. Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik (Seri Tokoh), Jakarta: Tempo KPG.. See – https://ibtimes.id/membaca-hari-raya-idul-fitri-dari-kacamata-h-agus-salim/

sumber: ibtimes.id

Chat sekarang
Punya Berita Seputar SI? Klik Disini