Henk Sneevliet Tokoh Propaganda Komunis, Sahabat Semaun yang Membawanya ke Semarang

by admin
3 views

SuaraJawaTengah.id – Perjumpaan Semaun dengan Henk Sneevliet di Jawa Timur menjadi awal persahabatan dua tokoh beraliran komunis. Semaun yang saat itu masih umur belasan tahun terpikat dengan jalan pemikiran Henk Sneevliet.

Pemikiran Sneevliet yang menyebut pergerakan harus melingkupi pada aspek yang paling kecil tak terkecuali kaum buruh, membuat Semaun benar-benar terpikat.

Namun tak lama kemudian Sneevliet pindah ke Semarang pada Mei 1913 untuk menggantikan D.M.G. Koch sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging.

Tak berselang lama, Semaun juga ikut pindah ke Semarang. Di Semarang awalnya Semaun ditugaskan sebagai pemimpin redaksi berbahasa Melayu yang notabennya merupakan corong dari media milik Sarekat Islam.

Media tersebut bernama Sinar Djawa yang kelak berubah nama menjadi Sinar Hindia itu diisi dengan tokoh-tokoh yang cukup mentereng seperti Mas Macro Kartodikromo dan juga Darsono.

“Semaun ketika di Semarang peranya begitu  penting lantaran juga ditugaskan untuk menjadi pemimpin redaksi,” jelas Sejarawan Unnes, Tsabit Azinar Ahmad, Selasa (28/9/2021).

Di Semarang Semaun dan Sneevlie juga sempat terlibat aksi mogok kerja para buruh kepada Pemerintah Hindia-Belanda. Menurutnya, kecocokan Sneevliet dengan Semaun karena ada kecocokan ideologi dan garis perjuangan yang tak jauh beda.

“Ini ada kesamaan ideologi apa yang dibawa snevleet dan apa yang dilakukan Semaun dengan Sarekat Islam di Semarang,” ujarnya.

Menurut Tsabit, Snevleet merupakan seorang propagandis komunis yang cukup berpengalaman untuk menginisiasi massa tak terkecuali para buruh.

Karena pengalaman itulah, Snevleet sedikit banyak mempengaruhi Semaun dalam beberapa aksi pemogokan para buruh di Semarang hingga internal Sarekat Islam itu sendiri.

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* Rabu, 15 Desember 2021 Pukul 20.00 - 21.00 WIB Program Salam Lentera Kebajikan

Keuletan dan pengaruh Semaun membawa SI Semarang mempunyai basis massa yang besar di Semarang. Dalam tempo satu tahun sejak dia dilantik pada 1919, Semaun berhasil meningkatankan jumlah anggota SI Semarang.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1920 Semaun juga menjadi ketua Partai Komunis Indonesiia (PKI). Sebelum menjadi ketua Partai PKI, Semaun juga kerapkali bersinggungan dengan SI pusat.

Sebuah jurnal berjudul Muncul dan Pecahnya Sarekat Islam di Semarang 1913-1920 yang ditulis Endang Muryanti mengungkap sebuah fakta jika

Setelah  Semaun  diangkat  sebagai ketua  Sarekat  Islam Semarang sekaligus  sebagai  propaganda  gerakan  sosialis-revolusioner.

Dia  mulai  melancarkan kritik-kritik  yang  pedas  terhadap  pemerintah  jajahan. Oleh karena itu, pengaruh Semaun mulai tertanam pada anggota-anggota  Sarekat  Islam.

Pada saat Central  Sarekat Islam menginginkan  adanya  dewan perwakilan rakyat (Volksaraad), namun Sarekat  Islam Semarang khususnya Semaoen yang beraliran radikal tidak senang dengan keputusan tersebut.

Sebab dengan adanya Volksraad berarti mengadakan kerjasama dengan  pemerintah kolonial. Dalam  kongres  Sarekat  Islam yang ketiga, pengaruh Semaoen  makin  meluas.

Hal  ini  terlihat  dengan  terorganisirnya kaum buruh dan kaum tani dengan dibentuk  sentral-sentral  Sarekat  ekerja.

Dalam  menghadapi  pemerintah  kolonial  Belanda,  Sarekat  Islam  Semarang  terdapat  dua  kubu  yakni  kubu Semaoen dan kubu  Abdoel  Moeis.

Semaunn  lebih  radikal  sedangkan Abdoel Moeis  lebih  kooperatif.  Pertentangan antara  Semaun  dengan  Abdoel Moeis dalam masalah Volksraad dan perbedaan pandangan  mengakibatkan  perpecahan dalam tubuh Sarekat Islam  itu  sendiri.

Yaitu Sarekat Islam Putih (SI Putih) , yang  tetap  mempertahankan  dasar agama  yang  dipimpin  oleh  Cokroaminoto  dan  Abdoel  Moeis dan Sarekat  Islam  Merah  (SI  Merah),  yang  bersifat mempertahankan  ekonomis  dogmatis yang  dipimpin  oleh  Semaoen dan Darsono.

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* Rabu, 15 Desember 2021 Pukul 06.00 - 06.40 WIB *Salam Penyejuk Hati*

Hal itulah yang membuat SI yang dipimpin Semaun itu dijiluki sebagai SI Merah. Namun, tak lama kemudian Semaun digantikan oleh Tan Malaka karena dia berangkat ke Uni Soviet untuk menghadiri kongres.

Menurut Tsabit, pada Mei 1922 Semaun dikabarkan kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) dari Uni Soviet. Saat kembali ke Hindia Belanda kondisi Partai PKI tak begitu baik karena keterlibatan Partai PKI mendukung aksi pemogokan serikat buruh.

Dukungan PKI terhadap pemogokan buruh itu juga harus dibayar mahal, karena Tan Malak akhirnya diusir oleh Pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu.

“Namun pada 1923 Semaun juga ditahan karena pemogokan buruh kereta api. Setelah ditahan, dimaun diusir dan menetap di Amsterdam,” paparnya.

Di Belanda, Semaun menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia yang merupakan salah satu organisasi mahasiwa Indonesia di  Belanda pada waktu itu.

Pada November 1926 dan Januari 1927 pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pecah. Banyak orang PKI yang dibuang ke Digul, beberapa juga berhasil kabur ke Uni Soviet.

Menurutnya, di Eropa Timur Semaun dan teman-temannya mulai mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia. Terbukti beberapa negara Eropa Timur seperti Ukraina menjadi salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

“Jadi selain bangsa Arab, sebenarnya negara Eropa Timur juga mendukung kemerdakaan Indonesia ketika awal-awal dikampanyekan,” ucapnya.

sumber: jateng.suara.com

You may also like

Chat sekarang
Punya Berita Seputar SI? Klik Disini