KH Mustofa Kamil, Berjuang Hingga Titik Penghabisan (II)

by admin
1 views

IHRAM.CO.ID,  Perjuangan KH Mustofa Kamil dimulai sejak berdirinya cabang Syarikat Islam (SI) pada 1914 di Garut. Melalui ormas Islam inilah ia mensyiarkan agama Islam kepada masyarakat Garut. Kiai Mustofa juga menjadikan organisasi ini sebagai alat perjuangan untuk melawan penjajah.

Dalam buku K.H. Mustofa Kamil: Sang Pendekar dari Kota Intan, Budi Suhardiman mengatakan, sosok Kiai Mustofa memang tidak lepas dari sejarah SI di Garut. Menurut dia, SI telah menjadikan tokoh tersebut sebagai seorang ulama pemberani. Pemikiran-pemikiran keislaman dan kebangsaan yang marak di organisasi tersebut turut menempanya agar rela berkorban demi bangsa dan negara.

Saat melakukan pertemuan dengan para pengurus ranting dan anggota SI, Kiai Mustofa selalu memberikan motivasi dan semangat agar mereka ikut terus berjuang melawan penjajah. Sebagai akibatnya, kesadaran masyarakat untuk ikut mempertahankan Tanah Air dari penjajahan pun semakin meningkat.

Selain rajin berdakwah ke daerah-daerah, Kiai Mustofa juga berperan sebagai guru agama di madrasah milik Syarikat Islam. Salah satunya adalah Madrasah Al Islamiah di Kampung Lio Garut.

Di madrasah inilah ia membekali generasi muda dengan ilmu agama Islam. Kiai Mustofa terlibat dalam kepengurusan Syarikat Islam dari 1916 sampai 1940. Melalui SI, ia bersama pengikutnya selalu menentang setiap kebijakan yang dibuat Belanda. Dengan sikap yang tegas dan keras itu, ia pun harus keluar masuk penjara sebanyak 14 kali.

Karena itu, Bung Karno menjuluki Kiai Mustofa Kamil sebagai Kiai Jerajak. Sebab, seringnya sang alim masuk-keluar penjara pada zaman kolonial. Hal ini disampaikan sang Penyambung Lidah Rakyat kepada seorang wartawati Amerika Serikat, Cindy Adams, yang juga penulis otobiografinya.

BACA JUGA:   Bocoran Bisnis Moncer 2022 Versi Sandiaga Uno, Mau Tahu Apa Saja?

Ada di antara pejuang kita yang selalu keluar masuk bui secara tetap. Seorang pemimpin asal Garut (Kiai Mustofa). Dia sudah masuk 14 kali. Pem besar di sana menamakannya sebagai pengacau, kata Bung Karno sebagaimana dilaporkan Cindy.

Tentu, cap pengacau itu dalam perspektif kolonial. Namun bagi Bung Karno dan seluruh rakyat Indonesia, mubaligh tersebut adalah seorang pejuang sejati. Pemerintah Belanda memang selalu mengawasi dan mencurigai gerak-gerik Kiai Mustofa.

Bagaimanapun kerasnya tekanan dari rezim kolonial, ia merasa lebih baik mati daripada harga diri bangsa Indonesia diinjak-injak para penjajah. Sikapnya ini menunjukkan bahwa dirinya benarbenar seorang ulama-pejuang yang gigih dalam merebut kemerdekaan.

Bahkan, persitiwa Cimareme pada 1919 juga tak terlepas dari peran Kiai Mustofa. Setelah peristiwa yang banyak memakan korban itu, Belanda menangkap para tokoh SI dan tokoh Islam lainnya dengan menyebar fitnah, termasuk KH Mustofa Kamil. Saat itu ia dihukum selama dua tahun dari 1919 sampai 1921.

Dalam berdakwah Kiai Mustofa selalu menunjukkan sikap penentangan terhadap Belanda. Misalnya, ketika berkhutbah Jumat. Dirinya tidak mau mematuhi aturan pemerintah kolonial yang mengharuskan teks khutbah disampaikan dalam bahasa Arab.

Menurutnya, bahasa Sunda jauh lebih efektif dan komunikatif, apalagi tidak melanggar syariat ibadah. Maka dari itu, ia selalu menyampaikan khutbah atau ceramah apa pun di masjidmasjid dengan bahasa lokal.

Pada 1923, akhirnya Kiai Mustofa kembali dijeb loskan ke dalam penjara Garut. Hanya sebentar di sana, dirinya lantas dipindahkan ke rumah tahanan Sukamiskin, Bandung. Meskipun di dalam penjara, ia tetap menyempatkan diri untuk berdakwah, terutama kepada para tahanan lain.

BACA JUGA:   Resep Bisnis Ala Sandiaga Uno Untuk Milenial dan Gen Z

Pada 10 Maret 1942, Belanda akhirnya menyerahkan kekuasannya di Nusantara kepada Jepang. Dai Nippon sempat digadang-gadang sebagai saudara tua Indonesia. Nyatanya, Negeri Matahari Terbit toh berlaku sebagai penjajah.

Menghadapi keadaan tersebut, Kiai Mustofa bersama dengan teman-temannya menyusun strategi baru. Meresponsnya, Jepang sempat menawari Kiai Mustofa untuk bekerja sama dalam berbagai hal. Namun, ajakan tersebut dengan tegas dito laknya. Akibatnya, ia pun harus kembali menghuni penjara untuk kesekian kalinya, yaitu pada 1942- 1943.

Setelah keluar penjara, Kiai Mustofa bersama tokoh lainnya kemudian berperan aktif melalui gerakan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang berdiri pada 1937. Namun, pada 24 Oktober 1943 organisasi ini dibubarkan oleh pemerintah Jepang dan sebagai gantinya Jepang membentuk organisasi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 1943.

Dalam organisasi yang baru ini, Kiai Mustofa tercatat sebagai salah satu aktivis Masyumi wilayah Priangan. Ia terus bergerak mengadakan pengajian ke berbagai daerah untuk menanamkan ajaran Islam dan membangkitkan semangat juang melawan penjajah.

Hingga akhirnya ia mencapai puncak per juangannya dengan berjuang bersama Bung Tomo di Jawa Timur. Ajang pertempuran melebar, tidak ha nya di kawasan Surabaya. Saat ikut berjuang di daerah Gedangan, Sidoarjo, sang alim tertembak musuh. Pada 10 November 1945, ulama Garut tersebut gugur sebagai seorang syuhada.

sumber: ihram.co.id

You may also like

Chat sekarang
Punya Berita Seputar SI? Klik Disini