by

*UNDANGAN* #Seri Kajian: #26 || KAPITA SELEKTA DAKWAH || Perjuangan Dakwah H.O.S. TJOKROAMINOTO

Print Friendly, PDF & Email

*UNDANGAN* #Seri Kajian: #26
|| *KAPITA SELEKTA DAKWAH* ||
Senin, 19 Juli 2021
|| Pukul 06:00 – 08:30 ||
|| *Undangan dapat disebarluaskan* ||
Perjuangan Dakwah
*H.O.S. TJOKROAMINOTO*
(1882-1934)
BAPAK NASIONALISME
INDONESIA
SEJAK tahun belasan abad XX, Sarekat Islam (SI) menyebut perhelatan tahunannya: “Kongres Nasional”. Apa arti nasional di masa penjajahan itu?
“Nasional” menurut pemimpin SI, H.O.S. Tjokroaminoto, merupakan suatu usaha untuk meningkatkan seseorang pada tingkat _natie_ (bangsa). Usaha pertama untuk berjuang menuntut pemerintahan sendiri.
Pada Kongres Nasional pertama di Bandung pada 1916, Tjokroaminoto secara spesifik mendudukkan hubungan Indonesia dengan Belanda sebagaimana seharusnya: “Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan oleh susunya…. Tidak bisa lagi terjadi seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa partisipasi kita.”
MENGENANG Tjokroaminoto dan SI, Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa banyak orang yang tidak beragama Islam memberi bantuan kepada SI karena bagi mereka yang paling penting dalam SI adalah sifat kerakyatan dan keradikalannya, lebih-labih karena tertuju ke arah kemerdekaan nusa dan bangsa, bebas dari penjajahan.
Ki Hadjar mengaku keluar dari Budi Utomo dan masuk SI karena tertarik oleh pribadi dan aksi Tjokroaminoto.
Kawan dan lawan mengakui, dalam sejarah gerakan kemerdekaan, Tjokroaminoto tercatat sebagai pemimpin terkemuka dan yang pertama memimpin partai nasional terbesar, Sarekat Islam.
DI ZAMAN penjajahan yang disebut _inlander_ atau bumiputera ialah rakyat yang beragama Islam, sebab dalam bahasa resmi kedua sebutan itu diterjemahkan menjadi “orang Selam”. Maka, SI adalah nama yang setepat-tepatnya untuk pergerakan yang mewadahi seluruh rakyat.
Dalam menuntut hak dan kepentingan rakyat, SI tidak membedakan antara rakyat yang beragama Islam dengan yang tidak beragama Islam.
Dan, kata Haji Agus Salim, Tjokroaminoto menjadi penganjur dan pemimpin pergerakan itu.
Sejarah kemudian mencatat, Tjokroaminoto bukan saja harus menghadapi gerilya politik kaum komunis yang mendompleng kebesaran SI, juga bertengkar dengan teman-temannya sendiri.
SI dan Muhammadiyah yang di masanya berperan menyiapkan kader-kader bangsa yang cerdas melalui jalur politik dan pendidikan, di awal 1930-an berpisah.
Di tengah ramainya pembentukan partai-partai sekuler, partai-partai berasas Islam juga muncul “menyaingi” SI.
TJOKROAMINOTO, kata Haji Agus Salim, adalah satu nama yang mengandung riwayat. Bahkan satu nama yang meliputi satu masa dalam riwayat yang meletakkan dasar bagi satu masa terpenting dalam riwayat tanah air dan bangsa.
Akan tetapi, nama itu masih diikatkan pada partai politik dan sebab itu masih dihubungkan dengan soal kawan dan lawan.
Jika ditempatkan pada riwayat yang sebenarnya, Tjokroaminoto adalah peletak dasar pergerakan kemerdekaan; sebagaimana halnya SI organisasi yang mula-mula menyadarkan rakyat Indonesia.[]
#Kajian bersama:
*°Ust. Lukman Hakiem*
(Pakar Sejarah Perjuangan Ummat)
*°Dr. Hamdan Zoelva*
Ketua Umum PP Syarikat Islam
*°Dr. Aji Dedi Mulawarman*
Ketua Dewan Pembina Yayasan Paneleh Jang Oetama
*°Para aktivis dakwah seluruh Indonesia*
————————————–
🌐 Join Zoom Meeting
‣ Meeting ID: 730 391 1221
‣ Passcode: santri15
————————————–
*Live YouTube*
————————————–
Laboratorium Dakwah
Pondok Pesantren Budi Mulia
Yayasan Shalahuddin Budi Mulia ||

sumber: facebook.com/groups/660838607828009

BACA JUGA:   Eks Ketua MK 'Protes' Amandemen UUD 1945, Ternyata Bisa Jadi Jalan Presiden Dipilih Lagi Oleh MPR?

News Feed