by

Pemerintah-Ormas Islam Setuju Masjid Dijadikan Literasi Covid

Print Friendly, PDF & Email

JAKARTAWaspada.co.id – Sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan penegasan sikap terkait gerakan bersama penanggulangan Covid-19.

Salah satu sikap yang mereka ambil yakni mengenai keberadaan dan fungsi masjid selama pandemi Covid-19. Ketua Syarikat Islam Hamdan Zoelva yang membacakan sikap tersebut mengatakan, fungsi masjid sebagai tempat ibadah mahdhah, pusat syiar (lantunan adzan, ayat suci, dan lain-lain), dan konsolidasi sosial di masa pandemi ini tetap dapat dijalankan.

“Sepanjang tidak bertentangan dengan protokol kesehatan, yang pelaksanaannya dikoordinasikan dengan pihak berwenang setempat,” kata Hamdan dalam konferensi pers yang digelar secara virtual, Minggu (18/7).

Selain itu, Hamdan mengatakan bahwa masjid agar diperankan dalam penggalangan bantuan sosial untuk menolong pasien positif Covid-19. Masjid juga dapat menjadi tempat mengumumkan informasi penting terkait Covid. “Serta tempat sosialisasi dan literasi informasi terkini terkait pandemi,” ujarnya.

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* Selasa, 29 Juni 2021 Pukul 06.00 - 06.30 WIB Program Salam Indonesia Bisa

Sikap lainnya yang dibacakan yakni, para pimpinan MUI dan ormas Islam bertekad dan berkomitmen bersama pemerintah dalam upaya penanggulangan Covid-19 dan dampak yang ditimbulkannya secara bersama-sama oleh semua komponen bangsa tanpa terkecuali dengan disiplin melakukan ikhtiar terbaik.

Kemudian, mereka juga menyepakati bahwa penanggulangan Covid-19 merupakan upaya untuk menjaga keselamatan jiwa setiap masyarakat yang harus diutamakan dan didahulukan. Setiap upaya harus difokuskan untuk mewujudkan hal itu.

“Termasuk pemberlakuan situasi dan kondisi darurat melalui PPKM, sampai dengan pandemi Covid-19 dapat tertanggulangi dan terkendali,” tutur Hamdan.

Berikutnya, mereka juga menyatakan, dalam menjalankan ibadah dan syiar agama, umat Islam harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

Menurut mereka, pelaksanaan ibadah dan syiar agama yang berpotensi menjadi mata rantai penularan Covid-19, seperti terjadinya kerumunan, harus dihindarkan serta ditiadakan dan dilakukan dengan menggunakan rukhshah atau cara lebih ringan, sebagaimana diajarkan oleh syariat Islam dan dilaksanakan di rumah masing-masing.

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* Jumat, 25 Juni 2021 Pukul 06.00 - 06.30 WIB Program Salam Indonesia Bisa

Hamdan menambahkan, pelaksanaan Iduladha yang jatuh pada Selasa (20/7) juga harus tetap mempertimbangkan kondisi di kawasan masing-masing dan berkoordinasi dengan Satgas Covid-19. Mengingat kondisi saat ini, khususnya di Jawa dan Bali, serta sejumlah daerah lainnya masih melaksanakan PPKM Darurat.

“Pelaksanaan ibadah dan syiar Iduladha, seperti shalat Ied dan takbir, diselenggarakan di rumah masing-masing. Sedang pemotongan dan pembagian hewan kurban dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan,” kata Hamdan.

“Pemotongan hewan kurban dilakukan di rumah potong hewan dan/atau tempat lain yang aman, serta pembagian daging dilakukan dengan diantar ke rumah penerimanya,” ujarnya menambahkan. (cnnindonesia/ags/d2)

sumber: redaksi.waspada.co.id

News Feed