by

Tanggapi Permintaan Cicit HOS Tjokroaminoto, Agus Jabo: Prima Hanya Mengangkat Gagasan Tokoh-tokoh Nasional

Print Friendly, PDF & Email

Keturunan tokoh pahlawan pergerakan nasional HOS Tjokroaminoto keberatan jika pendiri Syarikat Islam itu dijadikan ikon partai politik.
Hal tersebut dikatakan Aulia Tahkim Tjokroaminoto, cicit Di Jalan Peneleh VII menanggapi pertemuan antara Dewan Pimpinan Pusat Partai Rakyat Adil Makmur (DPP Prima) yang dipimpin Agus Jabo Priyono dan DPP Perkumpulan Syarikat Islam Indonesia (PSII) pimpinan Chalif Ibrahim, Rabu (10/3) lalu.

Willy, demikian sapaan Aulia Tahkim, mengapresiasi inisiatif Agus Jabo dan partainya untuk menjadikan gagasan HOS Tjokroaminoto sebagai inspirasi gerakan politik.

Namun, dia keberatan jika sosok eyang buyutnya dijadikan ikon partai politik. Menurut Willy, Tjokroaminoto adalah milik semua golongan, milik bangsa Indonesia.

Willy pun meminta Agus Jabo dan Prima tidak menjadikan sosok HOS Tjokroaminoto sebagai ikon partainya.

Menanggapi keberatan keturunan HOS Tjokroaminoto, Agus Jabo menyatakan menghormati permintaan tersebut. Namun, menurut Jabo terdapat kesalahpahaman terhadap niat dirinya dan Prima.

Jabo menyatakan, Prima sama sekali tidak hendak mengklaim sosok HOS Tjokroaminoto sebagai milik kelompoknya.

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* Selasa, 22 Juni 2021 Pukul 20.00 - 21.00 WIB Program Salam Lentera Kebajikan

“Justru Prima mengangkat kembali, memperkenalkan kembali gagasan HOS Tjokroaminoto agar bisa menjadi gagasan bersama bangsa Indonesia, gagasan yang mempersatukan unsur-unsur progresif dalam memperjuangkan Indonesia adil makmur,” kata Jabo kepada wartawan, Mingu (14/3).

Jabo menceritakan, PRD sebagai inisiator Prima dalam dekade terakhir berupaya menggali pemikiran para tokoh bangsa.

“Kami belajar bagaimana tokoh-tokoh bangsa kita dahulu, para perintis kebangkitan nasional, tidak menelan bulat-bulat filsafat progresif dan teori perjuangan dari bangsa-bangsa barat, tetapi berupaya membangun sintesis, mendudukkan filsafat dan teori-teori perjuangan itu ke dalam konteks masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Sambungnya, Prima banyak belajar dari tokoh nasional seperti Sukarno, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Johanes Leimena, Amir Syarifuddin, dan tentu saja HOS Tjokoraminoto serta para tokoh bangsa lainnya.

“Dari pemikiran mereka kami sadar bahwa sosialisme, bahwa corak kehidupan ekonomi, politik, dan sosial budaya berbasis gotong royong itu adalah sejatinya jiwa orang Indonesia yang relijius. Jadi gagasan itu bukanlah barang asing,” katanya.

BACA JUGA:   STANDARISASI GURU AL-QUR`AN METODE TILAWATI

Jabo menyampaikan, maksud dirinya dan Prima mengangkat kembali gagasan-gagasan HOS Tjokroaminoto dan para tokoh bangsa lain memiliki dua tujuan.

Pertama untuk mengingatkan bangsa Indonesia bahwa sejatinya jiwa bangsa kita bukanlah liberal kapitalistik.

Tujuan yang kedua adalah mengajak insan politik Indonesia untuk kembali mengedepankan politik gagasan.

“Salah satu sebab politik Indonesia kian transaksional dan bersandar kepada pembiayaan oleh para oligark adalah karena para politisi sudah meninggalkan pentingnya gagasan-gagasan besar sebagai landasan berpolitik,” tuturnya.

Jabo menegaskan dan memberi jaminan bahwa Prima tidak akan mengklaim sosok HOS Tjokroaminoto sebagai milik kelompoknya.

“Prima akan menyebarluaskan gagasan dan keteladanan perjuangan Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan tokoh bangsa lainnya agar menjadi kesadaran dan sumber keteladanan bersama kekuatan-kekuatan politik di Indonesia dan bangsa Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya. 

sumber: politik.rmol.id

News Feed