by

MAKSUD DAN TUJUAN HIDUP MANUSIA

Print Friendly, PDF & Email

SoluSI.info – Pada edisi ini, 3 tanggal 17 Ramadhan 1442 H Buletin Lembaga Dakwah Syarikat Islam (LDSI) ini akan membahas penjelasan tentang Reglemen Umum Bagi Umat Islam Bab II Maksud dan Tujuan Hidup di Dunia.

Di dalam Tiga Belas Mabda’ Jati Diri atau Kepribadian Mujahid Syarikat Islam nomor 1 yaitu Mahabbatullah yaitu mencintai Alloh melebihi cintanya kepada apapun dan siapapun. Rasa cinta adalah asas semua hubungan manusia dengan khaliqNya, hubungan manusia sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Tanpa cinta hubungan-hubungan itu tidak akan terbentuk. Karena itu, jika manusia salah memilih fundamen rasa cinta, maka seseorang akan mengalami kekeliruan dalam menjalin hubungan dengan siapapun. Hubungan dengan Tuhan hanya sebatas kepentingan sesaat, hubungan dengan manusia hanya atas dasar kebutuhan syahwatiah dan hubungan dengan alam hanya sebatas memenuhi kebutuhan hidup karenannya yang muncul adalah hubungan yang bersifat eksploitatif (menguras pihak lain hanya untuk memenuhi kepentingan ego dan syahwatiyahnya).

Pada umumnya manusia berusaha dan bekerja untuk memenuhi segala keperluan hidupnya, penghidupan dan kamajuan di dunia. Tetapi bagi kaum muslimin maksud dan tujuan hidup yang sebaik-baikya adalah menggapai ridho Alloh, dapat diartikan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Tidak ada sesuatu nikmat yang diperoleh manusia kecuali nikmat yang diridhoi oleh Alloh SWT. Alloh SWT berfirman di dalam Q.S. Al Imron:14 ;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Di dalam tafsir Al Misbah dijelaskan yang dimaksud dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yakni aneka keinginan.

Pertama, sesuatu yang dijadikan indah itu jadi benar-benar indah, seperti keimanan yang dijadikan indah oleh Alloh SWT di dalam hati orang-orang beriman sebagaimana di dalam Q.S. Al Hujurat:7
وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِۚ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِي كَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ لَعَنِتُّمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”.

Kedua, bisa juga ia buruk tetapi diperindah oleh pemuka-pemuka masyarakat, sebagaimana pemimpin kaum musyrikin memperindah pembunuhan anak-anak dalam pandangan masyarakat mereka, sebagaimana di dalam Q.S. Al An’am: 137
وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ قَتۡلَ أَوۡلَٰدِهِمۡ شُرَكَآؤُهُمۡ لِيُرۡدُوهُمۡ وَلِيَلۡبِسُواْ عَلَيۡهِمۡ دِينَهُمۡۖ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ
“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”.

BACA JUGA:   DPP Syarikat Islam mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya Ibu Hj. Rachmawati Soekarnoputri, S.H., M.H.

Ketiga, Bisa juga yang memperindah keburukan adalah setan, sebagaimana di dalam Q.S. Al Anfal: 48
وَمَا نُرۡسِلُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَۖ فَمَنۡ ءَامَنَ وَأَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.

Menurut Qurais Shihab, Syahwat adalah kecenderungan hati yang sulit terbendung kepada sesuatu yang bersifat indrawi, materiil. Dijadikan indah bagi manusia seluruhnya kecintaan kepada aneka syahwat, yaitu wanita-wanita bagi pria, dan pria-pria bagi wanita, serta anak laki-laki dan anak perempuan. Dijadikan indah juga bagi manusia kecintaan kepada harta yang tidak terbilang lagi berlipat ganda, kuda pilihan atau istimewa, binatang ternak (sapi, kambing, domba, dan unta baik jantan dan betina), sawah ladang.
Alloh yang memperindah hal-hal di atas, ini merupakan fitrah yakni bawaan manusia sejak kelahirannya bahwa ia mencintai lawan jenisnya serta harta benda yang beraneka ragam.

Perlu diingat bahwa ketika alquran mengakui dan menegaskan adanya kecintaan kepada kepada syahwat-syahwat itu, dengan kata lain dorongan-dorongan untuk melakukan aktifitas kerja, juga menggarisbawahi dorongan yang seharusnya lebih besar yaitu memperoleh “apa yang berada disisi Alloh. Disisi Alloh terdapat kesudahan yang baik. Jika demikian pandangan seseorang harus melampau batas masa kini dan masa depannya yang dekat, menuju masa depan yang jauh.
Visi masa depan yang jauh merupakan etika pertama dan utama dalam setiap aktivitas, sehingga pelakunya tidak sekedar mengejar keuntungan sementara/duniawi yang segera habis, tetapi selalu berorientasi masa depan. Dari sini pula Al Quran mengingatkan bahwa sukses yang diperoleh mereka yang berpandangan dekat bisa melahirkan penyesalan, dan bahwa kelak di masa depan, mereka akan merugi dan dan dikecam. Q.S. Al Isra’: 18-19
مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعَاجِلَةَ عَجَّلۡنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلۡنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصۡلَىٰهَا مَذۡمُومٗا مَّدۡحُورٗا وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”.
Alloh SWT berfirman di dalam Q.S. Al Lail: 17-21
وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلۡأَتۡقَى ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”.
Dan akan dijauhkan darinya yakni dari api yang berkobar-kobar itu, orang yang paling takwa yaitu yang memelihara dirinya dari kemusyrikan dan kemaksiatan. Dia yang menfkahkan hartanya di jalan Alloh untuk membersihkan hartanya dan mengembangkannya dengan harapan pelipatgandaan ganjaran diakherat nanti. Dia menafkahkan harta itu dan bersedekah buat orang lain padahal tidk ada seorangpun disisinya yang memberikan suatu nikmat duniawi kepadanya yang harus atau wajar dibalasnya, namun dia memberikan itu semata-mata karena mencari ridho Alloh. Dan kelak dia benar-benar dia akan ridha, yakni memperoleh kepuasan dengan meraih lebih dari apa yang diidamkan.

BACA JUGA:   Syarikat Islam Siap Kembangkan Industri Halal

Banyak ulama berpendapat bahwa ayat ini turun menyangkut Sayyidina Abu Bakar r.a. yang ketika itu membeli Bilal Ibn Rabah yang kemudian menjadi Muadzin Rasulullah SAW. Membelinya dari Umayyah Ibn Khalaf yang seringkali menyiksanya. Ketika itu Sayyidina Abu Bakar menebus Bilal r.a. dengan harga yang sangat mahal. Maka ada yang berkata bahwa tebusan itu disebabkan memeang Bilal mempunyai jasa yang besar terhadap Abu Bakar r.a. ini yang dibantah oleh ayat 19-20. Namun Alloh membantah dalam ayat tersebut bahwa tujuan utama Sayyidina Abu Bakar r.a. yang ketika itu membeli Bilal Ibn Rabah adalah semata-mata karena mencari ridho Alloh.
Thabathobai menjelaskan kalimat Wajhu Rabikal dalam arti wajah tuhanmu yakni dengan mengenal sifat-sifatNya yang mulia yang merupakan perantara antara diriNya dan MakhlukNya. Dengan tersebut Alloh menurunkan buat mereka aneka keberkatan dan kebajikan, seperti penciptaan, pengaturan, dan pengendalian, seperti ilmu, Qudrah, rahmat, magfirah, rezeki dll. Sari dari ayat di atas adalah menampilkan contoh dari salah satu usaha manusia yang paling terpuji, yakni menafkahkan hartanya guna meraih keridhaan Alloh SWT.

Kesimpulannya bahwa akar hubungan cinta seorang muslim terhadap yang lain diawali dengan hubungan cinta kepada Alloh disebut Mahabbatullah. Mencintai Alloh SWT melebihi cintanya kepada apapun dan siapapun di alam semesta. Inilah prinsip hubungan yang menjadi ikatan hati, pikiran, sikap dan tindakan manusia yang disebut “akidah”. Kecintaan kepada Alloh secara utuh dibuktikan dengan tunduk dan patuh atas semua perintah dan laranganNya. Situasi ketundukan dan kepatuhan yang demikian akan senantiasa membuahkan rasa cinta yang mendalam kepada Alloh yang akan mendorong seseorang membersihkan akidahnya dari segala bentuk kemusyrikan sehingga hati dan pikirannya semakin tergantung hanya kepadaNya pada setiap langkah hidupnya. Kecintaan kepada hal-hal lain hanyalah merupakan tetesan dari mahabbatullah. Mencintai seseorang istri/suami hanya karena cintanya kepada Alloh atau cinta karena agama. Cintanya kepada kekuasaan dan harta hanya karena cintanya kepada Alloh yang memberikan amanah kepada seseorang atau cinta karena amanah Alloh. Cintanya kepada alam dan segala isinya hanyalah karena cintanya kepada Alloh yang telah mengaruniakan dan mengamanahkan alam untuk dimanfaatkan untuk mewujudkan kesejahteraan hidup agar supaya semakin taqarrub dan bersyukur kepada Allah, atau cinta karena amanah dan karunia Allah. Mencintai Alloh membuahkan keridhoan Alloh SWT, itulah tujuan hidup manusia.

Oleh: Ustadz Aris Budiyanto, S.Pd. (Pengurus LDSI Banjarnegara)

sumber: solusi.info

News Feed