TATA KRAMA KEPADA NABI MUHAMMAD S.A.W ( RUUI )

by admin
1 views

SoluSI.info – Pada edisi ini, Lembaga Dakwah Syarikat Islam (LDSI) Banjarnegara akan membahas penjelasan tentang Reglemen Umum Bagi Umat Islam, Bab Pedoman Umum Bagi Kehidupan Sosial (Idjtima’)

Hormat Kepada Nabi.
Di dalam Tiga Belas Mabda’ Kepribadian (Jatidiri) Kader Mujahid Syarikat Islam pada nomor sebelas yaitu Tha’atullah wa Ar-Rasuul wa ‘adam al Ma’shiyah artinya dengan taat kepada Alloh dan Rasul-Nya dan tidak maksiyat melanggar ketentuan Alloh dan Rasul-Nya, karakter ini yang harus tertanam pada seoarang mujahid sebab dengan itho’ah ini akan memancarkan cahaya kebersihan pada akidah, fikrah dan amal dakwah dan jihad yang menjamin keberhasilan perjuangannya. Begitu ketaatan dilanggar, maka seseorang hilang dari cahaya iman dan masuk pada kegelapan jalan syaithon (sistem thoghut). Ia kehilangan cakrawala untuk melihat masa depan dan berjalan tanpa orientasi yang kemudian hilang peran sebagai mujahid penegak keadilan. Ia berjuang bukan untuk kepentingan umat, tetapi berjuang untuk kepentingan dirinya (al hawa) meskipun selalu menyatakan berjuang untuk umat islam.
Ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya dapat ditunjukkan dengan cara berperilaku dan berbudi pekerti kepada Nabi Muhammad SAW dengan benar. Tata cara berperilaku dan berbudi pekerti dapat diartikan dengan istilah tata krama. Allah telah menunjukkan kepada hamba-Nya bagaimana tata krama yang benar kepada Nabi Muhammad SAW yaitu:

Pertama, Janganlah kamu mendahului di hadapan Alloh dan Nabi Muhammad SAW.

Allah berfirman di dalam Q.S. al-Hujurat: 1
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”.
Ulama memaknai ayat tersebut melarang para sahabat Nabi SAW untuk melangkah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Jangan menetapkan hukum, jangan berucap tentang sesuatu sebelum ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Penyebutan nama Allah bergandengan dengan nama Rasul-Nya bertujuan menggambarkan bahwa mendahului Rasul-Nya sama dengan mendahuluhi Allah, sebagaimana taat kepada Rasul adalah ketaatan kepada-Nya.
Ayat ini merupakan tuntunan kepada kaum muslimin tetang bagaimana seharusnya bersikap kepada Nabi Muhammad SAW. Sedemikian berhati-hati sampai-sampai jika beliau bertanya kepada sahabat beliau: “Bulan atau kota apa ini?” Mereka menjawab: “Alloh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Ketika Nabi SAW mengutus sahabat beliau, Mu’adz Ibn Jabal, ke Yaman, beliau bertanya: “Bagaimana engkau menetapkan hukum?” Mu’adz menjawab: “Dengan kitab Allah.” Lalu Nabi bertanya: Bila engkau tidak temukan (dalam al-Qu’ran)?” Dia menjawab: “Dengan sunnah Rasulullah.” Nabi bertanya lagi: “Bila engkau tidak temukan?” Mu’adz menjawab: “Aku dengan sungguh berijtihad (menggunakan nalar dengan berpedoman pada prinsip-prinsip yang terdapat dalam al-Qu’ran dan as-Sunnah). ”Mendengar jawabannya itu, Rasulullah SAW memukul-mukul dada Mu’adz (pertanda gembira) dan bersabda; “Alhamdulillah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasul Allah sebagaimana diridhai oleh Rasulullah” (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan lain-lain melalui Mu’adz Ibn Jabal). Dari hadits ini, terlihat bahwa ayat di atas bukannya menutup pintu bagi adanya penetapan hukum di luar al-Qu’ran dan as-Sunnah bila hal tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip yang ditemukan dalam al-Qu’ran dan hadist yang shahih.

Kedua, Jangan kamu mengangkat/mengeraskan suara di atas suara Nabi Muhammad SAW.

Allah berfirman didalam Q.S. al-Hujurat: 2
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat suara kamu di atas suara nabi, dan jangan kamu memperjelas kepadanya ucapan sebagaimana jelasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amal-amal kamu sedangkan kamu tidak menyadari”.
Ayat di atas turun berkaitan dengan kedatangan Bani Tamim yang berteriak-teriak agar Nabi SAW menemui mereka pada waktu istirahat beliau di siang hari. Diriwayat yang lain, ayat di atas turun menyangkut diskusi panas antara Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar ra mengenai serombongan dari Bani Tamim yang datang menghadap Nabi SAW. Sayyidina Abu Bakar ra mengusulkan kepada Rasulullah agar beliau menetapkan al-Qa’qa Ibn Ma’bad Ibn Zurarah sebagai pemimpin mereka, sedangkan Sayyidina Umar ra mengusulkan al-Aqra’ Ibn Habis. Suara kedua sahabat besar Nabi SAW itu meninggi dan sikap mereka itulah yang dikomentari ayat di atas. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa, setelah turunnya ayat ini, Sayyidina Umar ra. Tidak berbicara di hadapan Nabi SAW kecuali dengan suara perlahan sampai-sampai Nabi SAW sering bertanya (karena tidak mendengarnya). Dan diriwayatkan al-Hakim dinyatakan bahwa Sayyidina Abu Bakar ra bersumpah di hadapan Nabi Muhammad SAW: “Demi Allah yang menurunkan al-Qur’an bahwa beliau tidak akan bercakap dengan Nabi SAW kecuali seperti percakapan seseorang yang menyampaikan rahasia kepada rekannya”. Ayat ini menggarisbawahi salah satu aspek pengagungan kepada Nabi SAW, yakni dalam tata krama berbicara dengan beliau. Hal ini juga tidak berarti larangan mengeraskan suara pada saat-saat dibutuhkan, misalnya adzan, atau pengumuman tentang sesuatu, seperti halnya al-Abbas paman Nabi SAW yang mempunyai suara keras sehingga beliau diperintahkan Nabi saw untuk berteriak guna memberi informasi kepada pasukan pada saat-saat kemelut dalam perang Hunain.

BACA JUGA:   Penyerahan Bantuan Pakaian Seragam dari DPP Syarikat Islam kepada SMA dan SMP Cokroaminoto Makassar, 14 September 2021

Ketiga, Jangan kamu memperjelas kepadanya ucapan sebagaimana jelasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain.

Ulama memahami dalam arti jangan memanggil beliau seperti sebagian kamu terhadap sebagian yang lain. Misalnya memanggil Nabi saw. dengan panggilan Ahmad, Muhammad dan sebagainya. Panggillah beliau dengan panggilan penghormatan sebagaimana Alloh memanggil beliau, yakni Ya Ayyuhan Nabiyy, Ya ayyuhar Rasul. Ini sejalan dengan firman Allah di dalam Q.S. an Nur: 63
لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)”
Dampak positif yang dapat diraih oleh orang yang memiliki tata krama kepada Nabi SAW, yaitu dibersihkan hatinya lalu dimasukkan takwa di dalam hatinya, mendapatkan ampunan dan pahala yang besar. Firman Alloh Q.S. al-Hujurat: 3
اِنَّ الَّذِيْنَ يَغُضُّوْنَ اَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ لِلتَّقْوٰىۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara mereka di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk takwa, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Ayat ini memberikan penegasan bahwa hanya orang-orang yang senantiasa merendahkan suara mereka di sisi Rasulullah, didorong oleh motivasi penghormatan dan pengagungan terhadap beliau, mereka itulah yang sungguh tinggi kedudukannya, mereka yang telah diuji hati mereka yakni dibersihkan oleh Alloh untuk menjadi wadah takwa sehingga ia memiliki potensi yang sangat besar untuk terhindar dari macam bencana duniawi dan ukhrawi.
Dampak negatif yang menimpa orang yang tidak memiliki tata krama kepada Nabi saw yaitu terhapusnya amal dan terlepasnya dari predikat hamba yang baik. Bersuara keras yang mengandung makna tidak mengagungkan Nabi saw. dapat mengantar kepada kegersangan hati sehingga dapat mengakibatkan lunturnya akidah. Orang yang mengabaikan tata krama kepada Nabi saw sedikit demi sedikit mengundang kebiasaan lalu meningkat kepada mempersamakan Nabi SAW dengan manusia biasa, dan ini meningkat lagi kepada mengkritik pribadi beliau yang akhirnya melecehkan dengan pelecehan yang mengakibatkan kekufuran dan terhapusnya amal, sesuai firman Allh Q.S. al-Hujurat:2: “supaya tidak hapus amal-amal kamu sedangkan kamu tidak menyadari”. Dampak negatif selanjutnya adalah tidak dimasukkan dalam predikat umat yang baik sebagaimana dalam firman Alloh di dalam Q.S. al-Hujurat: 4
اِنَّ الَّذِيْنَ يُنَادُوْنَكَ مِنْ وَّرَاۤءِ الْحُجُرٰتِ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ . وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Sesunggunya orang-orang yang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar, kebanyakan mereka tidak mengerti, sedang kalau sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, pastilah baik bagi mereka dan Alloh Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”
Ayat di atas turun menegur sekelompok dari Bani Tamim yang datang menghadap Nabi SAW pada tahun 9 H. Mereka berjumlah tujuh puluh orang atau lebih, Mereka datang di siang hari bolong sambil berteriak dari luar kamar Nabi saw. sambil berkata: “Hai Muhammad, keluarlah menemui kami, memuji kami adalah baik dan mencela kami adalah buruk.” Padahal ketika itu Rasul saw. sedang beristirahat. Ayat di atas memberkan pelajaran bahwa: Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu, yakni orang yang telah memangglmu, dari luar kamar-kamar kediamanmu, kebanyakkan mereka tidak mengerti etika dan tata krama penghormatan. Sedang kalau sekiranya mereka tidak memanggil-manggilmu dan bersabar menanti sampai engkau keluar atau pada waktu yang engkau pilih untuk menemui mereka, maka pastilah penantian itu baik atau lebih baik bagi mereka. Tetapi sayang, mereka tidak bersabar sehingga mereka tidak memperoleh yang baik atau lebih baik. Namun demikian Alloh tidak menyiksa mereka karena Allah Maha Penyantun dan Alloh Maha Pengampun bagi yang bertaubat Lagi Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya yang taat.
Fonemena zaman terulang kembali ketika di zaman Nabi SAW sebagian umat yang belum terdidik budi pekertinya sehingga tidak dapat menggunakan tata krama kepad Nabi SAW dengan benar. Pada zaman sekarang dimana kebebasan berbicara yang terpolarisasi paham sekularime-liberalisme yang memberikan panggung kepada orang-orang yang mendengki dan terus menyerang Islam. Mereka dilindungi oleh berbagai peraturan dan orang-orang yang bersekongkol dengan mereka. Ketahuilah mereka tak akan pernah berhenti melakukan penyerangan terhadap agama ini. Kedengkian yang tersimpan dalam hati mereka jauh lebih besar lagi. Sebagaimana firman Alloh: 118
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُ ۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.“
Agama ini sungguh tak akan dapat terlindungi jika umat tak memiliki pelindung yang kuat. Dulu Khilafah Utsmaniyah sanggup menghentikan rencana pementasan drama karya Voltaire yang akan menista kemulian Nabi SAW Saat itu Sultan Hamid II langsung mengultimatum Kerajaan Inggris yang bersikukuh tetap akan mengizinkan pementasan drama murahan tersebut. Sultan berkata: “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!” Kerajaan Inggris pun ketakutan. Pementasan itu dibatalkan.
Pendidikan kepada umat tentang pentingnya tata krama kepada Nabi saw. harus terus ditanam dan ditumbuh kembangkan sehingga membuahkan generasi yang cinta kepada Alloh, cinta kepada Nabi SAW, dan cinta kepada perjuangan Islam.

BACA JUGA:   Pembukaan Musyawarah Kerja Nasional ke V Syarikat Islam

Oleh : Aris Budiyanto, S.Pd.- Pengurus LDSI Kabupaten Banjarnegara

Editor : kangtangin

sumber: solusi.info

You may also like

Chat sekarang
Punya Berita Seputar SI? Klik Disini