by

Jejak KH Ahmad Dahlan di Syarikat Islam

Print Friendly, PDF & Email

Jejak KH Ahmad Dahlan di Syarikat Islam ditulis oleh M. Anwar Djaelani, peminat sejarah dan masalah sosial.

PWMU.CO – Ide pembaharuan Islam dari pemikir di Timur Tengah-seperti Jamaluddin Al-Afghani-banyak memengaruhi pemuka Islam di Indonesia. Di antara yang terpengaruh dan lalu membangun organisasi dengan semangat pembaharuan adalah HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan.

Tjokroaminoto (1882-1934) mulai memimpin Syarikat Islam pada 10 September 1912. Sebelumnya, Syarikat Islam bernama Syarikat Dagang Islam yang sejak berdiri pada 1905 dipimpin oleh H. Samanhudi, seorang pedagang sukses).

Sementara, KH Ahmad Dahlan (1868-1923) mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Sejak saat itu beliau memimpin Muhammadiyah sampai wafat pada 1923.

Hal yang menarik, ternyata Ahmad Dahlan pernah juga aktif di Syarikat Islam. Di titik ini, kita semakin mantap dalam mencerna keteladanan dalam hal yang satu ini: bahwa Ahmad Dahlan gemar mencari ilmu dan pengalaman, termasuk lewat aktif di berbagai organisasi. Beliau, selain di Syarikat Islam, tercatat pernah aktif pula di Budi Utomo dan Jamiat Khair

Tjokroaminoto yang Fenomenal

Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882. Oemar Said Tjokroaminoto, nama aslinya. Lazim ketika itu, sepulang menunaikan haji nama seseorang lalu ditambahi gelar H(aji). Begitu juga yang terjadi dengan munculnya nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto, disingkat HOS Tjokroaminoto.

Tjokroaminoto bukan pribadi pasif dan mengabaikan situasi dan kondisi yang dihadapi bangsanya. Tetapi, dia responsif, kritis, serta solutif.

Tjokroaminoto hadir bersamaan dengan kemunculan kesadaran nasional masyarakat Indonesia. Kesadaran tersebut tampak dari lahirnya berbagai organisasi pergerakan, baik di bidang politik maupun kultural. Kemunculan kesadaran tersebut memperlihatkan terjadinya arus nilai-nilai pencerahan bagi setiap figur pergerakan nasional masa itu.

Cermatilah, fakta sosiologis yang positif berikut ini. Tjokroaminoto berlatar belakang keluarga bangsawan. Ayahnya pejabat, yaitu seorang wedana. Artinya, Tjokroaminoto berasal dari sebuah keluarga yang punya kedudukan terhormat di tengah-tengah masyarakat.

Sejak lahir dia menyandang gelar, tertera di namanya, yaitu Raden Mas Umar Said. Namun, setelah menunaikan ibadah haji, gelar Raden Mas tersebut justru dihilangkan. Beliau lebih suka memakai nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Langkah menghilangkan gelar kebangsawanan itu mempertegas bahwa figur Tjokroaminoto keluar dari budaya atau tradisi feodalisme Jawa yang amat kental di masa itu (Wachid Hasyim, 2018: h. 80-81).

Hal yang pasti, Tjokroaminoto sangat berjasa lewat kiprahya bersama Syarikat Islam yang dipimpinnya. Dia “Peletak Dasar Perubahan Sosial-Politik di Indonesia,” kata sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara.

Tentang Syarikat Islam

Mari buka Anggaran Dasar Centraal Sarekat Islam (CSI) 1916. Tentang “Nama, kedudukan, dan lama waktu”. Pasal 1: Perkumpulan menggunakan nama “Centraal Sarekat Islam” berkedudukan di ibukota Surakarta, Karesidenan Surakarta, dan didirikan untuk masa dua puluh sembilan tahun terhitung sejak tanggal diperolehnya persetujuan Yang Mulia Gubernur Jenderal Hindia Belanda atas Anggaran Dasar ini.

Tentang “Tujuan dan lingkup pekerjaan”. Pasal 3: Tujuan perkumpulan adalah a) Meningkatkan pembentukan perkumpulan, menaikkan kehidupan spiritual dan kemasyarakatan penduduk bumiputra.

Anggaran Dasar-nya sesuai dengan hal yang ditentukan dalam pasal 3 mengenai itu. b) Memberikan nasihat dan bantuan kepada perkumpulan sejenis dalam usaha mencapai tujuannya. c) Membentuk dan memelihara sentuhan dan kerjasama antara perkumpulan sejenis.

Tujuan ini dicoba mencapainya dengan segala cara, yang tidak bertentangan dengan hukum, moral yang baik, dan ketenteraman umum.

Sementara, di “Statuten Perhimpoenan Centraal Sarekat Islam” yang dibuat di Surabaya pada 26 Juli 1915, ada nama Ahmad Dahlan. Di susunan pengurus tertulis bahwa Ahmad Dahlan sebagai penasihat. Nama dia dilengkapi dengan profesinya sebagai guru agama (A.P.E. Korver, 1985: h. 212 dan 220).

Sejak kapan Ahmad Dahlan aktif di Syarikat Islam? Mengutip Engelenberg, A.P.E. Korver (1985: h. 248) mencatat bahwa pada 1913 Ahmad Dahlan sudah menjadi komisaris dalam kepengurusan Centraal Syarikat Islam.

Apa sebab performa Syarikat Islam mendapat apresiasi yang bagus dari masyarakat? Ada bermacam-macam faktor yang menjadikan Syarikat Islam sebagai suatu gerakan Islam yang sangat disukai rakyat. Di antaranya, faktor propaganda (istilah propaganda dipilih oleh A.P.E Korver (1985: h. 192).

Propaganda merupakan faktor penting bagi meluasnya secara cepat Syarikat Islam di Indonesia. Dalam hal ini, penting sekali dicermati peranan yang dimainkan oleh para pemimpin (agama) sebagai propagandis. Mereka seringkali melakukan perjalanan propaganda ke seluruh Jawa dan daerah-daerah luar Jawa. Pihak lain yang turut secara positif dalam propaganda itu adalah golongan sosial tertentu, seperti pedagang dan pegawai rendah.

Ahmad Dahlan; Pedagang dan Pendakwah

Aktivitas Ahmad Dahlan sungguh banyak dan padat. Kecuali sebagai guru agama / da’i, beliau juga seorang pedagang batik. Sering, kedua aktifitas itu dijalankannya secara bersama-sama.

Di aspek ekonomi, Ahmad Dahlan dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup sukses dengan batik-nya. Memang di kala itu berdagang batik merupakan profesi lumrah di Kauman, lingkungan tempat tinggal Ahmad Dahlan di Yogyakarta.

Sambil melakukan aktifitas berdagang batik, Ahmad Dahlan selalu menyempatkan diri untuk berdakwah. Lihat, misalnya, saat beliau berdagang batik di kota-kota Jawa Timur seperti di Ponorogo, Blitar, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, Sumber Pucung, dan Kepanjen (dua daerah yang disebut terakhir adalah bagian dari Kabupaten Malang).

Tercatat, dakwah-dakwah Ahmad Dahlan mendapatkan sambutan yang baik. Selanjutnya, tidak sedikit yang bersimpati kepada sosok Ahmad Dahlan, baik sebagai pedagang maupun sebagai pendakwah.

Di kemudian hari, mereka yang bersimpati kepada Ahmad Dahlan lalu merintis berdirinya Muhammadiyah di tempat mereka masing-masing. Misalnya, lalu berdiri ranting Muhammadiyah di Sumber Pucung, Malang.

Ranting itu didirikan oleh keluarga Mataram (sebutan untuk orang-orang Yogyakarta yang bertempat tinggal di Sumber Pucung). Begitu juga yang terjadi di Kepanjen, Malang, Ponorogo, Blitar dan sebagainya (Heri Sucipto, 2010: h. 65).
Sekarang, kita lihat di Kepanjen, Malang.

Di sana, banyak bermukim pedagang batik yang mempunyai hubungan dengan pusat batik besar di Surakarta dan Yogyakarta. Ahmad Dahlan—pendiri dan pemimpin Muhammadiyah sekaligus pemuka Syarikat Islam—sering mengunjungi Kepanjen.

Kunjungannya itu tidak hanya untuk urusan dagang, tetapi juga untuk mengurus bermacam-macam persoalan organisasi. Memang, periode terjadinya sesudah 1920, tetapi tidak terdapat alasan untuk menerima situasi yang demikian itu tidak terjadi sebelum waktu itu. Dalam 1913, sudah terdapat cabang Syarikat Islam di Kepanjen, Malang (A.P.E. Korver, 1985: h. 192)

Demikianlah, ide pembaharuan Islam telah mencatatkan jejak positif di bumi Indonesia. Tjokroaminoto dengan Syarikat Islam-nya dan KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya atau kiprah Ahmad Dahlan saat juga aktif di Syarikat Islam sungguh merupakan teladan yang sangat baik untuk kita contoh.

Maka, kepada kedua Pahlawan Nasional itu kita patut berterima kasih. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel Jejak KH Ahmad Dahlan di Syarikat Islam adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 23 Tahun XXV, 26 Februari 2021/15 Jumadits Tsania 1442.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

sumber: pwmu.co

News Feed