by

Surat Kabar Teradjoe di Tengah Arus Pergerakan Kebangsaan Palembang (Bagian Kedua)

Print Friendly, PDF & Email

Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

MINGGUAN Mingguan umum Teradjoe yang lahir pada Maret 1919 itu digawangi trio jumalis pergerakan di Palembang.

Raden Nangling bertindak sebagai Direktur (Raden Nangling juga menjabat Ketua SI Palembang) , RM Zen jadi Redaktur, sedangkan jabatan Administrateur dipegang TE Zahidal Abidin.

Lahir di tepian Sungai Musi, kantor suratkabar Teradjoe beralamat di 17 Ilir Sajang Weg (sekarang Pasar Sayangan) Palembang.

Tarif berlangganan Teradjoe per-triwulan adalah f 1,50 di dalam wilayah Hindia Belanda dan f 2 bagi pembaca di mancanegara.

Jika pembaca mau beriklan, harga untuk itu ditetapkan tiap-tiap kata, yaitu 6 cent per kata di mana untuk sekali muat, iklan tidak boleh kurang dari f 1,50. Satu lagi, biaya advertentie wajib dibayar di muka.

Kendati Teradjoe merupakan organ SI di Palembang, mingguan ini tetap memperlihatkan sikap profesionalnya.

Semua pelanggan, baik anggota SI maupun yang bukan, dibebani tarif yang sama tanpa kecuali.

Dari segi isi pun Teradjoe cukup proposional, tak harus terjebak melulu pada propaganda SI.

Media ini bercorak kerakyatan dan bertujuan mulia: berjuang demi kemajuan bangsa.

Sarekat Islam memang punya memori indah di Palembang. Wilayah ini adalah salah satu dari sedikit SI lokal di Sumatera yang tetap bersetia kepada HOS Tjokroaminoto selaku pemimpin pusat SI.

Pasalnya, sebagian besar afdeeling SI Sumatera lebih condong pada Raden Goenawan, Wakil Ketua SI Pusat dan pemimpin SI Batavia, yang berupaya menggoyang kemapanan Tjokro dengan mendirikan SI tandingan bersama cabang-cabang SI Sumatera dan SI Batavia serta Jawa Barat pada Desember 1915.

Sebagai langkah antisipasi, Tjokro mengadakan tur propaganda ke Palembang. Hasilnya, SI Tjokro tetap utuh dan itulah pembuktian loyalitas SI Palembang terhadap pemimpin besarnya tersebut.

Apalagi dalam waktu relatif singkat Sarekat Islam atau di singkat SI berhasil tampil sebagai gerakan sosial-politik yang sangat dinamis. Organisasi ini mampu merekrut pengikut dari berbagai kalangan bahkan sampai pelosok daerah pedalaman Palembang.

BACA JUGA:   Menengok Rumah Eyang Tjokro di Peneleh

Kepengurusan SI Palembang sendiri baru tersusun secara resmi pada bulan Januari 1914 di mana Raden Nangling yang juga seorang pedagang kaya dan pemilik Hotel Nangling di Kota Palembang, dipilih sebagai ketuanya, Cik Entik Zainal Abidin diangkat sebagai Wakil Ketua, Abdul Karim dari perkumpulan Al-Ihsan menduduki jabatan Sekretaris.

SI sendiri dapat menjalar sampai merata meliputi hampir seluruh daerah di Sumatera Selatan. Tanyakanlah kepada setiap orang tua kita yang masih hidup didesa-desa itu, tentu akan mendengar jawaban bahwa ia juga dulu menjadi salah seorang anggota Sarekat Islam.

Amat jarang sekali yang mengatakan tidak. Tanyakanlah misalnya apa yang menjadi tujuan Sarekat Islam itu, juga akan dijawabnya bermaksud mengusir pemerintahan Kafir Belanda.

Dengan begitu dapatlah diambil kesimpulan betapa benar meluasnya gerakan organisasi Sarekat Islam tersebut, padahal sebenarnya tidak begitu mudah bagi partai ini untuk menerima seseorang menjadi anggota, kecuali setelah betul-betul keyakinan dan kepercayaannya terhadap Islam dan organisasi, diuji.

Tidak hanya sampai kesitu saja, tetapi juga setiap calon anggota harus disumpah dulu dihadapan nama Tuhan.

Namun masuknya Sarekat Islam ke Palembang ada beberapa sumber seperti pada tahun 1913 Tokoh Sarekat Islam Oemar Said Tjokroaminoto memperkenalkan Sarekat Islam kepada Al-Insan dan Tjahja Boediman yang ada di Kota Palembang.

Al-insan merupakan sebuah organisasi kelompok Arab yang dibentuk pada tahun 1907, yang khusus bergerak dalam bidang tolong menolong dan dalam bidang pendidikan.

Sekolah yang didirikan organisasi ini berada di perkampungan Arab, 10 Ilir Kota Palembang dan berfungsi juga sebgai kantor koperasi simpan-pinjam.

Tjahaja Boediman sendiri adalah organisasi sosial yang didirikan oleh sekelompok pedagang Bumiputra pada tahun 1912 yang memiliki beberapa kesamaan tujuan dengan organisasi Al-Insan.

Tjahaja Boediman juga sebagai penerbit surat kabar Warta Palembang serta bergerak dalam bidang pendidikan agama Islam dan memberikan bea siswa bagi anank-anak berprestasi dari kelompoknya (Mustika, 2003:126).

Tujuan SI sebenarnya cukup sederhana sebagaimana dikutip oleh sumber Belanda di Palembang “…het doel der vereeniging heette te wezen algehele verbroedering der z.g. ‘koelit hitam(pribumi)”

BACA JUGA:   Surat Kabar Teradjoe di Tengah Arus Pergerakan Kebangsaan Palembang (Bagian Terakhir)

Pesan yang terkandung di dalam surat edaran yang dikeluarkan SI Palembang di atas memang menawarkan hal yang menarik. Pertama tawaran pembebasan atau peringanan pajak (belasting) dan “kerja rodi” (heerendiensten) kepada setiap anggota SI jelas berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat perdesaan. Kedua, istilah “persaudaraan” (verbroedering) yang akan memberikan bantuan keuangan kepada setiap anggota SI yang terkena musibah kematian, bencana alam, dan sebagainya jelas amat menjanjikan.

Setiap anggota SI yang melakukan perjalanan ke seluruh daerah Hindia Belanda atau ke luar negeri akan diterima sebagai “tamu” terhormat; “gratis makan dan tempat menginapnya,” Tujuan lainnya adalah “untuk perbaikan moral penduduk dan memberi perlindungan terhadap segenap anggota dari ketidakadilan atau kesewenang-wenangan, seperti pemerasan dan sebagainya. SI akan membantu dengan memberi penerangan hukum dan menyalurkan keluhan anggota lewat prosedur hukum yang benar.”

Tujuan yang dikedepankan oleh organisasi baru itu memang memikat banyak orang, kendati ada sedikit perbedaan dalam memahami propaganda SI.

Namun secara keseluruhan SI menawarkan beberapa hal yang dianggap menguntungkan anggotanya.

Seperti tercermin dari propaganda di atas, SI hadir dengan gagasan baru yang mampu mempersatukan solidaritas kelompok lebih luas demi kepentingan anggota. SI berupaya membentuk semacam solidaritas bersama dengan batasan yang tegas sebagaimana tercermin dalam kata-kata “kita” atau “kulit hitam” (bumiputra) dihadapkan dengan kata-kata “mereka,” “orang asing” atau “kulit putih. ***

Sumber:

1. Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Taufik Rahzen, Muhidin M Dahlan, dkk, Iboekoe IBOEKOE, Desember 2008
2. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta, April 2003
3. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
4. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi Jakarta, Agustus 1954

sumber: palpres.com

News Feed