by

Polemik Tahura Abdul Latif, Semmi Angkat Bicara

Print Friendly, PDF & Email

Faktual.Net, Sinjai, Sulsel, Terkait dengan polemik di pembangunan Tahura Abdul Latif Desa Batu Belerang, Kecamatan Sinjai Borong yang masih terus saja bergulir hingga saat ini, menimbulkan banyak komentar dari berbagai pihak.

Baik dari kalangan masyarakat, mahasiswa hingga akademisi, seperti Muhlis Hajar Adiputra, akademisi senior Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSI). Dirinya menuturkan, seharusnya Pemerintah dan Aliansi Tahura Menggugat (ATM) duduk bersama mencari solusi terbaik dengan cara berdialog.

“Kalau dijadikan sebagai bumi perkemahan itu memang tidak sesuai dengan peruntukannya, tingkat resiko perjalanan ke sana itu tinggi, baik keatas maupun pulangnya dan juga kalau dibangun jalur sepeda, itu kan hanya untuk segelintir orang saja,” katanya. (03/02/2021)
Baca Juga :  Panglima dan Kapolri Hari Ini Akan Tinjau Vaksinasi di Bandung, Kudus dan Bangkalan
Dia melanjutkan, pembangunan seperti ini perlu dianalisis bukan sekedar membangun saja.

“Saya memandang tidak layak Tahura dijadikan bumi perkemahan apalagi membuat jalur sepeda karena disana itu adalah daerah penyangga yang kanan kirinya merupakan sumber mata air yang perlu dijaga dengan tentunya pembangunannya boleh saja namun bersifat ekologis,” jelasnya, dilansir di salah satu media.

Menanggapi hal itu, Yusri selaku Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Sinjai. Kamis, (04/02/2021).

Menurutnya pembangunan Tahura terlalu dipolitisir oleh pemerintah daerah, sehingga cenderung mengabaikan kajian-kajian ilmiah terkait fungsi ekologis. Respon terhadap penolakan juga mengabaikan upaya penyelesaian konflik yang bertanggung jawab bahkan cenderung menimbulkan konflik horizontal.

BACA JUGA:   SEMMI SUMATERA UTARA Mengucapkan Selamat HUT DPP KNPI KE 48 Tahun

“Sebagai mahasiswa yang mencintai daerah setempat, saya merasa oknum yang mendukung pembangunan bumi perkemahan dan trek sepeda itu keliru, atau belum memahami substansi dari kawasan konservasi, sehingga dapat menimbulkan persepsi bahwa dukungan tersebut entah sesuai nurani mereka atau justru diolah oleh kekuasaan” jelasnya, tegas.

Baca Juga :  Polemik Bongkar Tower, Diskominfo Sinjai: Adakah Rekomendasi Tertulisnya Kejaksaan?

Dimana-mana kata Yusri, pembangunan itu demi kesejahteraan masyarakat. Hanya saja, bagi Yusri, mengutamakan lingkungan adalah mutlak untuk kehidupan berkelanjutan.

BACA JUGA:   Tantangan Debat Dicueki, Mahasiswa Akan Ramai-ramai Sambangi Kantor Dan Rumah Luhut

“Mendukung pembangunan bumi perkemahan dan trek sepeda adalah hal yang biasa, berbeda pendapat itu lumrah tapi saya pikir perlu direnungkan kembali sebab bumi ini adalah rumah bersama mahkluk ciptaan Allah,” tutur Yusri menanggapi,

Editor :Dzul

sumber: faktual.net

News Feed