Home Berita Umum Masuk Bursa Calon Ketua MUI Jabar, Berikut Profil KH. Abun Purwakarta

Masuk Bursa Calon Ketua MUI Jabar, Berikut Profil KH. Abun Purwakarta

by admin
4 views

POJOKJABAR.com– Nama Ketua Umum MUI Jabar saat ini, Prof. Dr. KH. Rachmat Sjafei dan Ketua Umum MUI Kabupaten Purwakarta, KH. Abun Bunyamin meramaikan bursa calon ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar dalam Musda MUI Jabar, Selasa-Kamis, 26-28 Januari 2021 mendatang.

Hal itu dibenarkan Ketua Umum Syarikat Islam (SI) Jabar, KH. Nandang Koswara, dan perwakilan Mathla’ul Anwar (MA) Jabar, Ustaz Abdul Azis, saat berada di arena Musda MUI Jabar, Hotel Grand Asrilia, pada Selasa, 26 Januari 2021 kemarin.

Berikut ini profil KH. Dr. Abun Bunyamin, MA yang berhasil dihimpun redaksi Pojokjabar.com.

Dilansir dari laman NU.or.id, KH. Dr. Abun Bunyamin, MA. merupakan sosok santri yang takzim kepada kiainya, tak berhenti setelah ia pulang dan mukim. Rasa takzim itu melekat selama hidupnya.

Kiai Abun selalu memperlihatkan kebaikan dan jasa para guru, selalu disebut-sebut dalam berbagai kesempatan.

Ia tak pernah melupakan jasa para kiai yang telah megajarnya, terutama para masyayikh Cipasung. Bahkan dalam perhelatan besar Rapat Pleno PBNU setahun yang lalu (20/09), Kiai Abun tanpa ragu menyebut jasa para gurunya itu.

KH. Dr. Abun Bunyamin, MA., saat ini dikenal sebagai pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta. Salah satu pesantren terbesar dengan 6.000 santri dan 6.00 orang guru.

Dengan kemajuan seperti ini, ternyata Kiai Abun tak pernah melupakan gemblengan para gurunya di Pesantren Cipasung.

Sebelum mengaji di Cipasung, ia sudah menjelajah di sejumlah pesantren, antara lain Pesantren Hidayatul Muta’allimin (Majalengka), Al-Falah dan Santiong (Cicalengka), Sukamiskin (Bandung), dan Riyadlul Alfiyyah Sadang (Garut).

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* Jumat, 3 September 2021 Pukul 16.00 - 16.40 WIB Program Salam Satu Hati

Kiai Haji Abun lahir pada 4 April 1954, ia bernama Muhammad Tamrin. Tapi saat masuk SD berubah menjadi Ade Bunyamin dengan panggilan Amin. Dari mulai sebagai santri biasa, Amin kemudian menjadi Ketua Asrama Pusaka dan puncaknya menjadi seksi muballlighin yang membawahi seluruh asrama di Cipasung.

Saat di Cipasung, Amin menemukan kedewasaan dan arah hidup yang lebih pasti. Ia masih sempat mengaji sebentar kepada Abah Ruhiat.

Amin selalu melaksanakan ijazah doa yang diberikan, yaitu shalat di awal waktu, membaca Al-Fatihah untuk Abah, dan membaca AlQuran 50 ayat setiap hari. Menurut Abah Ruhiat, hal itu agar ilmu yang dipelajari manfaat dan penuh berkah.

Dengan Kiai Ilyas Ruhiat, selain sebagai guru, Amin juga menganggapnya sebagai mentor yang mengarahkan jalan hidupnya. Masih segar dalam ingatannya sapaan Ajengan Santun dari Cipasung itu, “Min, lagi apa? Dari mana?” Kesantunan yang selalu tunjukkan kepada para santri.

Pernah suatu hari Amin kepergok sedang-sedang senyum-senyum sendiri di lantai dua gedung PTI (sekarang Gedung IAIC). Ajengan Ilyas mengagetkannya,

“Ada apa, Min?”

Dengan malu-malu ia menjawab, “Ini Pak, saya lulus ujian PGA 6 Tahun.” Ya, waktu itu memang ia baru saja menerima pemberitahun lulus ujian persamaan PGA 6 tahun dari Sumedang.

Kelulusan itu sangat menyenangkannya karena akan memperlancar proses studi selanjutnya. Saat itu sebenarnya Amin telah tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Ilmu Agama Cipasung.

BACA JUGA:   Yus Hanafi Siregar mengucapkan selamat Milad ke-116 Syarikat Islam

Ajengan Ilyas menganggapnya sudah layak untuk ikut kuliah sekalipun belum mendapatkan ijazah SLTA. Karena itulah ia perlu mengikuti ujian persamaan PGA 6 tahun.

Dari sosok Ajengan Ilyas ini, Amin melihat bagaimana sebuah pesantren dikelola dan dibesarkan. Pesantren Cipasung telah ditempa melalui semua tantangan zaman; penjajahan Belanda, Jepang, revolusi fisik, pemberontakan DI/TII, Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi.

Semua era itu membawa konsekuensi berbeda-beda. Tapi semua dinamika zaman itu berhasil dilalui dengan baik dan menorehkan prestasi.

Kiai Abun Purwakarta tidak hanya menghormati guru-gurunya, tetapi juga para putra gurunya di Cipasung. Saat memberikan sambutan dalam Rapat Pleno PBNU itu, secara khusus dia menyebut nama KH Abun Bunyamin Ruhiat.

Keduanya berkawan baik sejak di pesantren. Selayaknya santri, tentu saat itu Amin sering disuruh-suruh bahkan tak jarang dimarahi.

“Saya yang membawakan tasnya saat berangkat kuliah,” tutur Kiai Abun. ”Saya juga sering dimarahi. Alhamdulillah, berkah saya dimarahi, saya jadi maju. Kebaikan, kemajuan, ketinggian Pesantren Al-Muhajirin ini, tidak ada apa-apanya kecuali karena (berkah para guru) Pesantren Cipasung.”

Setelah mukim, Amin lebih dikenal sebagai KH Abun Bunyamin. Maka ada dua nama kiai yang sama. Sama-sama mengasuh pesantren besar. Yang satu Pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, yang satu lagi Pengasuh Pesantren Cipasung Tasikmalaya.

(Disarikan dari sambutan KH Abun Bunyamin dalam Rapat Pleno PBNU (20/09/2020) dan biografi KH. Dr. Abun Bunyamin, MA)

(mar/pojokjabar)

sumber: jabar.pojoksatu.id

You may also like

Open chat
Punya Berita Seputar Syarikat Islam? Kirim melalui link ini