by

Soekarno dan Pemikiran Islam

Print Friendly, PDF & Email

Apakah Soekarno bisa disebut sebagai seorang pemikir Islam? Pertanyaan ini tidak bermaksud untuk mengetahui apakah Soekarno seorang pemikir yang beragama Islam atau bukan. Pertanyaan itu bermaksud untuk mengetahui apakah Soekarno ikut terlibat memikirkan persoalan keislaman atau hal-hal lain dari sudut pandang pemikiran Islam. Dengan kata lain, apakah Soekarno adalah pemikir yang menjadikan Islam sebagai objek kajian atau kerangka berpikir?
Istilah “pemikir Islam” memiliki makna khusus yang berbeda dari ungkapan “pemikir Muslim” atau “Muslim” saja. Istilah “Muslim” mengacu kepada seseorang yang menganut Islam sebagai agama. Sementara itu, istilah “pemikir Muslim” mengacu kepada seseorang yang menjadi pemikir dan menganut Islam sebagai agama, tapi objek pemikirannya bisa jadi tidak terkait dengan Islam. Adapun istilah “pemikir Islam” mengacu kepada seorang pemikir yang menjadikan Islam sebagai objek pemikirannya.
Tentu, untuk mengetahui apakah seseorang adalah “pemikir Islam” atau bukan, sebelumnya, kita juga perlu mendefinisikan apa itu “pemikiran Islam”? Misalnya, kita perlu menjelaskan apakah sama antara Islam sebagai agama yang diimani dan Islam sebagai objek pemikiran, atau tidak sama? Apakah setiap orang yang beragama Islam pasti menjadikan Islam sebagai objek pemikiran? Atau, apakah setiap orang yang memikirkan Islam sebagai objek pemikiran sudah pasti beragama Islam?
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan posisi Soekarno sebagai seorang pemikir Islam. Dalam beberapa tulisan yang kemudian diterbitkan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menjadikan Islam sebagai topik pembahasan. Dalam ulasannya itu, baik sebagai nilai-nilai normatif maupun manifestasinya di dalam sejarah, Islam dipikirkan oleh Soekarno secara terbuka, dialogis, kritis sekaligus konstruktif.
Soekarno dan Pemikiran Islam (1)
Pemikiran Islam
Pemikiran Islam adalah telaah yang bersifat rasional tentang Islam dan masyarakat Muslim. Di dalamnya, tema-tema pokok yang dikaji meliputi penafsiran atas teks-teks otoritatif keislaman seperti al-Qur’an dan hadits, fiqh dan hukum Islam, teologi dialektis (ilmu kalam), falsafah, tasawuf dan gerakan pembaruan Islam. Tentu, ulasan dalam pemikiran Islam juga membahas keterkaitan antara satu tema dan tema lainnya. Misalnya, pembahasan tentang pembaruan Islam juga akan berbicara juga tengah pembaruan dalam bidang penafsiran al-Qur’an serta konstruksi baru wacana teologi dan pemikiran falsafi.
Dalam bidang interpretasi al-Qur’an, pemikiran Islam mengenal terminologi al-tafsir dan al-ta’wil. Istilah al-tafsir biasa dipahami sebagai cara atau praktek untuk memahami pesan-pesan al-Qur’an dengan berpijak terutama pada analisis kebahasaan. Sementara itu, istilah al-ta’wil berisi cara atau praktek untuk memahami pesan-pesan al-Qur’an dengan metode yang tidak hanya berpaku pada analisis kebahasaan. Dalam tradisi al-ta’wil ini, ada yang disebut tradisi al-ta’wil al-burhani (interpretasi rasional) dan al-ta’wil al-‘irfani (interpretasi mistik).
Dalam bidang fiqh, pemikiran Islam berfokus pada kajian atas teori hukum Islam. Di kalangan Sunni, terdapat empat madzhab utama, yaitu: Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali. Di kalangan Syi’i, ada beberapa madzhab juga, tapi biasanya secara keseluruhan sering disebut sebagai madzhab Ja’fari, nama madzhab yang dikaitkan dengan sosok Imam Ja’far al-Shadiq. Di antara madzab-madzhab itu, terdapat perbedaan teori dan metode dalam melakukan penalaran hukum sehingga kesimpulan-kesimpulan ijtihad hukum yang mereka buat juga berbeda satu sama lain.
Dalam bidang teologi dialektis atau ilmu kalam, pemikiran Islam menggali pandangan Qur’ani tentang Tuhan, alam dan manusia dengan metode pemahaman yang bersifat rasional. Di dalamnya, diulas persoalan dzat dan sifat-sifat Tuhan, proses penciptaan alam semesta, dan posisi manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam semesta. Selain itu, cakupan ilmu kalam juga meliputi pengetahuan manusia tentang hakikat kenyataan dan prinsip-prinsip etika dalam kehidupan, serta peran akal budi dan wahyu ilahi dalam pengetahuan manusia. Mu’tazilah dan ‘Asy’ariyah adalah dua madzhab utama ilmu kalam yang saling berdebat satu sama lain.
Falsafah atau hikmah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut tradisi philosophos Yunani yang berkembang di dunia Arab-Islam. Meskipun dari segi obyek kajian dan metodenya lebih bersifat universal, dalam pengertian tidak menggunakan konsep-konsep yang secara khusus diambil dari al-Qur’an, falsafah masih sering disebut bagian dari kajian dalam pemikiran Islam. Memang, pokok bahasan falsafah lebih bersifat umum yang terkait dengan persoalan metafisika, epistemologi, etika, filsafat manusia, filsafat politik, dll. Namun, para faylasuf Arab seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Miskawaih, Ibn Sina, Ibn Rusyd, dll dipandang telah berhasil menafsirkan ulang filsafat Yunani dalam konteks peradaban Arab-Islam sehingga pikiran-pikiran mereka layak dikaji sebagai bagian dari khazanah pemikiran Islam.
Dalam pemikiran Islam, istilah tasawuf merujuk kepada tradisi mistik dalam agama Islam. Istilah lain untuk menyebut tasawuf adalah ‘irfan. Istilah tasawuf banyak dipakai di kalangan Sunni, sementara ‘irfan lebih sering dipakai oleh kalangan Syi’i. Berbeda dari falsafah atau ilmu kalam yang menekankan pengetahuan rasional, tasawuf atau ‘irfan banyak menonjolkan kekuatan institusi mistik sebagai jalan menuju Yang Esa, Yang Mahabenar, Yang Mahabaik dan Yang Mahindah. Tasawuf sendiri sering dibagi lagi ke dalam dua kategori, yaitu: Tasawuf akhlaqi yang menekan pada kesucian batin dan tasawuf filosofis yang juga memberikan perhatian kepada pembahasan metafisika dan epistemologi.
Pembaruan Islam adalah bagian dari tema atau pokok bahasan dalam kajian pemikiran Islam. Bidang pemikiran Islam ini berfokus pada kajian ihwal bagaimana umat Islam memperbaharui struktur pengetahuan dan tatanan sosial mereka dalam menyikapi perubahan-perubahan zaman. Secara khusus, pembaruan Islam juga menyoroti berbagai perkembangan modern dalam Islam, baik terkait dengan pengetahuan, lembaga kemasyarakatan dan sistem kenegaraan. Apa yang dibahas adalah tentang bagaimana Islam beradaptasi di era modern. Karenanya, muncul topik-topik seperti Islam dan nasionalisme, Islam dan demokrasi, Islam dan perubahan sosial, dan lain sebagainya.
Pemikiran Keislaman Soekarno
Dengan penjelasan tentang apa itu pemikir Islam di atas, lantas kita bisa mencoba menjawab pertanyaan apakah Sukarno merupakan seorang pemikir Islam? Apakah Soekarno pernah menghasilkan karya berisi pemikiran Islam seputar tema tafsir, fiqh, ilmu kalam, falsafah, tasawuf atau pembaruan Islam? Jika memang terdapat tulisan Soekarno yang berbicara tentang salah satu tema tersebut, tentu ia bisa kita sebut sebagai seorang pemikir Islam; seorang pemikir yang terlibat dalam upaya menghasilkan pemikiran keislaman.
Tentu, sedari awal, kita perlu akui bahwa Soekarno bukan orang yang dididik secara formal dalam lembaga pendidikan keislaman seperti madrasah atau pesantren yang mengajarkan kurikulum kajian Islam klasik seperti bahasa Arab, ilmu al-Qur’an dan tafsir, fiqh dan ushul al-fiqh, ilmu kalam, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Soekarno bukan seorang sarjana Islam sebagaimana Kiai Ahmad Dahlan atau Kiai Hasyim Asy’ari. Soekarno tidak dapat disebut sebagai ustadz atau ulama dalam pengertian seperti itu.
Namun demikian, sebagai seorang anak yang lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Muslim-Jawa dan terlibat aktif dalam gerakan Sarekat Islam, Soekarno memiliki ketertarikan pada Islam dan pemikiran keislaman. Misalnya, berkat jaringan yang dimiliki Tjokroaminoto sebagai Ketua Central Sarekat Islam, Soekarno bisa berkenalan dengan Kiai Ahmad Dahlan dan ikut pengajian-pengajiannya di Surabaya. Lewat jaringan yang sama pula, Soekarno bersahabat dengan Kiai Mas Mansur. Berkat kedekatan dan kesamaan pandangan dengan tokoh-tokoh penting Muhammadiyah itu pula, Soekarno belakangan memutuskan untuk menjadi anggota Muhammadiyah saat menjalani masa hukuman oleh pemerintah Hindia Belanda di Bengkulu (1938-1942).
Selain itu, Soekarno banyak membaca buku-buku tentang perkembangan Islam di dunia modern melalui buku-buku yang berbahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Eropa lainnya. Hal ini tentu tidak mengherankan bagi seorang Soekarno yang secara formal dididik dalam sistem pendidikan modern dengan standard Eropa pada zamannya. Di samping terlatih untuk berpikir ilmiah, Soekarno juga mendapatkan keuntungan dalam hal penguasaan bahasa-bahasa Eropa yang memang menjadi pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah Belanda saat itu.
Buku-buku tentang Islam dan pemikiran Islam yang menjadi referensi utama Sukarno biasanya disebutkan dalam berbagai tulisan yang dibuatnya. Di antaranya, para pemikir dunia Islam yang sering dijadikan rujukan adalah Sayyid Amir Ali, Farid Wajdi, Jamaluddin al-Afghani, Mohammad Abduh, ‘Ali ‘Abd al-Raziq, Qasim Amin, Halide Edib Hanoum, dan lain-lain. Jika buku-buku bacaan Soekarno itu kita amati, di sana tampak jelas bahwa Sukarno memiliki minat yang sangat besar pada tema pembaruan modern dalam Islam.
Dalam konteks itu, Soekarno membuat beberapa tulisan tentang pemikiran Islam, khususnya yang terkait dengan pembaruan Islam. Di antaranya adalah “Surat-surat Islam dari Endeh” yang merupakan dokumentasi dari dialog antara Soekarno di Endeh dan Ahmad Hassan dari Persatuan Islam (Persis) di Bandung seputar masalah keislaman. Kemudian, juga ada sebuah artikel berisi surat terbuka yang ditujukan kepada K.H. Mas Mansur dari PB Muhammadiyah tentang “Minta Hukum yang Pasti dalam Soal Tabir.” Kemudian, juga ada artikel dengan judul “Memudakan Pengertian Islam,” “Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?” dan berapa artikel lainnya tentang pembaruan Islam.
Jadi, apakah Soekarno bisa disebut sebagai seorang pemikir Islam? Tentu, kita bisa berbeda pendapat dalam menjawab pertanyaan ini. Tapi, satu hal yang pasti adalah bahwa Soekarno merupakan seorang pemikir yang punya perhatian terhadap persoalan pembaruan modern dalam Islam. Ia memiliki banyak artikel tentang topik tersebut. Saya pribadi cukup senang untuk memilih mengatakan bahwa ia termasuk salah seorang pemikir Islam.
Interpretasi untuk Aksi
Jika dilihat dari segi kualitasnya, tulisan-tulisan Soekarno tentang pemikiran Islam tampak memiliki bobot yang patut untuk diperhitungkan sebagai sebuah model “interpretasi untuk aksi.” Apa yang penting dari tulisan-tulisan Soekarno itu bukan soal keluasan, kedalaman atau kecanggihannya. Bobot tulisan-tulisan tersebut terletak pada upaya penulisnya untuk melakukan kontekstualisasi dokrtrin Islam dalam realitas keindonesiaan dan kemodernan.
Sebagai contoh, kita bisa melihat artikel Sukarno berjudul “Memudakan Pengertian Islam.” Artikel ini ditulis sebagai tanggapan atas tulisan Kiai Haji Mas Mansur di majalah Adil berjudul “Memperkatakan Gerakan Pemuda.” Di dalamnya, Soekarno menyampaikan pandangan-pandangan yang sangat asli tentang reinterpretasi pemahaman keagamaan dalam Islam. Apa yang ditulis oleh Soekarno itu senada dengan pandangan-pandangan Muhammad Iqbal (1877-1938) dari Pakistan yang dituliskan dalam buku the Reconstruction of Religious Thought in Islam.
Dalam pandangan Soekarno, Islam itu terdiri dari dua hal, yaitu: Rohnya dan berbagi manifestasinya dalam sejarah. Soekarno sendiri membuat metafora “api Islam” untuk menyebut dimensi rohani dari Islam itu. Sebagai roh atau api, Islam dipahami sebagai bersifat universal. Ia adalah shalih li kulli zaman wa makan. Tapi, sebagai manifestasi, Islam terikat oleh ruang dan waktu tertentu. Dalam hal ini, api Islam termanifestasi dengan cara yang berbeda-beda berdasarkan konteks ruang dan waktu yang berbeda-beda pula.
Bagi Soekarno, katup penghubung antara “api Islam” yang universal dan manifestasinya dalam ruang dan waktu tertentu adalah pengertian-pengertian kaum Muslim tentang Islam. Di setiap waktu dan tempat, kaum Muslim membuat pengertian-pengertian tertentu terhadap Islam universal. Melalui pengertian-pengertian tersebut, universalitas Islam berjumpa dengan partikularitas tatanan masyarakat tertentu. Pengertian-pengertian yang tepat akan membuat Islam memiliki relevansi yang tinggi bagi kaum Muslim dan manusia pada umumnya di zaman tersebut.
Menurut Soekarno, karena realitas sosial senantiasa berubah setiap saat, pengertian-pengertian kita tentang Islam harus selalu diperbaharui. Cara Islam dipahami dan dijalankan pada abad ke-7 di Jazirah Arab tentu berbeda dari cara Islam dipahami dan dijalankan pada abad ke-20 di Indonesia. Di setiap masa, di setiap abad, dibutuhkan pengertian-pengertian tentang Islam yang baru dan berbeda dari sebelumnya. Inilah yang dimaksud dengan “memudakan” pengertian Islam oleh Soekarno.
Apa yang terjadi jika kita tidak mampu untuk membuat pengertian-pengertian baru tentang Islam yang sesuai dengan zaman kita sendiri? Apa jadinya dengan masyarakat Muslim pada zaman ini yang hanya bisa menerima dan mengambil pengertian-pengertian tentang Islam yang telah dibuat oleh para pendahulu mereka? Dalam penilaian Soekarno, kegagalan kita dalam memperbarui atau memudakan pengertian Islam akan menyebabkan kita kehilangan api Islam, karena yang kita punya hanya abunya saja, yakni berupa warisan pengertian dari masa lalu yang bisa jadi sudah tidak tepat lagi untuk dipakai pada masa kini.
Sebagai akibat dari matinya api Islam, umat Islam akan mengalami kegelapan. Nilai-nilai Islam yang bersifat universal kehilangan relevansinya bagi kaum Muslim dan manusia pada umumnya karena tertutupi oleh kekolotan pengertian-pengertian tentang Islam itu. Jika sudah demikian, apa yang berkembang dalam masyarakat bukan lagi api Islam yang menerangi, melainkan sejenis “Islam Sontoloyo” yang telah kehilangan daya pencerahannya. Karenanya, bagi Soekarno, memudakan pengertian Islam adalah sebuah keniscayaan agar kita tidak menjadi Muslim “sontoloyo.”
Sebagai catatan penutup, kita bisa katakan bahwa Soekarno adalah seorang pemikir yang memiliki perhatian pada pemikiran Islam, khusus pada gagasan pembaruan modern dalam Islam. Dalam karya-karya yang ditulisnya tentang pemikiran Islam, ia merumuskan sebuah model “interpretasi untuk aksi” agar api Islam bisa tetap menyala dalam konteks keindonesiaan dan kemodernan. Karenanya, menurut hemat saya, Soekarno bukan hanya pantas disebut sebagai pemikir Islam, tapi juga sebagai seorang tokoh pembaruan Islam yang memiliki peran penting bagi kaum Muslim dan kemanusiaan di Indonesia di abad ke-20.

sumber: kumparan.com

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* Rabu, 9 Juni 2021 Pukul 06.00 - 06.40 WIB Program Salam Lentera Kebajikan

News Feed