by

Catatan 2020, Hamdan Zoelva: Penegakan Hukum Memperlihatkan “Wajah Keras dan Memaksa”

Print Friendly, PDF & Email

JAKARTA – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva mengatakan, penegakan hukum yang adil dan menunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) masih menjadi tantangan berat selama tahun 2020. Masyarakat juga masih menyuarakan isu “kesetaraan hukum” dalam penyelesaian sejumlah kasus, misalnya perbedaan perlakuan hukum dalam kasus pelaporan pelanggaran undang-undang ITE dan kasus kerumunan.

Menurutnya, hukum sejatinya diterapkan secara imparsial, berlaku kepada siapapun dan berkeadilan. Meningkatnya pemidanaan terhadap kelompok yang kontra pemerintah mencoreng iklim demokrasi. Proses dialog harus lebih dikedepankan daripada pemidanaan yang sesungguhnya adalah suatu upaya paling akhir (optimum remedium).

“Penegakan hukum di tahun 2020 juga memperlihakan “wajah keras dan memaksa”. Kita patut menyesalkan jatuhnya korban jiwa dalam bentrokan FPI dengan Polri di jalan tol pada akhir tahun ini. Pendekatan persuasif dan humanis harus lebih dikedepankan tanpa mengorbankan ketegasan dalam penegakan hukum,” ujarnya dalam Catatan Kritis Penegakan Hukum di Indonesia Selama Tahun 2020 yang diterima Okezone, Senin (28/12/2020).

BACA JUGA:   Isu Politik-Saling Serang di Medsos Dinilai Habiskan Energi, Hamdan Zoelva: Waktunya Fokus Pemulihan Ekonomi

Kemudian, ditangkapnya dua menteri Kabinet Indonesia Maju dan sejumlah kepala daerah menunjukan rendahnya keteladanan moral para pejabat. Reformasi birokrasi belum menjadi perhatian penting. Integritas moral juga tidak menjadi pertimbangan utama partai politik pada saat pencalonan.

Akibatnya yang dilahirkan adalah pejabat yang terlibat dalam perkara korupsi dan harus berurusan dengan hukum. Ketika banyak pekerja di PHK, perusahaan bangkrut, tenaga medis berguguran, rumah sakit tidak mampu menampung pasien Covid-19, sejumlah pejabat tinggi negara tersebut justru tega melakukan korupsi.

“Begitu tipis akhlak dan tanggung jawab kepada rakyat dan negara. Pada sisi lain, kita mengapresiasi Langkah-langkah KPK dan tidak ragu untuk melakukan Langkah serupa pada tahun 2021,” tuturnya.

Pakar hukum tata negara ini menambahkan, peradilan kasus Djoko Tjandra juga membuka kebobrokan penegakan hukum di Indonesia. Adanya mafia peradilan yang melibatkan oknum pejabat di Indonesia adalah fakta tak terbantahkan. Di mana, putusan hukum diperjualbelikan.

BACA JUGA:   Hamdan Zoelva: Sikap Rasis Bukan Budaya Indonesia

Menurutnya, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh praktik peradilan dan kenegakkan hukum di Indonesia. Salah besar jika fenomena ini hanya diredusir sebatas kasus Djoko Tjandra saja.

Catatan terakhir, yakni mengenai lahirnya undang-undang Omnibus law di satu sisi mampu menyederhanakan sejumlah perijinan, namun disisi lain undang-undang ini dibuat secara terburu-buru, kurang membuka dialog dan ruang publik yang luas. Dalam demokrasi, mendengar suara rakyat adalah proses penting, bukan sema-mata hasil.

“Tidak sekadar mendengar tapi mencermati dan mengakomodasi pendapat rakyat. Letakkanlah telinga di detak jantung rakyat. Kemudahan terhadap perusahaan besar perlu diwaspadai karena bisa mengambil jatah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Contohnya kemudahan impor pangan. Penghapusan sanksi bagi pelaku usaha dan atau importir dalam melakukan impor saat pangan domestik terpenuhi sangat merugikan petani dan UMKM holtikultura dalam negeri,” pungkasnya.

(Ari)

sumber: nasional.okezone.com

News Feed