by

Refleksi Akhir Tahun 2020 : Mari Menjaga Kebhinnekaan dan Selamatkan Pancasila Kita

Print Friendly, PDF & Email

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Betapa tidak, ujian berbangsa dan bernegara kerap kali terjadi. Ujian berbangsa dan bernegara yang dihadapi bahkan terkadang dapat memecah belah masyarakat. Padahal, ditengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, seharusnya seluruh element bangsa bisa menyatu dalam keberagaman.

Beberapa kasus yang menggerus kehidupan berbangsa dan bernegara yang terjadi selama tahun 2020 seperti terorisme, politik identitas dan tidak saling menghargai suku, agama, dan ras tersaji didepan mata. Akibat yang ditimbulkan karena peristiwa tersebut membuat kita miris melihatnya. Konflik horizontal atau konflik antar masyarakat adalah puncak dari semuanya.

Misalnya, upaya pemerintah untuk memberantas terorisme ditunjukkan dengan terus melakukan penangkapan jaringan terorisme. Ini dibuktikan dengan data dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri yang menangkap 32 orang terduga terorisme jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Sulawesi Tengah dan seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun 2020.

Sementara itu, disisi lain, Pilkada Serentak 2020 masih diliputi isu politik identitas dan SARA. Anggota Bawaslu, Dr. Ratna Dewi Pettalolo, mengatakan isu politik identitas ada di peringkat keempat dalam deretan isu penting selain politik uang, pandemi dan ujaran kebencian.

Bawaslu mengidentifikasi paling tidak terdapat tujuh wilayah dengan tingkat kerawanan isu SARA yang tinggi seperti Kota Depok, Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Solok. Sementara itu terdapat 18 dengan tingkat kerawanan sedang dan 236 dengan tingkat kerawanan rendah.

Berawal dari politik identitas juga terkadang berefek kepada kurang menghormati adanya perbedaan ditengah masyarakat. Padahal, sebagai bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, rasa menghormati dan menghargai adalah prasyarat untuk kehidupan bermasyarakat.

Namun, faktanya yang terjadi sekarang rasa kurang menghormati dan menghargai masih ada dalam pemikiran sebagian masyarakat. Masyarakat masih berpikiran terlali etnosentrisme alias membangga-banggakan suku bangsa masing-masing, bahkan terkadang sampai kepada mejelek-jelekkan dan menghina suku serta agama lain.

Jika kita melihat kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, maka banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pada tahun depan. Tahun 2020 yang menjadi harapan bagi kita untuk bergandengan tangan sesama anak bangsa justru menjadi bencana disaat kasus-kasus yang merongrong kebhinnekaan dan menggerus nilai-nilai pancasila terus terjadi.

BACA JUGA:   Keluarga besar SESMI turut duka cita atas atas wafatnya ulama kita KH. Tengku Zulkarnain

Mendukung Aparat Menegakkan Hukum

Kita semua sudah mengetahui bahwa Indonesia adalah negara hukum. Sebagai negara hukum, maka konsekuensi nya adalah setiap tindak dan tanduk masyarakat harus sesuai dengan aturan hukum. Jika tidak sesuai dengan aturan, maka aparat penegak hukum wajib untuk bertindak.

Penegakan hukum merupakan ujung tombak bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara yang kuat adalah negara yang tidak mengenal kompromi dengan pelanggar hukum. Negara yang kuat adalah aparat penegak hukum yang profesional.

Tidak ada dan tidak boleh siapapun di negeri ini bermain hukum sendiri karena sudah ada perangkat penegak hukum. Baiknya kita percayakan dan dukung seluruh penegakan hukum di Indonesia yang khususnya yang sedang di tangani bareskrim polri. Hal ini sudah dipercaya bareskrim mampu secara profesional menuntaskan segala bentuk pelanggaran hukum di Indonesia.

Contohnya adalah kasus Djoko Tjandra yang menyeret jenderal bintang 2 dan 1 dari kepolisian ke pengadilan.

Sementara, untuk kasus kebhinekaan dapat dilihat dari kasus pembunuhan oleh teroris di Sigi, Sulawesi Tengah. Dan lagi-lagi kepolisian dalam hal ini Bareskrim bertindak cepat untuk menangkap dan mengusut kasus ini.

Lalu, tak lama setelah itu, konflik horizontal yang terjadi di Papua pun dapat diredakan dengan cepat. Termasuk deklarasi negara Papua bisa ditangani dengan baik oleh pihak kepolisian sehingga tidak melebar kemana-mana dan menggelinding ke daerah lain.

Mari Menjaga Kebhinnekaan

Sudah merupakan suratan takdir jika bangsa ini terdiri atas ribuan suku dan ada 6 agama yang diakui oleh pemerintah. Suratan takdir yang dapat menjadi kekayaan bangsa, namun disatu sisi juga dapat melemahkan bangsa.

Dulu, element bangsa bisa bersatu karena senasib dan seperjuangan, yakni melawan penjajah. Dengan bersatu itulah akhirnya kita berhasil mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Akan tetapi, penyatuan elemen bangsa ini tidak akan kekal dan abadi jika kita masih menaikkan ego sektoral. Ini yang terjadi hingga saat sekarang. Di sana-sini masih banyak kita lihat kelompok masyarakat masih memainkan ego sektoral. Banyak kelompok masyarakat yang menjadi pemicu dari perpecahan.

BACA JUGA:   Ketua bidang ekonomi PB SEMMI mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Akibatnya adalah saat masyarakat sudah terpecah, maka disaat itu juga konflik beserta turunannya akan menjadi tontonan. Pemerintah tak ada pilihan lain selain bertindak dengan tegas. Pihak kepolisian pun harus tegas terhadap pelaku yang memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keberagaman atau kebhinnekaan yang sudah menjadi suratan takdir bagi bangsa ini harus selalu kita jaga. Masih ingatkah kita jika bangsa ini lahir karena bersatu dengan keberagaman, bukan tepecah karena keberagaman.

Menjaga kebhinnekaan memang pekerjaan yang tidak mudah. Menjaga agar keberagaman menjadi penguat rasa persaudaraan merupakan perkara yang membutuhkan pengayaan terhadap kondisi sejarah serta sosial budaya masyarakat.

Namun, selagi kita bisa dan mampu untuk menjaga kebhinnekaan, kenapa kita harus bergesekan?. Selagi mampu untuk hidup berdampingan dengan berbagai keberagaman didalamnya, kenapa kita harus bertengkar dan berkonflik?.

Inti dari semua itu adalah tetap jaga kebhinnekaan. Kita harus selalu merasa bahwa kita bagian dari bangsa Indonesia. Kita bagian dari keberagaman tersebut dan kita harus tetap bersatu dalam kebhinnekaan dan keberagaman selamanya, bukan dengan memecah belah.

Menyelamatkan Pancasila

Disaat kita sudah satu frame berpikir persoalan kebhinnekaan, maka langkah selanjutnya adalah menyelamatkan pancasila. Pancasila harus diselematkan dari keinginan sekelompok orang untuk mengganti atau mengobrak-abrik kemurniannya.

Hal ini tidak lagi menjadi pepesan kosong. Sebab, sudah banyak terjadi upaya untuk mengganti ideologi pancasila dengan ideologi lain. Bahkan sudah ada upaya untuk mendirikan negara dengan bentuk yang berbeda dari pancasila.

Pancasila wajib diselematkan dari keinginan tersebut. Pancasila harus kita murnikan kembali. Pancasila harus diberikan tempat dihati masyarakat.

Menggalakkan kembali nilai-nilai pancasila ditengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara perlu kita lakukan. Melakukan pemurnian terhadap nilai-nilai pancasila mutlak dilakukan. Semua dengan tujuan agar kehidupan berbangsa dan bernegara kembali berjalan lancar, tanpa ada gesekan, tanpa ada fanatisme terhadap suku bangsa tertentu. Fanatisme hanya kepada bangsa Indonesia.

Tahun 2021 yang sudah di depan mata hendaknya dijadikan sebagai tahun perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tahun 2021 dapat dijadikan sebagai tahun menjaga kebhinnekaan dan menyelematkan pancasila.

sumber: inisiatifnews.com

News Feed