Komisaris Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo Yang Saya Kenal

by admin
4 views

Oleh: Bintang Wahyu Saputra
Jika disebut nama Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo, ingatan orang langsung merujuk pada dua peristiwa, besar yang belum lama terjadi di Indonesia, yakni penangkapan buronan kasus hak tagih atau Cessie Bank Bali, Djoko Tjandra di Malaysia dan kebakaran hebat Gedung Kejaksaan Agung RI di Jakarta. Nama Komjend Pol. Listyo Sigit Prabowo lekat dengan dua peristiwa tersebut.

Penangkapan Djoko Tjandra di Apartemen mewahnya di Malaysia oleh Bareskrim Mabes Polri yang dipimpin Komjend Pol. Listyo Sigit Prabowo mendapat perhatian besar masyarakat Indonesia. Bagi media ini berita besar tidak heran jika media kemudian gencar memberitakan kabar penangkapan Djoko Tjandra. Maklum, Djoko Tjandra adalah buronan yang dikenal licin dan punya akses lobby yang tidak kecil kepada sejumlah elit Indonesia. Itu sebabnya selama sebelas tahun Djoko Tjandra bisa lolos dari kejaran aparat kepolisian. Keberhasilan Bareskrim meringkus Djoko Tjandra membuat Mabes Polri mendapat apresiasi yang besar dari masyarakat. Ini menjadi kado manis ditengah merosotnya indeks kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.

Kebakaran hebat menghanguskan Gedung Kejaksaaan Agung RI pada Sabtu, 22 Agustus 2020. Sejumlah spekulasi penyebab kebakaran mulai bermunculan seiring padamnya api dan mengerucut pada satu kesimpulan kebakaran Gedung Kejaksaan Agung RI disebabkan oleh hubungan arus pendek atau korsleting listrik. Tapi semua berubah setelah Kabareskrim Polri Komjend Pol. Listyo Sigit Prabowo memberikan penjelasan kepada media usai gelar perkara bersama sejumlah pejabat Kejaksaan Agung. Kepada media KOmjend Pol. Listyo Sigit Prabowo menjelaskan penyebab kebakaran Gedung Kejaksaan Agung RI bukan karena hubungan arus pendek tapi diduga karena open flame atau nyala api terbuka. Ada unsur pidana pada peristiwa itu. Setelah memeriksa 131 orang saksi Bareskrim Polri menetapkan delapan orang tersangka.

Kapolda Yang Sempat Ditolak Ulama Banten
Saat menjadi ajudan Presiden Joko Widodo, Listyo Sigit Prabowo mendapat promosi menjadi Kapolda Banten dan menyandang pangkat Bintang Satu. Saat menjadi Kapolda Banten dirinya sempat ditolak oleh kalangan Ulama Banten karena non muslim. Ulama dan masyarakat Banten saat itu resisten terhadap isu pejabat non muslim seiring peristiwa Gubernur Jakarta Ahok yang dianggap melakukan penistaan terhadap Islam.
Hal pertama yang dilakukan Brigjend Pol.Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolda Banten adalah bersilaturahmi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat Banten, terutama kalangan Ulama pemimpin Pondok Pesantren yang banyak tersebar di Banten. Sepertinya Listyo Sigit Pramono tahu dalam ajaran Islam Silaturahmi memiliki kedudukan penting dan sangat berpengaruh pada hubungan sosial dalam masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Karena itu mengunjungi Ulama menjadi agenda wajib sebagai Kapolda Banten.

Ulama yang pertama kali disambangi dalam kunjungan silaturahmi adalah Abuya Muhtadi. Nama lengkapnya Abuya Ahmad Muhtadi Dimyathi Al-Bantany, seorang Ulama Kharismatik Banten pengasuh Pondok Pesantren Roudotul ‘Ulum, Cidahu, Banten. Kepada Abuya Muhtadi, Listyo Sigit Prabowo mengatakan, sebagai Kapolda dan aparat penegak hukum dirinya memastikan akan melindungi masyarakat Banten dan membantu masyarakat yang mengalami kesulitan. Saya Siap menjadi pelayan bapak – bapak dan memastikan keamanan masyarakat Banten. Demikian dikatakannya dihadapan Abuya Muhtadi.

Selain Abuya Muhtadi, Listyo Sigit Prabowo melanjutkan kunjungan silaturahmi kepada tokoha agama dan tokoh masyarakat Banten lainnya. Diantaranya adalah Ustad Kurtubi dan Martin Syarkawi yang dikenal sebagai tokoh Front Pembela Islam (FPI) Banten. Tidak berhenti sampai disitu, silaturahmi dilakukannya rutin dengan mengunjungi tokoh agama, ulama dan pimpinan Pondok Pesantren di Banten. Silaturahmi mengunjungi Kyai di Pondok Pesantren dilakukannya setiap hari seleps jam dinas. Sebagai orang Jawa nampaknya Sigit percaya falsafah Jawa, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, yang artinya kurang lebih. Cinta Datang Karena Sering Bertemu. Sejak itu Kapolda Banten Brigjend Listyo Sigit Pramono sangat dekat dengan kalangan Ulama dan Pondok Pesantren di Banten.

BACA JUGA:   [PELANTIKAN DAN RAKERWIL] PW SEMMI JATIM 2021-2023

Saat sudah tidak menjabat sebagai Kapolda Banten, buah manis dari silaturahmi dengan masyarakat dan Ulama Banten masih dirasakan Listyo Sigit Prabowo. Tanpa diminta pada pertengahan November 2019, bertempat di Kampung Petir, Serang, 3.000 Ulama dan Tokoh Masyarakat Banten berkumpul memanjatkan doa dalam Istighosah yang digelar khusus sebagai dukungan kepada Listyo Sigit Prabowo menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri.

Menjadi Kabareskrim Polri
Selama menjadi Kabaraskrim Polri banyak kasus besar yang dibongkar Sigit bersama anak buahnya. Yang paling mendapat perhatian masyarakat adalah penangkapan Djoko Tjandra di Malaysia yang dipimpin langsung oleh Sigit. Penangkapan Djoko Tjandra sekaligus membongkar sejumlah pihak yang terlibat. Dari lima tersangka dua orang merupakan sejawatnya di Kepolisian RI, yakni, Brigen Pol Prasetyo Utomo dan Irjen Pol Napoleon Bonarparte.
Kasus besar lainnya yang dibongkar Sigit dan jajaran Bareskrim adalah mengungkap kejahatan narkotika. Pada kurun waktu Mei – Juni 2020, Sigit dan jajaran Bareskrim berhasil mengamankan narkoba jenis sabu sebanyak 1,2 ton, 35.000 butir pil ekstasi dan 410 Kg ganja dari bandar narkoba internasional jaringan Iran – Timur Tengah. Barang bukti diamankan dari dua tempat berbeda, yaitu di Serang, Banten dan Sukabumi, Jawa Barat. Dari operasi tersebut diamankan tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka.

Membantu Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna Laoly, Sigit menangkap Maria Pauline Lumowa. Orang yang harus bertanggungjawab pembobolan Bank BNI 46 senilai Rp 1,7triliun. Kasus ini juga mendapat perhatian masyarakat karena menyangkut uang dalam jumlah besar dan salah satu Perbankan BUMN.

Kepada publik dalam beberapa kesempatan Sigit menegaskan, penuntasan berbagai kasus merupakan bentuk komitmen, transparansi di tubuh Polri. Terutama kasus Djoko Tjandra yang melibatkan dua anggota polisi berpangkat jenderal.

Bareskrim Polri terus melakukan pembenahan internal untuk lebih profesional dan produktif dalam penanganan penegakan hukum di Indonesia. Demikian diucapkan Sigit beberapa waktu lalu. Sepertinya ini bukan isapan jempol tapi sudah mulai dibuktikan Sigit dengan pengungkapan kasus criminal yang sempat mangkrak bertahun – tahun.
Perjalanan Karir Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo
Komisari Jenderal Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si adalah perwira jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991. Selama berkarier Sigit pernah beberapa kali menduduki jabatan strategis di Kepolisian sebelum dilantik sebagai Kabareskrim Polri 16 Desember 2019.
Sigit mulai menapaki karir nya di Polda Metro Jaya sebagai Kepala Bagian Pengendalian Personel Biro Personel Polda Metro Jaya. Tahun 2009 Sigit menjabat Kapolres Pati (Polda Jawa Tengah) setahun kemudian menjabat Kapolres Sukoharjo tahun 2010 dan dilanjutkan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Semarang. Tahun 2011, Listyo Sigit Prabowo menjabat sebagai Kapala Kepolisian Resor Kota Surakarta.

Tahun 2012 Joko Widodo diusung PDI-P sebagai Calon Gubernur DKI dan menang dalam Pilkada yang menyedot perhatian dunia tersebut. Ditahun yang sama Sigit ditarik ke Mabes Polri sebagai Kasubdit II Dittipidum Bareskrim Polri. Karirnya dalam tubuh Polri terus berkembang.

BACA JUGA:   SEMMI Aceh Timur memperingati 17 tahun tsunami Aceh

Pada tahun 2013 Mabes Polri yang menugaskan Listyo Sigit Prabowo sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara. Tidak lama berdinas di Sulawesi Tenggara, Sigit Kembali ditarik ke Jakarta seiring kemenangan Joko Widodo Pada Pemilu Presiden 2014. Kali ini Sigit mendapat tugas sebagai Ajudan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo tahun 2014. Sebagai Ajudan Presiden dijalani Sigit sejak 20 Oktober 2014 sampai % Oktober 2016.

Karir nya terus berkembang. Sigit mendapat promosi jabatan sebagai Kapolda Banten dan menyandang pangkat bintang satu. Sigit memimpin Polda Banten selama 2 tahun, yakni 5 Oktober 2016 sampai dengan 13 Agustus 2018. Dua tahun perjalanan karir nya sebagai Kapolda Banten dibuktikan Sigit dengan kemampuannya memimpin dan mengayomi masyarakat Banten. Dia yang awalnya sempat ditolak Ulama Banten berubah menjadi sosok Kapolda yang sangat dekat dengan kalangan Ulama dan tokoh masyarakat Banten.
Selepas menjabat Kapolda Banten, Sigit menjadi salah satu anggota polisi yang mendapatkan promosi jabatan di lingkungan Polri untuk menjadi Kadiv Propam menggantikan Irjen Martuani Sormin, yang ditugaskan sebagai Kapolda Papua.

Setelah kosong selama 35 hari sejak ditinggalkan Idham Azis, melalui Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/3229/XII/KEP./2019 tanggal 6 Desember 2019, diterangkan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Listyo Sigit Prabowo menjadi Kabareskrim Polri.

Belajar Dari Komisari Jenderal Listyo Sigit Prabowo
Dalam pandangan saya sebagai pimpinan organisasi mahasiswa Islam, saat menjadi Kapolda Banten adalah periode yang paling menarik dalam karir Komjend Pol. Listyo Sigit Prabowo sebagai anggota Polri. Disebut menarik karena penerimaan masyarakat Banten yang dikenal sangat religius dan termasuk yang fanatik dalam menjalankan syariat agama bisa menerima kehadiran Listyo Sigit Prabowo yang non muslim.

Bukan saja menerima, tokoh masyarakat, tokoh agama dan Ulama Banten pada akhir mempunyai hubungan yang sangat dekat, erat, bahkan akrab dengan Sigit. Bisa jadi masyarakat Banten kadung jatuh cinta pada sosok bersahaja dan humanis ini. Meski cenderung pendiam sejatinya Sigit adalah sosok pembelajar, pendengar yang baik dan perhatian terhadap lingkungannya.

Saya tidak keberatan jika pernyataan ini diangap berlebihan, tetapi saya meyakini demikian karena faktanya ditunjukan oleh 3.000 (tiga ribu) Ulama Banten berkumpul di Kampung Petir, Serang, Banten dalam acara Istighosah yang digelar pertengahan November 2019 mendoakan agar Listyo Sigit Prabowo dipercaya sebagai Kapala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri.

Istighosah adalah acara yang lazim dilakukan umat Islam dipimpin oleh ulama memanjatkan doa untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT. Jika ulama dan umat Islam Banten menggelar Istghosah yang khusus untuk Listyo Sigit Prabowo yang non muslim, apa yang melatarinya kalau bukan cinta dan kasih sayang. Peristiwa itu juga menggambarkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Senin, 8 Desember 2019 pukul 08.00 Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis di ruang Rupatama Mabes Polri melantik Komisari Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri.
** Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI)

sumber: lensamahasiswa.com

You may also like

Chat sekarang
Punya Berita Seputar SI? Klik Disini