by

Profil KH Hisyam dan sejarah pendirian sekolah Muhammadiyah

Print Friendly, PDF & Email

KONTAN.CO.ID – Hari ini, 18 November 2020, salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memperingati ulang tahun berdirinya yang ke-108.

Sejumlah tokoh di Indonesia pun memberikan ucapan selamat milad ke-108 Muhammadiyah. Mulai Wakil Presiden KH Ma’aruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum DPP Syarikat Islam Hamdan Zoelva, hingga Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD.

Muhammadiyah berdiri di Kampung Kauman Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912. Namun, selain KH Ahmad Dahlan, masih ada beberapa tokoh Muhammadiyah seperti KH Hisyam.

KH Hisyam 

Dirangkum dari laman resmi Muhammadiyah, KH Hisyam adalah Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah yang ketiga. Dia dipilih dan dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta tahun 1934.

KH Hisyam juga merupakan salah satu murid langsung KH Ahmad Dahlan, yang juga adalah seorang abdi dalem ulama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

BACA JUGA:   Fadli Zon Bilang Ngawur, Hamdan Zoelva: Karantina Itu Berbeda dengan PSBB

KH Hisyam lahir di Kauman Yogyakarta pada 10 November 1883 dan wafat 20 Mei 1945. Ia memimpin Muhamadiyah hanya selama tiga tahun.

Pertama kali, KH Hisyam dipilih dalam Kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta tahun 1934. Kemudian, dipilih lagi dalam Kongres Muhammadiyah ke-24 di Banjarmasin tahun 1935, dan berikutnya dipilih kembali dalam Kongres Muhammadiyah ke-25 di Batavia (Jakarta) tahun 1936.

Pada periode kepemimpinan KH Hisyam, titik perhatian Muhammadiyah lebih banyak diarah­kan pada masalah pendidikan dan penga­jaran, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum.

Pada periode kepemimpinan KH Hisyam ini, Muhammadiyah telah membuka sekolah dasar tiga tahun (volkschool atau sekolah desa) dengan menyamai persyaratan dan kurikulum sebagaimana volkschool gubernemen.

Setelah itu, dibuka pula vervolgschool Muhammadiyah sebagai lanjutannya. Dengan demikian, maka bermunculan volkschool dan vervolgschool Muhammadiyah di Indonesia, terutama di Jawa.

BACA JUGA:   Hamdan Zoelva: Instruksi Mendagri Mengingatkan Kepala Daerah, Bukan Berarti Bisa Berhentikan

Ketika pemerintah kolonial Belanda membuka standaardschool, yaitu sekolah dasar enam tahun, Muhammadiyah pun mendirikan sekolah yang semacam dengan itu.

Bahkan, Muhammadiyah juga mendirikan Hollands Inlandsche School Met de Qur’an Muhammadiyah untuk menyamai usaha masyarakat Katolik yang telah mendirikan Hollands Inlandsche School Met de Bijbel.

KH Hisyam berpikir, masyarakat yang ingin putra-putrinya mendapatkan pendidikan umum tidak perlu harus memasukkannya ke sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah kolonial.

Sebab, Muhammadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah umum yang mempunyai mutu yang sama dengan sekolah-sekolah pemerintah ditambah dengan pendidikan agama.

Walaupun harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang berat, sekolah-sekolah yang didirikan Muhammadiyah akhirnya banyak yang mendapatkan pengakuan dan persamaan dari pemerintah kolonial saat itu.

sumber: lifestyle.kontan.co.id

News Feed