by

Di Bandung, Tan Malaka Mendirikan Sarekat Islam School

Print Friendly, PDF & Email

Tanggal 13 Januari 1922, Tan Malaka hadir di Bandung mendirikan H.I.S. (Hollandsch-Inalandsche School) Sarekat Islam School. Baru saja dibuka, sekolah ini sudah menerima sekitar 200 orang murid. Untuk biayanya, lebih murah dari sekolah umumnya pada waktu itu. Murid-murid yang ingin masuk ke SI School cukup dipungut biaya f 2,50 sampai f 10 (Padjadjaran 15 Januari 1922). Tentu, sekolah ini bukanlah untuk kaum elit yang mempunyai penghasilan tinggi. Tujuan sekolah ini dibuat, memang untuk kalangan kecil yang penghasilannya sangat minim. Maka, selain dinamai SI School, rengrengan Goenawan Cs. sering menyebutnya sebagai sekolah rakyat. Karena sekolah tersebut diperuntukkan bagi kaum kecil yang serba kekurangan.

Bulan Juli-Agustus 1922, SI School semakin menyebar ke berbagai wilayah di Bandung. Pada tanggal 1 Agustus S. Goenawan dan Moh. Sanoesi menghadiri pembukaan sekolah SI di Ciwidey dengan 80 orang murid pertama. Bukan hanya itu, sekolah ini juga digunakan untuk kalangan orang tua di malam hari. Adapun jumlah murid pada pembukaan pertama berjumlah 110 orang, dengan pelajaran dasar membaca dan menulis, dan pelajaran bahasa Belanda untuk tingkat dua (Matahari edisi Agustus 1922).

Pada kurun waktu 20-an, sekolah-sekolah di Bandung memang sudah banyak didirikan. Terutama, untuk sekolah tingkat dasar (H.I.S.) yang diperuntukkan bagi kaum Pribumi. Menurut laporan Memori Serah Terima Jabatan 1921-1930 Jawa Barat, terdapat lima sekolah dasar negeri untuk kawasan Priangan Tengah. Masing-masing meliputi 3 sekolah H.I.S. untuk Bandung, 1 sekolah untuk Cicalengka dan 1 sekolah untuk wilayah Sumedang. Dengan total murid untuk tingkat H.I.S. I, II dan III berjumlah sekitar 858 orang. Bukan saja sekolah negeri, sekolah-sekolah H.I.S. bersubsidi di Bandung saat itu sudah didirikan oleh berbagai perkumpulan. Semuanya berjumlah 8 sekolah. Seperti yang dikelola oleh Perkumpulan Volksonderwijk, yang mempunyai murid berjumlah 594 orang; Perkumpulan Neutral Indlandsch Onderwijs, berjumlah 203 orang murid; Perkumpulan Guru Bumiputera (P.G.B.) 266 orang murid; Ksatrian-Instituut 300 orang murid; Vereeniging voor Christelijke Scholen, mempunyai dua H.I.S. yang masing-masing 322 dan 340 orang murid; serta Nederlandsch-Indische afdeeling der Theosofische Wereld Universiteit, dengan jumlah murid sekitar 333 orang.

Namun, pada tahun 1923, pemerintah melakukan monitoring untuk sekolah-sekolah partikelir, karena dicurigai sebagai tempat propaganda politik yang membuat Pemerintah Hindia Belanda terancam. Setiap waktu harus didatangi polisi atau pangrehpraja untuk dilakukan pemeriksaan terhadap sekolah yang baru didirikan. Sedangkan bila seorang guru telah melakukan pelanggaran, maka ia akan mendapat hukuman larangan mengajar maksimal 2 tahun lamanya.

BACA JUGA:   Kebangkitan Nasional versi Sarekat Islam

Dalam perkembangan selanjutnya sekolah Sarekat Islam memperoleh jumlah murid dan beberapa sekolah yang terus bertambah. Harry Poeze menjelaskan, bahwa dalam tahun 1924 sudah terdapat 13 sekolah SI di Bandung. Bulan Februari 1924, sekolah SI didirikan di Cicalengka. Suasana gembira pun nampak di antara pengurus, murid dan para pengunjung yang datang. Hal ini karena pembukaan sekolah SI tidak dikemas seperti biasanya. Bahkan terlihat sangat meriah. Di samping iring-iringan musik dan senam, pembukaan itu menampilkan potret-potret tokoh komunis, seperti Tan Malaka, Semaoen dan Baars (Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925).

Selain itu, pada hari Minggu 31 Agustus 1924, sekolah SI di Bandung dibuka di Buahbatu. Pengunjung yang datang ketika itu berjumlah sekitar 8000 orang. Malah, seperti biasa, pembukaan pun diiringi musik laiknya pesta besar-besaran. Seluruh tempat didekor dengan warna merah. Dengan digantung potret-potret tokoh komunis yang berbeda seperti sebelumnya. Di antaranya, foto Tan Malaka, Semaoen, Baars, Sneevliet, Lenin dan Karl Marx. Bersamaan dengan pembukaan itu, digelar juga pertemuan terbuka yang dipimpin oleh E. Ardiwidjaja. Pada kegiatan tersebut, S. Goenawan dan Soerachman hadir sebagai pengisi acara dan berakhir sampai pukul 2 siang. Meskipun pesta pembukaan sekolah di sana masih berlangsung hingga hari Senin malam (Soerapati 9 September 1924).

BACA JUGA:   4 Lirik Lagu Perjuangan dan Surabaya Jadi Kota Pahlawan

Sayangnya, sebagai penggagas sekolah rakyat, Tan Malaka justru tidak dapat menyaksikkan  perkembangan sekolah itu berikutnya. Hanya menjelang satu bulan di Bandung, ia harus disergap dan dibuang ke negara lain, dan dijatuhi tindakan admiministrasi externeering dan interneering karena memberikan pengajaran dan pendidikan kepada pemuda berdasarkan asas Komunis Internasional. Dalam memoarnyaTan Malaka menceritakan:

“Gembira dan bangga benar saya melihat Sekolah Rakyat yang kedua di Bandung! Rumah yang besar, bersih dikelilingi lapangan yang luas. Terlampau bagus untuk anak proletar, jika dibandingkan dengan Semarang! Tepat pada 13 Februari, angka inipun bukannya menjadi doa dalam menghampiri saya dalam waktu kemalangan, hari Ahad saya mondar-mandir dari kamar ke kamar, memeriksa apa yang kurang, mengaggumi yang bagus, sambil menyesalkan anak-anak Semarang yang kurang mujur itu…Kira-kira jam 12, ketika saya bercakap-cakap dengan beberapa teman, datanglah sebuah mobil berhenti di depan sekolah itu. Belanda PID yang tadi keluar dari mobil itu. Dengan hormat dan muka sedih Belanda ini memperlihatkan surat perintah menangkap saya dan mempersilakan saya masuk mobil.

Dengan tertangkapnya Tan Malaka oleh pihak Belanda, bukan berarti telah mengakhiri perkembangan sekolah SI selanjutnya. Apalagi, SI School semakin bertambah dan berkembang ke daerah-daerah pelosok. Namun, rasa menyesal yang muncul di kalangan kaum merah tentu tak dapat dihilangkan. Terutama bagi kelompok Sarekat Islam di Bandung sebagai wilayah tempat penangkapan itu berlangsung. Maka, beberapa saat setelah kejadian ini, Sanoesi mempersembahkan sebuah tulisan getir untuk kepergian Tan Malaka. Tulisan itu dimuat dalam Matahari edisi tahun 1922, yang diberi judul persis seperti nama si penggagas sekolah rakyat itu. Tan Malakaditulis Sanoesi sebagai upaya menguatkan perjuangan dan pembebasan yang ditempuh dengan jalan berliku.

sumber: ayobandung.com

News Feed