by

Di Bandung, Kongres Sarekat Islam Merah Digelar

Print Friendly, PDF & Email

Bandung memang kota pergerakan.

Dari awal abad ke-20, kota ini seakan tak pernah mati. Kongres Pertama Central Sarekat Islam (CSI) tahun 1916 merupakan salah satunya. Hasil dari kongres ini menetapkan Tjokroaminoto sebagai ketua.

Waktu itu, massa yang tergabung ke dalam anggota SI kurang lebih mencapai dua juta orang. Meski diklaim sebagai organisasi terbanyak, namun, masa-masa itu begitu sulit bagi Tjokro karena banyak persoalan yang sering muncul bersamaan. Dimulai dari peristiwa Afdelling B, sampai pecahnya Sarekat Islam menjadi kelompok SI Merah setelah beberapa tahun selanjutnya.

Pada bulan Februari 1923, diadakan Kongres di Maidun. Sebagai buntut dari keterpecahan ini, maka, Kongres ini mengarah pada pembicaraan antara Tjokro di pihak CSI dengan Semaoen di pihak Sarekat Islam Merah. Keduanya mempunyai argumen dalam menentukan arah pergerakan. Sehingga diputuskanlah, bahwa SI Merah bertolak haluan dari CSI pimpinan Tjokro (Gerakan Komunis Hindia Belanda, hlm. 44).

Pada tanggal 4 Maret 1923, di Bandung, digelar Kongres Sarekat Islam Merah dan Partai Komunis Indonesia untuk memecut perlawanan terhadap kapitalisme.

Acara ini dihadiri oleh 15 utusan cabang PKI dan 13 cabang SI lokal. Antara lain: PKI Cabang Bandung, Semarang, Wirosari, Jogjakarta, Madiun, Salatiga, Sumedang, Sukabumi, Rancaekek, Solo, Cirebon, Surabaya, Randublatung, Bogor dan Cicalengka. Sedangkan untuk Cabang SI Lokal dihadiri oleh Cabang Semarang, Wirosari, Bandung, Tasikmalaya, Jogjakarta, Purwokerto, Madiun, Salatiga, Sumedang, Sukabumi, Kaliwungu, Kendal dan Ungaran. Dengan tambahan beberapa utusan organisasi lain seperti, N.I.P.B.O., Pasundan, P.C.P.A. dan Bond Tegen de Werkloosheid (Matahari edisi 17 April 1923).

Blumberger menyatakan, bahwa kongres tersebut dihadiri oleh 16 perwakilan daerah dari Partai Komunis, dan 14 orang dari perwakilan Sarekat Islam bersama serikat pekerja komunis.

Data ini tentu berbeda dengan yang tercatat oleh Matahari. Sebab, sebagai media propaganda komunis, surat kabar Matahari ikut pula meliput acara kongres itu, selain dihadiri oleh beberapa media seperti Sinar Hindia, Neratja, Pahlawan, Islam Bergerak, Warna Warta, Padjadjaran dan surat kabar Handesblad.

BACA JUGA:   Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Kabah mengucapkan Selamat Milad Syarikat Islam ke-115 Tahun

Untuk peserta umum, diperkirakan sekitar 300 orang ikut bergabung. Dengan menurunkan pasukan polisi dalam penjagaan ketat. Supaya proses acara ini berjalan lancar (Matahari edisi 17 April 1923).

Di gedung sekolah SI, acara ini seolah sesak dipenuhi tamu undangan. Bahkan, tata letak dan dekorasi tempat dibuat serba merah. Surat kabar Matahari edisi 15 Maret 1923, menggambarkan kondisi tempat itu sesaat sebelum kongres berlangsung.

“Congres itoe merah boekan sahadja atas pembitjara-pembitjara jang bersifat merah, tetapi gedong tempat congres itoe seakan-akan penoeh dengan perhiasan jang serba merah, maka atas kemerahan itoe semata-mata menarik kepada orang-orang jang berhadir itoe mendjadi merah djoega agaknja”.

Selain didekorasi dengan penuh warna merah, di tengah gedung terdapat podium yang tinggi untuk para pembicara menyampaikan pidatonya. Setiap dinding diletakan gambar tokoh komunis yang menggantung di sebelah kiri dan kanan. Di situ, para hadirin bisa menyaksikan gambar Sneevliet, Tan Malaka dan Darsono, seraya acara berjalan. Tak lupa juga gambar Lenin di tengah podium, gambar Gandhi di sebelah kiri, dan gambar Tjipto untuk menghormatinya sebagai bentuk perlawanan.

“Di tengah-tengah gedong sekolah SI itoe tampaklah soeatoe podioem jang tinggi lagi besar, tiadalah ketahoean apalah jang diboeatnja, sebab kelihatan merah djoega, di moeka podioem di tengah-tengah betoel bergantoengan gambar jang besar, jalah Lenin, sedang di kanan-kirinja gambar itoe adalah bergantoeng djoega gambarnja saoedara kita Sneevliet, Malaka, Darsono ditambah jang kanan tampaklah gambarnja saoedara Bergsma…dan di tembok sebelah kiri tampaklah gambarnja seorang pemimpin besar Britch Indie jalah Mahatma Gandhi jang dewasa ini misih bertapa dalam pendjara, di lain tempat tergantoenglah djoega gambar kawan kita Dr. Tjiptomangoenkoesoemo, jalah seorang pemimpin jang soedah diasingkan dari saoedara-saoedara di Djawa tengah dan wetan, tinggal di Bandoeng jang pada waktoe itoe kelihatan djoega mengoendjoengi Congres dengan njonjahnja” (Matahari edisi 15 Maret 1923).

BACA JUGA:   Di Bandung, Tan Malaka Mendirikan Sarekat Islam School

Acara pun dimulai.

Sebagai tuan rumah, Moh. Sanoesi naik ke atas podium untuk mengucapkan selamat datang dan terima kasihnya kepada para tamu undangan. Setelah itu, murid-murid S.I.S. Bandung menyanyikan lagu Internasionale dengan nyaring dan beriringan. Lalu naiklah Semaoen ke atas podium, untuk membuka acara kongres yang digelar di Bandung itu.

Pada 6 Maret 1923, Kongres PKI kembali digelar di Sukabumi. Acara tersebut masih satu rangkaian dengan kongres 4 Maret di Bandung dengan menghasilkan keputusan bahwa, “PKI dan SI-SI Merah bersatoe dalam satoe badan”. Adapun beberapa peraturan muncul dari keputusan itu di antaranya:

“ 1e. Di tiap-tiap tempat di mana ada SI Merah misti didirikan tjabang PKI 2e. SI Merah dan PKI di itoe tempat misti bekerdja bersama-sama 3e. Dalam bekerdja bersama-sama itoepoen mereka haroes melawan kapitalisme 4e. Semoa oeroesan besar haroes diteroeskan oleh tjabang PKI dan SI Merah di tempat itoe pada Hoofdbestuur PKI Semarang adres voorzitter Semarang 5e. Saban tahoen sekali atau dimana ada perloenja PKI bikin Congres dimana oetoesan-oetoesan SI Merah dan PK menentoekan sikap-sikap goena membela keperloeannja rajat Hindia….” (Matahari edisi 17 April 1923).

Seusai kongres digelar, hambatan datang dari surat kabar Preangerbode.

Menurut laporan yang ditulis oleh Matahari edisi 4 April 1923, koran berbahasa Belanda itu rupanya ingin agar pemerintah melarang kegiatan komunis. Hal ini disampaikan Preangerbode melalui tulisan yang cukup tendensius. Namun, jika perkumpulan komunis betul-betul dilarang pemerintah, maka, seluruh kelompok merah tentu tak akan berdiam diri. Mereka akan membuat gerakan bawah tanah. Yang tentunya, dapat menimbulkan pemerintah Hindia Belanda kewalahan. Itulah yang ditulis kelompok merah, sebagai bentuk serangan balik bila terjadi hal yang tidak memungkinkan.

sumber: ayobandung.com

News Feed