by

15 Pahlawan Nasional dari Sumatra Barat

Print Friendly, PDF & Email

Langgam.id – Sebanyak 15 tokoh kelahiran Sumatra Barat (Sumbar) sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional sejak 1959 hingga 2019. Para tokoh tersebut ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Sukarno, Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Presiden Joko Widodo. Para pahlawan nasional tersebut adalah:

1. Mohammad Hatta
Bung Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902 dan wafat di Jakarta pada 14 Maret 1980. Bung Hatta adalah pejuang kemerdekaan Indonesia, konseptor Pancasila dan UUD 1945 sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia bersama Bung Karno. Bung Hatta ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Kepres Nomor 84/TK/Tahun 2012 tanggal 7 November 2012. Sebelumnya, Presiden Soeharto menetapkan sebagai pahlawan proklamator melalui Kepres No. 081/TK/Tahun 1986.

2. Tan Malaka
Tan Malaka yang bernama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Limapuluh Kota, Sumatra Barat pada 2 Juni 1897. Ia wafat di di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun. Tan Malaka digelari Bapak Republik Indonesia, karena adalah tokoh pertama yang memberi nama Republik Indonesia. Ia keluar masuk penjara karena perlawanan pada pemerintah kolonial untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Sukarno melalui Kepres Nomor 53 Tahun 1963 tanggal 28 Maret 1963.

3. Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang pada 5 Maret 1909 dari ayah keturunan Kotogadang, Agam dan ibu seorang bangsawan Melayu keturunan Minang. Sjahrir adalah pejuang pergerakan kemerdekaan sejak zaman kolonial, keluar masuk penjara karena perlawanan itu. Di awal merdeka menjadi perdana menteri, memperjuangkan pengakuan kedaulatan RI sekaligus pencetus pertama politik bebas aktif. Sjahrir wafat pada 9 April 1966 dan langsung ditetapkan Presiden Sukarno sebagai pahlawan nasional melalui Kepres No.76 Tahun 1966 tertanggal 9 April 1966.

4. H. Agus Salim

Haji Agus Salim lahir dengan nama Masyhudul Haq di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat pada 8 Oktober 1884. Ia adalah sepupu dari ayah Sutan Sjahrir. Pria berjulukan The Grand Old Man, sudah terlibat perjuangan kemerdekaan sejak zaman Hindia Belanda. Ia menguasai 7 bahasa asing dan terlibat aktof dalam diplomasi pengakuan kedaulatan RI di awal merdeka baik sebagai menteri luar negeri maupun diplomat. Haji Agus Salim wafat pada 4 November 1954. Presiden Sukarno menetapkannya sebagai pahlawan pasional pada 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.

5. Abdul Muis
Abdul Muis (ditulis dalam ejaan lama: Abdoel Moeis) lahir di Sungai Pua, Agam, pada 3 Juli 1883. Ia adalah pejuang kemerdekaan sejak Zaman Hindia Belanda. Meski sempat menjadi angota Volksraad, perlawanan terhadap pemerintah kolonial tak surut. Ia ditangkap dan diasingkan di Jawa Barat. Abdoel Moeis adalah pahlahwan nasional pertama yang dikukuhkan pemerintah Republik Indonesia. Presiden Sukarno menetapkannya sebagai pahlawan pada 30 Agustus 1959 melalui Kepres No 218 Tahun 1959.
.

BACA JUGA:   Batik sebagai Alat Pemersatu Bangsa pada Masa Penjajahan Belanda

6. Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, pada 1772. Tuanku Imam adalah salah seorang pimpinan Pasukan Padri melawan tentara Belanda. Di bawah kepemimpinannya kaum Padri berdamai dengan kaum adat dan kemudian bersama menghadapi Belanda. Ia ditangkap Belanda saat dibawa berunding, kemudian diasingkan ke Sukabumi, Ambon dan kemudian ke Manado. Ia wafat pada 6 November 1864. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto berdasarkan Kepres Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

7. Muhammad Yamin
Muhammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto pada 23 Agustus 1903. Yamin sudah aktif dalam perjuangan kemerdekaan sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Pada 1928, aktif dalam kongres pemuda II yang membicarakan persatuan Indonesia. Yamin adalah salah seorang konseptor Pancasila dan UUD 1945, penggali sejarah, sastrawan dan juga ahli bahasa. Di awal merdeka sempat menjadi menteri di beberapa departemen. Yamin wafat di Jakarta pada 17 Oktober 1962. Ia diangkat sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soeharto pada 6 November 1973 melalui Kepres Nompor 088/TK/Tahun 1973.

8. Rasuna Said

Rangkayo Hj. Rasuna Said lahir di Maninjau pada 14 September 1910. Rasuna adalah pendidik, tokoh politik, pejuang emansipasi sejak zaman Hindia Belanda. Rasuna Said adalah salah satu pendiri Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Di zaman penjajahan Belanda, pidato-pidatonya yang menentang pemerintah Hindia Belanda, membuatnya dipenjara pada 1932. Di awal kemerdekaan, Rasuda said mewakili Sumatra Barat di KNIP. Pada masa perang kemerdekaan, ia terlibat di Front Pertahanan Nasional. Rasuna Said juga sempat menjadi anggota DPA. Rasuna Said wafat di Jakarta pada 2 November 1965. Rasuna Said diangkat jadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden No. 084/TK/Tahun 1974 Tanggal 13 Desember 1974.

9. Ilyas Ya’kub
H. Ilyas Ya’kub (juga ditulis Ilyas Yacoub) lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, pada 14 Juni 1903. Ia adalah salah seorang pendiri Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang berjuang menentang politik kolonial Pemerintah Hindia Belanda, hingga dibuang ke Digul hingga Australia. Ia ikut bergerilya dalam perang kemerdekaan. Ilyas Yacoub ditetapkan sebagai pahlawan oleh Presiden BJ Habibie melalui Keputusan Presiden No. 074/TK/1999 tanggal 13 Agustus 1999.

10. Hazairin
Prof. Dr. Hazairin Harahap lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat pada 28 November 1906. Hazairin adalah dari pasangan Zakaria Bahri Harahap dan Aminah (asli Minangkabau). Hazairin adalah pakar hukum adat dan pernah menjabat menteri dalam negeri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo. Pada April 1946, Hazairin menjadi Residen Bengkulu, merangkap Wakil Gubernur Militer Sumatra Selatan. Hazairin kemudian menjadi Guru Besar Hukum Adat dan Hukum Islam di Universitas Indonesia dan sejumlah perguruan tinggi. Hazairin wafat di Jakarta pada 11 Desember 1975. Ia diangkat oleh Presiden BJ Habibie melalui Keppres No. 74/TK/1999 tanggal 13 Agustus 1999.

11. Bagindo Aziz Chan
Bagindo Aziz Chan lahir di Padang pada 30 September 1910. Ia adalah anak keempat dari enam bersaudara dari Bagindo Montok (ayah) dan Djamilah (ibu). Ia adalah wali kota Padang di masa perjuangan. Diangkat jadi wali kota pada 15 Agustus 1946, setelah sebelumnya menjadi wakil wali kota. Bagindo Aziz Chan gugur pada 19 Juli 1947 ditembak tentara Belanda, jelang Agresi Militer I. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada 2005 atas jasa-jasanya selama perjuangan ,melalui Keppres No. 82/TK/2005, 7 November 2005.

BACA JUGA:   16 Oktober 1905: Kontroversi Kelahiran Sarekat Islam dan Hari Kebangkitan Nasional

12. Adnan Kapau Gani
Adnan Kapau Gani Lahir di Palembayan, Agam, Sumatra Barat. AK Gani adalah seorang dokter, politisi dan tokoh militer. Ia pernah menjadi menteri, wakil perdana menteri hingga jadi gubernur di Sumatra Selatan. Berjuang sejak zaman Hindia Belanda, masuk tahanan di masa Jepang, saat perang kemerdekaan, ia banyak membantu perlengkapan militer melalui penyelundupan dari Singapura. AK Gani ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007 melalui Kepres No . 066 / TK / Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007.

13. Mohammad Natsir
Mohammad Natsir Dt Sinaro Panjang lahir di Alahan Panjang, Solok dari orang tua asal Maninjau, Agam. Ayahnya Idris Sutan Saripado, pegawai pemerintah sempat bertugas di Alahan Panjang dan ibunya, Khadijah. Natsir menempuh pendidikan di Maninjau, Alahan Panjang, Padang dan Bandung. Pernah menjadi menteri penerangan. Saat memimpin Masyumi di parlemen RIS, Natsir melontarkan mosi kembali ke negara kesatuan. Mosi Integral Natsir itu akhirnya diikuti parlemen dan semua negara bagian sehingga RIS bubar. Pada 6 Novemver 2008, Presiden SBY menetapkan Natsir sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH.2008

14. Buya Hamka
Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) lahir di Nagari Sungai Batang, tepi Danau Maninjau, Agam pada 17 Februari 1908. Buya Hamka adalah ulama besar, pendidik, sastrawan dan pejuang kemerdekaan itu, Hamka adalah putra ulama besar Minangkabau Dr. Abdul Karim Amrullah. Selama hidup ia menulis 94 buku, termasuk Tafsir Al Azhar. Buya Hamka wafat di RS Pertamina, Jakarta bertepatan dengan 22 Ramadan 1401 H, dalam usia 73 tahun 5 bulan. Buya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Pada 2011, Presiden SBY mengangkat Buya Hamka sebagai pahlawan nasional, antara lain karena jasanya selama perang kemerdekaan melalui Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011.

15. Ruhana Kuddus
Ruhana Kuddus, lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 20 Desember 1884. Ruhana merupakan kakak satu ayah Sutan Sjahrir. Ruhana adalah wartawati pertama Indonesia dan pendiri Surat Kabar Soenting Melajoe. Ruhana aktif meningkatkan pendidikan dan keterampilan kaum perempuan dengan mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Ruhana wafat di Jakarta pada 17 Agustus 1972. Ruhana Kuddus ditetapkan Presiden Joko Widodo sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK Tahun 2019 tanggal 7 November 2019.

(*/HM/SS)

sumber: langgam.id

News Feed