by

Kisah para Pemimpin Islam yang berasal dari Pengusaha Kretek di Kudus

Print Friendly, PDF & Email

Keberadaan organisasi-organisasi Islam di Kudus tidak terlepas dari tangan para pengusaha kretek. Tokoh-tokoh pergerakan Islam Kudus pun berasal dari para haji sekaligus pengusaha yang sukses.

Begitupun dengan Sarekat Islam, organisasi besar pada abad ke dua puluh awal se Jawa. Cabangnya dari daerah Kudus yang pimpinannya oleh seorang Haji pengusaha kretek bernama Haji Djoepri.

Sejarah para Pemimpin Islam yang berasal dari Pengusaha Kretek, Perkembangan Sarekat Islam

S Margana dalam bukunya “Kretek Indonesia dari Nasionalisme hingga Warisan Budaya 2014:17, mengatakan Sarekat Islam berdiri tahun 1912. Pimpinannya bernama Haji Djoepri.

Ia merupakan satu figur berpengaruh dalam pergerakan Islam dan perdagangan Kretek Kudus.

Menurut catatan sejarah, pergerakan Sarekat Islam dalam politik lokal tidak berlangsung lama akibat meletusnya huru-hara anti Tionghoa pada tahun 1918.

Pada tahun tersebut telah jadi kerusuhan hebat yang membuat kota Kudus menjadi mencekam. Ada dua ribu orang Tionghoa yang mengungsi ke Semarang, lima puluh rumah hancur dan delapan orang Tionghoa mati akibat terbakar.

BACA JUGA:   Sandiaga Sebut 9,7 Juta Orang RI Kini Menganggur

Organisasi Islam lain Tumbuh Subur karena Pengusaha Kretek

Masih menurut S Margana, selain Sarekat Islam, Organisasi Islam yang tumbuh dari Kudus seperti Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. NU berdiri pada tahun 1926, pimpinannnya KH R Asnawi yang merupakan seorang pemikir konservatif Islam yang terkenal dari Kudus.

Sedangkan Muhammadiyah Kudus berdiri  pada tahun 1925, pimpinannya K.A Mukti Ali asal Jombang yang ide-idenya terpengaruh oleh reformisme Islam. Muhammadiyah Kudus mempunyai tokoh terkenal , yakni seorang pengusaha Kretek yang membantu perkembangan organisasi ini, ia adalah  H.M. Abdul Kadir.

Saat pendirian Muhammadiyah, H.M Abdul Kadir mengalami kesulitan keuangan. Ia hanya memiliki rumah dan beberapa bidang tanah. Namun pada akhirnya ia berhasil membangun industri kretek. Dalam dua organisasi besar Islam ini banyak pengusaha kretek yang menjadi penggerak sekaligus mendukung secara pendanaan.

Mengutip grafik laporan Departemen Ekonomi bidang Industri dari S. Margana, Dkk (2014: 177), dari 48 pedagang kretek Kudus pada tahun 1930-an, sebanyak 16 pengusaha lainnya mendukung pergerakan Muhammadiyah dan 18 orang pengusaha lainnya mendukung gerakan Nahdatul Ulama (NU). Sisanya mendukung organisasi Islam yang lebih kecil dan mendukung kedua organisasi dalam bidang keuangan.

BACA JUGA:   Mengenang Sosok Pahlawan Bangsa Lewat Film Biografi Terkemuka

Data ini menandakan bahwa para pengusaha kretek memainkan peranan penting dalam gerakan keislaman Kudus. Pada organisasi NU pengaruh kelas pengusaha bumiputera ini tidak terlalu besar dibandingkan dengan peran dan wewenang kiai-kiai.

Sebaliknya, Muhammadiyah para pendukung reformisme Islam adalah para pengusaha kretek bersama para intelek tual yag berprofesi sebagai guru di sekolah Muhammadiyah.

Begitulah sepenggal sejarah yang berkenaan dengan peran para pemimpin Islam yang berasal dari pengusaha kretek Kudus. Mereka mampu mengembangkan organisasi sosial Islam hingga tumbuh subur se Indonesia. (Erik/R9/HR-Online)

Editor: Dadang

sumber: harapanrakyat.com

News Feed