by

16 Oktober 1905: Kontroversi Kelahiran Sarekat Islam dan Hari Kebangkitan Nasional

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Petrik Matanasi – 16 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Tahun kelahiran Sarekat Islam yang lebih tua dari Budi Utomo pertama kali dipopulerkan oleh Tamar Djaja, penulis dan tokoh gerakan Islam di Jakarta.
tirto.id – Suatu hari di tahun 1955, Tamar Djaja mendatangi Haji Samanhudi yang telah berusia 87 tahun. Kepada tamunya, Samanhudi mengatakan bahwa Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kelak menjadi Sarekat Islam (SI) lahir pada tanggal 16 Oktober 1905, tepat hari ini 115 tahun silam. Artinya, SI punya akar sejarah yang lebih tua daripada Boedi Oetomo yang berdiri pada 20 Mei 1908.

Meski baru punya badan hukum setelah tahun 1911, Haji Samanhudi mengklaim bahwa cikal bakal SDI, yaitu Rekso Rumekso yang merupakan ormas keamanan, tidak dimulai pada tahun tersebut. Memang tidak menutup kemungkinan jika tahun 1905 orang-orang bumiputra telah menggiatkan ronda.

Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam Sang Pemula (2002:195) bahwa Rekso Rumekso bersifat rahasia dan masih merupakan perkumpulan tawur. Sementara menurut Parakirti Simbolon dalam Menjadi Indonesia (2006:260-261), Rekso Rumekso adalah organisasi jaga malam (ronda) yang sering adu fisik dengan anggota Kong Sing. Organisasi ini masih belum punya badan hukum dan jika berurusan dengan polisi maka akan minta tolong kepada Djojomargoso, kawan Haji Samanhudi di Kepatihan.

Marthodarsono, bekas redaktur Medan Prijaji mengatakan bahwa Rekso Rumekso adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) cabang Surakarta. Tirto Adhi Surjo, pemuka Medan Prijaji, pada 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamijah di Jakarta dan pada 1911 mendirikan Sarekat Dagang Islam di Bogor.


Tamar Djaja, menurut Deliar Noer dalam Aku Bagian Ummat Aku Bagian Bangsa (1996), adalah penulis populer dan tokoh gerakan Islam di Jakarta. Selain itu, Tamar Djaja juga sangat terpengaruh oleh Haji Samanhudi. “Apa yang diceritakan Samanhoedi ia (Tamar Djaja) terima saja, malah ia promosikan,” tulis Deliar Noer.

BACA JUGA:   Haji Agus Salim, Diplomat asal Sumbar yang Turut Merumuskan UUD 45

Maka itu, ia amat yakin apa yang dikatakan Haji Samanhudi soal hari kelahiran Rekso Rumekso yang kemudian menjadi SDI dan SI. Sekali waktu, Deliar Noer mengunjungi Haji Samanhudi, dan haji yang sudah sepuh itu memperlihatkan kepadanya foto-foto tua yang menurut Samanhudi diambil pada tahun 1905. Delair Noer skeptis.

Informasi dari Haji Samanhudi ini kemudian mendorong PSII memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 16 Oktober 1956. Safrizal Rambe dalam Sarekat Islam Pelopor Nasionalisme Indonesia, 1905-1942 (2008:45) menyebut Haji Samanhudi dan Harsono Tjokroaminoto menghadiri acara Kebangkitan Nasional tersebut. Kala itu Haji Samanhudi sudah kian sepuh dan sakit-sakitan.

Setelah Haji Samanhudi wafat pada 28 Desember 1956, Tamar Djaja lagi-lagi menyebutkan bahwa SDI lahir pada 16 Oktober 1905, kali ini dimuat dalam Majalah Daulah Islamiyah No.1, Januari 1957, terbitan Jakarta. Sejarah SI versi Haji Samanhudi yang diamplifikasi oleh Tamar Djaja ini kemudian melahirkan kebanggaan pada kelompok Islam. Mereka seperti punya pijakan untuk mengklaim bahwa organisasi Islam lebih dulu bergerak ketimbang kaum nasionalis seperti Soetomo dan kawan-kawannya.

BACA JUGA:   Kaum Kiri, Ulama, Umat Islam: Akhir Peristiwa Tiga Daerah

Warsa 1970-an–saat PSII belum dilebur ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP)–dalam Pemilihan Umum 1971: Buku Pelengkap, Volume 1 (1973:148) PSII menyebut: meski secara yuridis lahir [pada tahun] 1912, PSII secara materil sudah ada sejak 16 Oktober 1905. Sudah bersemangat politik dan membangkitkan semangat nasional melawan kapitalisme Belanda dan Kapitalisme Cina yang telah mulai merajalela di tanah air pada saat itu.

Dalam Bunga Rampai Soempah Pemoeda (1978:422) disebutkan bahwa Deliar Noer pernah berdebat dengan Tamar Djaja pada 1957 di harian Abadi soal tanggal kelahiran SI. Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (1980:115) menyatakan bahwa Sarekat Islam berdiri pada tanggal 11 november 1912.

Akademisi Islam lainnya, Ahmad Syafii Maarif juga bersikap kritis atas hari kelahiran SI versi Haji Samanhudi tersebut, meski ia lebih terbuka. Dalam catatan kakinya di buku Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 (1996:17), Syafii menyarankan agar tanggal kelahiran itu ditelusuri lebih dalam. Menurutnya, jika benar maka peringatan Hari Kebangkitan Nasional tiap tanggal 20 Mei harus ditinjau ulang.

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
 
sumber: tirto.id

News Feed