by

Batik sebagai Alat Pemersatu Bangsa pada Masa Penjajahan Belanda

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Setiap  tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari Batik Nasional, pemilihan tanggal 2 Oktober dikarenakan Batik ditetap oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda.

Proses sejarah Batik memiliki peran krusial sebagai awal kesadaran nasionalisme Indoensia, hal ini terlihat sejak pada awal 1990-an banyak daerah di Indonesia pusat penguasa batik seperti di Semarang, Surakarta, Pekalongan dan sebagainya. Khususnya di kota Surakarta terdapat dua kampung sebagai pusat produksi Batik yaitu Laweyan dan Kauman,

Lawean (sekarang laweyan) sendiri sebagai tempat produksi Batik berskala besar sejak tahun 1870-an, karena daerah Laweyan dikelilingi oleh aliran sungai yang bisa membantu dalam produksi Batik. Salah satu tokoh penguasa Batik Laweyan  Haji Samanhudi mampu mendirikan cabang  di Indonesia, seperti Surabaya, Bandung dan beberapa tempat lainnya.

Penguasa Batik Laweyan muncul keinginan unuk membuat wadah bagi para penguasa batik  untuk menentang kebijakan ekonomi pemerintah Kolonial Belanda. Haji Samanhudi dan beberapa orang lainnya kemudian membentuk sebuah organisasi Sarekat Dagang Islam tahun 1905.

Sarekat Dagang Islam merupakan sebuah organisasi yang berlandaskan ekonomi Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar pergeraknya, diawal berdirinya Sarekat Dagang Islam mampu membuat jaringan nasional dengan membentuk cabang-cabang Sarekat Dagang Islam di beberapa kota di Indonesia. Kebangkitan Sarekat Dagang Islam sebagai awal kesadaran gerakan nasionalisme di Indonesia dan adanya pembaharuan dalam sistem organisasi, hal ini terlihat peran Samanhudi  yang menjadikan ekonomi sebagai lahan pergerakan dan  sumber  keuangan yang diperoleh dari hasil penjualan Batik membuat Sarekat Dagang Islam bisa menjaga organisasi bisa tetap hidup.

BACA JUGA:   Pergerakan Nasional: Dampak dari Politik Etis

Perjuangan Sarekat Dagang Islam dalam membangun ekonomi umat dan peran Islam menjadi kiblat dalam hal sumber inpirasi dan pergerakannya melawan ketidakadilan.

Pada berjalanya waktu Sarekat Dagang Islam juga menjalin kerjasama dengan organisasi Kong Sing tahun 1911 dengan adanya kerjasama  tersebut membuat Sarekat Dagang Islam menjadi acaman  bagi pemerintahan Hindia Belanda dan perkembangan ekonomi Belanda di Indonesia

Memasuki tahun 1912  Sarekat Dagang Islam berubah nama menjadi Sarekat Islam, akibat dari perubahan nama tersebut membuat arah pergerakan menjadi berbeda yang semula ekonomi menjadi politik. Perubahan tersebut tidak membuat Samanhudi dan para sahabatnya meninggalkan organisasi yang sudah dirintis sejak awal.

Peran Samanhudi dan para penguasa  batik di Laweyan  memilki kontribusi besar terhadap sejarah  Indonesia hal ini terlihat  dibentuk organisasi Sarekat Dagang Islam. Para saat para pengusaha Batik memilki harta yang melimpah namun mereka tetap memikirkan sebuah perjuangan untuk melawan ketidakadilan pemerintahan belanda pada saat itu.

BACA JUGA:   Sarung dan Kupluk Pun Pernah Dicap Komunis

Pada masa kini Batik bukan hanya kain bergambar  dibuat dari malam atau  digunakan pada acara tertentu, namun terdapat aspek historis yang cukup mendalam, hal ini terlihat batik pada tahun 1990-an  membuat para penguasa bersatu dalam wadah untuk melawan kolonalisme atas ketidakadilan kepada masyarakat Indonesia, perlu masyarakat untuk memahami Batik  bukan hanya pakaian namun nilai sejarah yang ada.

***

*) Oleh: Mulia Syaiful Islam, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

sumber: timesindonesia.co.id

News Feed