by

Polemik R.A.A Wiranatakoesoemah V dengan Kaum Komunis

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

AYOBANDUNG.COM — Hari Minggu 10 Februari 1924, Sarekat Islam berencana menggelar rapat untuk membicarakan sikap Moh Sanoesi kepada Bupati Bandung. Kabarnya, Sanoesi beserta kawan-kawan Komunis lainnya menuding Moeharam Wiranatakoesoemah tanpa berdasar fakta berkaitan dengan kasus kelaparan di Rancaekek. Tudingan itu lalu disanggah oleh pengikut Wiranatakoesoemah secara langsung maupun melalui pernyataan tegas di berbagai media. Seperti yang disampaikan oleh penulis berinisial S, dalam surat kabar Obor milik Bupati Bandung, yang dalam hal ini bernama asli R Soeria Natanegara.

“Dina eta koempoelan tanggal 10 Februari Moh Sanoesi djeung babatoeranana njeboetkeun jen Kandjeng Dalem Bandoeng di Volksraad geus sasaoeran nerangkeun jen di Rancaekek euweuh kalaparan. Eta tjaritaan sama sekali bohong. Henteu saketjap-saketjap atjan Kandjeng Dalem di Volksraad njarioskeun kalaparan di Rantjaekek (Dalam perkumpulan tanggal 10 Februari Moh Sanoesi dan kawan-kawan lainnya menyebutkan bahwa di Volksraad Bupati Bandung sudah menyatakan jika di Rancaekek tidak ada kelaparan. Cerita itu sama sekali bohong. Tidak satu kata pun terucap dari Bupati Bandung di Volksraad membicarakan kelaparan di Rancaekek).”

Para pengikut Wiranatakoesoemah memberikan kesaksian, bahwa sebelumnya, Sanoesi sempat berbicara dengan sang Bupati. Waktu itu, jajaran perangkat desa sedang mengadakan perkumpulan di Buahbatu. Di sana, Moeharam Wiranatakoesoemah tiba-tiba didatangi sekelompok SI Merah sekitar dua puluh orang. Termasuk di antaranya Moh Sanoesi dan Darmoprawiro.

“Kandjeng Dalem Noedjoe koempoelan desa di Boeahbatoe, oedjoeg-oedjoeg djol Moh Sanoesi djeung Darmoprawiro kalawan batoerna S.I. Merah aja kurang leuwih 20 djalma daratang. Mimiti Darmoprawiro oendjoekan ka Kandjeng Dalem nanjakeun ropea-roepa pertanjaan anoe koe Kandjeng Dalem kabeh didjawab. Dipadjahkeun koe Moh Sanoesi mah, Darmoprawiro rek diwidian ngomong teh seuseut seuat, padahal Kandjeng Dalem waktoe harita sakitoe leahna, malah Darmoprawiro ngomongna aja  ¼ jam lilana, koe Kandjeng Dalem didangoekeun bae nepi ka toetoepna. Waktoe harita, Darmoprawiro geus njieun kalakoen henteu sopan ka Kandjeng Dalem. Ti dinja toeloej Moh Sanoesi njoehoenkeun idin, rek njarita, sarta koe Kandjeng Dalem kaidinan. Kakara doa-tiloe ketjap Moh Sanoesi njarita, roepana djalma-djalma teh ngewaeun ningali talandjakna Moh. Sanoesi kitoe (Kanjeng Dalem sedang menggelar rapat desa di Buah Batu, tiba-tiba saja datang Moh. Sanoesi bersama Darmoprawiro dan juga dua puluh orang kawan-kawannya dari SI Merah. Dimulai dari Darmoprawiro mengajukan berbagai pertanyaan kepada Kanjeng Dalem yang semuanya telah dijawab. Kalau kata Moh Sanoesi, Darmoprawiro harus bersusah payah diizinkan berbicara, padahal saat itu Kanjeng Dalem begitu mengalah, bahkan Darmoprawiro sampai berbicara seperempat jam lamanya, oleh Kanjeng Dalem didengarkan saja sampai selesai ia bicara. Sejak saat itu, Darmoprawiro sudah bersikap tidak sopan. Lalu dari situ Moh Sanoesi meminta izin untuk berbicara, kemudian Kanjeng Dalem mempersilakan. Baru saja Moh Sanoesi mengucapkan dua-tiga kata, rupanya orang-orang tidak begitu suka melihat gelagatnya)” tulis Soeria Natanagara.

Polemik Komunis dengan Bupati Bandung itu berbuntut panjang. Tampaknya, kisruh ini bermula dari kasus kelaparan di Rancaekek. Dalam beberapa surat kabar, terjadi saling serang antara media sayap kiri dengan koran-koran yang condong membela Bupati Bandung. Seperti ditunjukkan oleh Obor, media berbahasa Sunda bentukan RAA Wiranatakoesoemah V tahun 1921. Surat kabar yang terbit satu bulan sekali ini begitu memperlihatkan kejengkelannya lantaran Moh Sanoesi dan kawan-kawannya kerap menunjukkan sikap tak suka terhadap priayi maupun pemerintah desa.

BACA JUGA:   Angkatan Laut Belanda Takut kepada Sarekat Islam dan Komunis

“Ijeu Moh Sanoesi taja deui gawena ngan njela Dalem Bandoeng, saban oesik saban malik pikiranana ngan woengkoel kadinja, kalawan kabentjian anoe moehit kana peudjit, koesabab kajoeroeng koe hate sirik pidik (Moh Sanoesi itu tidak ada lagi kerjaannya selain mencela Bupati Bandung, setiap ia mengusik selalu berpaling pikirannya bukan hanya seperti itu, disertai kebencian yang sampai melilit usus, karena dipenuhi dengan iri hati).”

Sekalipun berlanjut pada pertikaian, isu kelaparan di Rancaekek rupanya harus diselidiki. Kala itu, Bestuur’s vergadering PKI Bandung telah memutuskan untuk mengusutnya lebih jauh. Bersama dua orang jurnalis Sapoe Djagatbeberapa orang dari anggota Komunis pergi ke lokasi kejadian. Mereka mewawancarai masyarakat Bobodolan, Rancaekek, yang disinyalir terdapat satu orang mati karena kelaparan. Sebagaimana tersiar dalam Sapoe Djagatnomor 21 tanggal 29 Desember 1923.

“Kita: Apakah dari doeloe orang disini soesah makan?

Djawab: Tida sebab meskipoen orang itoe tida mempoenjai sawah semoeanja, orang jang tida poenja itoe bisa memboeroeh

Kita: Apakah sekarang jang di mempoenjai sawah itoe tida bisa memboeroeh sama jang poenja sawah itoe?

Djawab: Tentoe tida, sebab orang jang poenja sawah djoega ada soesah sebab sedikit pendapatannja, doeloe orang jang memboeroeh dan jang poenja tida begitoe tombok.

Kita: Apakah disini ada orang jang mati lantaran kelaparan?

Djawab: Ja, bilangja ada, jaitoe Nji Saiti namanja”.

Usut punya usut, penelusuran ini berbuah hasil. Meski pada akhirnya, pemerintah tidak mau mengakui dan mengklaimnya sebagai berita omong kosong. Dalam Sapoe Djagat29 Desember 1923 diberitakan, bahwa “Pada Hari Minggu tanggal 23 Desember 1923, SI Cicalengka mengadakan kumpulan dengan massa yang diperkirakan 400 orang. Penjagaan pun diperketat oleh polisi. Karena rapat ini berhubungan dengan pemberitaan yang dianggap bohong oleh pemerintah. Terutama soal kelaparan di Rancaekek”.

Alih-alih mendapat kepercayaan penuh dari rakyatnya, buntut dari berita bohong itu malah berdampak pada kebencian terhadap Wiranatakoesoemah. Sebagai Bupati, Wiranatakoesoemah tidak saja mendapat kritikan atas kebijakan yang dilakoninya. Namun, dia juga memperoleh celaan dan makian dari golongan kontra pemerintahan. Seperti pada Surat Kabar Matahari. Dalam edisi ke-13 tahun kedua, Moeharam mendapat surat terbuka dari seseorang yang menggunakan inisial A Ms. Surat tersebut tidak hanya berisi pembelaannya kepada Sanoesi, tapi juga menggunakan bahasa hujatan dan hasutan.

BACA JUGA:   Sarung dan Kupluk Pun Pernah Dicap Komunis

“Wiranatakoesoemah! Pada ini waktoe kau adalah mendjadi boepati di Bandoeng. Tetapi hendaklah kau mengerti, bahwa soerat-soerat akoe ini boekan terhadap kepada regent Bandoeng, tetapi meloeloe terhadap kepada dirimoe belaka, Moeharam Wiranatakoesoemah, seorang Soenda, bertempat di Bandoeng. Wira! Kau soedah tentu akan kaget, bahwa kau haroes menerima dan menelan perkataan-perkataan akoe ini, kaget disebabkan tidak biasanja. Akan sakit hatikah kamoe dengan perkataan-perkataan ini?”.

Sementara koran-koran Kiri getol melancarkan kritikan, Surat Kabar Obor berupaya untuk balik menyuarakan serangannya terhadap Komunis. Tulisan yang pertama kali dibuat, terhitung pada edisi ke-3 Maret 1924, saat Moh Sanoesi berpolemik dengan Wiranatakoesoemah. Sejak saat itu, Obor rutin menyerang Komunis. Sampai hingga berakhirnya surat kabar ini pada Desember 1924. Dalam edisi ke-6 Juli 1924, Obor menepis hasutan yang dilakukan oleh kelompok Merah itu.

“Boelan tukang geus ditjaritakeun taladjakna pakoempoelan Koemunis, alias SI merah, alias Sarekat Rajat teh taja lian ngan ngasoet, njiar kagorengan, ngotjeh-ngotjeh ka priaji, ka Pamarentah desa. Saban koempoelan geus djadi kabiasaan mojok ka kapala teh (Bulan yang lalu sudah diceritakan tingkah laku perkumpulan Komunis, alias SI Merah, alias Sarekat Rakyat itu tiada lain hanya menghasut, menyebarkan keburukan, meracau kepada priayi juga Pemerintah desa. Setiap kumpulan sudah menjadi kebiasaan mereka mengejek terhadap kepala desa)”.

Serangan-serangan yang tertuju pada Wiranatakoesoemah ternyata tidak membuat kendor para pengikutnya untuk kembali menyerang. Seperti pada edisi ke-3 Maret 1924, para penulis Obor menganggap bahwa pergerakan Komunis hanyalah sekumpulan orang-orang bodoh.

“Pergerakan Komoenis asal ti Nagara Roes ajeuna geus tepa ka oerang. Datangna kadesa, tepina ka sisi eta pakoempoelan make ngaran Sarekat Rajat, sarta djelema noe barodo, kabobodo! (Pergerakan Komunis berasal dari Negara Rusia sekarang sudah menyebar ke negara kita. Datangnya ke desa, hingga sampai ke sebuah perkumpulan yang menggunakan nama Sarekat Rakyat dan orang-orang bodo, yang dibodohi!)”.

Saling serang antara Sanoesi dan kawan-kawan Komunis dengan Wiranatakoesoemah, tampaknya, baru berhenti saat Surat Kabar Obor padam tahun 1924. Meski demikian, kritik-kritik golongan Merah itu tidak seketika berhenti sampai di situ. Selama Wiranatakoesoemah V menjabat sebagai Bupati Bandung, tekanan kaum Komunis terus meningkat. Namun, setelah pemberontakan yang terjadi tahun 1926, serangan pun mulai mereda. Seluruh golongan Merah yang terlibat pemberontakan diboyong ke Boven Digul untuk diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Termasuk, tokoh-tokoh pergerakan Komunis di Priangan, antara lain, Moh Sanoesi dan Wiranta ikut pula diasingkan.

sumber: ayobandung.com

News Feed