by

Kiprah Haji Samanhudi, Pedagang Batik dan Perintis Sarekat Islam

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Petrik Matanasi – 13 Oktober 2020
Selain dikenal sebagai tokoh pendiri Sarekat Islam, Haji Samanhudi juga pedagang batik yang kaya.
Haji Zen, putra Kyai Kartowikoro, mengikuti jejak ayahnya dengan berjualan batik. Usahanya maju, sehingga ia menjadi salah seorang pengusaha batik yang kaya raya. Haji Zen mempunyai beberapa orang anak, yakni Haji Alwi di Banyuwangi, Haji Amir di Bandung, dan Haji Samanhudi di Solo. Ketiganya sama-sama berjualan batik.

Di antara anak haji Zen, Samanhudi yang paling terkenal. Dia merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (SI), organisasi yang perannya sangat besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Sebagai anak orang kaya, Samanhudi–yang awalnya bernama Sudarno Nadi–belajar di sekolah dasar berkurikulum pemerintah kolonial macam Eerste Inlandsche School. Menurut Muljono dan Sutrisno Kutoyo dalam Haji Samanhudi (1984:31), dia juga belajar agama Islam pada Kyai Djodjermo setelah belajar mengaji di kampung Laweyan.

Pemuda kelahiran 1868 ini menikah dengan Suginah, anak Kyai Badjuri, pada usia 20 tahun. Setelah menikah, dia memakai nama Wirjowikoro, hampir sama dengan nama kakeknya. Samanhudi juga menikah dengan Marbingah, istri keduanya. Tahun 1904, Samanhudi naik haji ke Makkah dan pulangnya sah menyandang gelar haji.

Usaha Haji Samanhudi kian maju. Menurut Muljono dan Sutrisno Kutoyo, pegawainya mencapai ratusan orang dan untungnya rata-rata 800 gulden sehari.

“Jumlah itu adalah jumlah yang besar sekali, sebab pada masa itu gaji seorang bupati rata-rata hanya 1.000 gulden dalam sebulan,” imbuh mereka.

Perusahaan Haji Samanhudi punya cabang di Solo, Bandung, Purwokerto, Surabaya, dan Banyuwangi.

BACA JUGA:   Polemik R.A.A Wiranatakoesoemah V dengan Kaum Komunis

“Barangkali [Haji Samanhudi] satu-satunya pedagang Laweyan yang sanggup membuka toko sejauh itu,” tulis Kuntowijoyo dalam Petani, Priyayi dan Mitos Politik (147). Masih menurut Kuntowjoyo, Haji Samanhudi adalah yang membawa masuk orang-orang Laweyan ke Boedi Oetomo.

Sebagai pedagang batik, Haji Samanhudi bergabung dengan perkumpulan bernama Kong Sing. Organisasi ini terkait dengan pengadaan bahan-bahan batik dan kerukunan kematian. Pada perjalanannya, Haji Samanhudi melihat ketidakberesan pada perkumpulannya. Dia menilai para pedagang Tionghoa hendak mendominasi Kong Sing dengan cara menonopoli bahan batik seperti kain putih, soga, dan lainnya. Barang-barang itu hanya dapat diperoleh lewat tangan pedagang Tionghoa dengan harga yang sudah dimainkan.

Pedagang non Tionghoa tidak terima dengan kondisi itu. Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan Jilid 1 (121) menyebut “timbul usaha dari pengusaha batik di kota Surakarta untuk mengadakan persatuan demi melawan taktik dagang pedagang Cina. Usaha ini dipelopori oleh Haji Samanhudi di Kampung Laweyan di Kota Surakarta.”

Sebuah organisasi rahasia yang mirip dengan Kong Sing pun didirikan, namanya Rekso Rumekso. Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula (2002:195) menyebut organisasi ini “bersifat rahasia, dan masih tetap merupakan perkumpulan tawur.”

Menurut Parakirti Simbolon dalam Menjadi Indonesia (2006:260-261), pada mulanya Rekso Rumekso hanya organisasi jaga malam (ronda) yang sering adu fisik dengan anggota Kong Sing. Karena organisasi ini belum punya badan hukum, maka jika berurusan dengan polisi akan minta tolong kepada Djojomargoso, kawan Haji Samanhudi di Kepatihan.

Marthodarsono, bekas redaktur Medan Prijaji, menyebut Rekso Rumekso sebagai Sarekat Dagang Islam (SDI) cabang Surakarta. SDI memang terkait dengan Tirto Adhi Surjo, pemuka Medan Prijaji, yang pada 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamijah di Jakarta dan pada 1911 mendirikan Serikat Dagang Islam di Bogor.

BACA JUGA:   Aldie Abdurrozaq mengucapkan Selamat dan Sukses Milad Syarikat Islam ke-115 Tahun

Rekso Rumekso yang dipimpin Samahudi akhirnya mempunyai badan hukum pada 1911. SDI di Surakarta berbeda dengan yang di Jakarta atau Bogor. Di bawah Samanhudi dan kawan-kawan, pada 1912 SDI menjadi Sarekat Islam. Organisasi ini kemudian berkembang dan mencapai puncak kejayaan di bawah pimpinan Haji Omar Said Tjokroaminoto.

Meski baru punya badan hukum setelah 1911, SDI yang jadi Sarekat Islam itu tak dimulai pada tahun 1911. Cikal bakal Rekso Rumekso lebih tua lagi. Pada 1955, Haji Samanhudi mengaku kepada Tamar Djaja dalam Majalah Daulah Islamiyah No.1, Januari 1957 terbitan Jakarta, SDI lahir pada 16 Oktober 1905. Hal ini diamini para politikus Islam, setidaknya mereka yang bergiat di Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), penerus Rekso Rumekso, SDI, dan SI.

Cikal bakal SI versi Samanhudi yang lebih tua daripada Boedi Oetomo, tentu menjadi kebanggaan kelompok Islam. Bahkan Ahmad Syafii Maarif dalam catatan kakinya di buku Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 (1996:17) mengusulkan agar tanggal kelahiran ditelusuri. Menurutnya, jika hal itu benar maka Hari Kebangkitan Nasional harus ditinjau ulang.

Sebelum Haji Samanhudi wafat pada 28 Desember 1956, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) telah mengadakan acara Kebangkitan Nasional pada 16 Oktober 1956. Safrizal Rambe dalam Sarekat Islam Pelopor Nasionalisme Indonesia 1905-1942 (2008:45) menyebut Samanhudi dan Harsono Tjokroaminoto menghadiri acara Kebangkitan Nasional versi Sarekat Islam.

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
sumber:

News Feed