by

Jembatan Ambruk, Aktivis Nilai Ada Kelalaian

Print Friendly, PDF & Email

Faktual.Net, Sinjai, Sulsel – Pembangunan Jembatan Ruas Pakkita – Kalamisu merupakan pekerjaan konstruksi berasal dari instansi Pemkab Sinjai satuan kerja Dinas PUPR, Pelaksana PT. Te’ne Jaya, Sumber Dana Pinjaman Daerah (DPD) dengan Nilai Kontrak Rp10.671.771.098,88. Lokasi Desa Aska Sinjai Selatan – Desa Salohe Sinjai Timur Kabuten Sinjai, ambruk akibat adanya dugaan kelalaian pelaksana.

Ditemui secara terpisah Saiful Ketua Bidang Lingkungan Hidup HMI cabang Sinjai, Ketua bidang pengembangan organisasi DPC Semmi (Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia) Sinjai, Wahyuddin Hidayat dan Ketua Lidik pro DPD Kabupaten.Sinjai Imran Dan Konsultan Pengawas Saktiawan Spd.SH.

Saiful sapaan bang Iful menyayangkan robohnya talud tersebut yang diduga kuat adalah karena faktor kelalaian dan tidak sesuai teknis dari perencanaan yang tercantum di RAB dari dasar awal dari pembangunan jembatan ruas Pakkita – Kalamisu, Sinjai (03/10/2020).
“Namanya pembangunan yang berkualitas itu tidak akan roboh, tapi ini diduga tidak sesuai dengan RAB dari perencanaan awal. Tidak semudah itu rusak seandainya sesuai dari perencanaan awal.Berarti itu ada kelalaian di dalamnya, baik mulai dari pekerja konsultan, kontraktor maupun instansi terkait,” ungkapnya.

Dia sangat prihatin apalagi sumber dana dari pembangunan jembatan tersebut berasal dari dana pinjaman daerah yang diperuntuhkan untuk masyarakat menikmati jembatan tersebut.

“Walaupun pengembalian dari pajaknya yang menanti, tapi itu tidak jadi masalah yang penting kualitas dijaga.Tapi ini belum dipakai, kok sudah ada yang roboh. Ada apa?,” ujar bang Iful.

Wahyuddin Hidayat mengatakan, pihaknya merasa prihatin terkait proses pengerjaan. Pasalnya, belum cukup satu bulan sudah ambruk pondasinya, ini membuktikan proses pengerjaanya sembrono, Olehnya itu pihaknya berharap kepada Dinas PU PR Sinjai serta rekannya harus bertanggung jawab dan mengevaluasi pihak kontraktor.

BACA JUGA:   Semangat Mahasiswa Melawan Pandemi (SEMMI)

“Anggaran ini merupakan dana pinjaman Pemda, kasihan kalau belum difungsikan lantas jembatan ini sudah ambruk. Kami mengecam kalau masalah ini tidak ditindaklanjuti dan jangan salahkan kalau kami akan melakukan aksi,” ungkapnya dengan nada kesal.

Saiful sapaan bang Iful menyayangkan robohnya Talud tersebut yang diduga kuat adalah karena faktor kelalaian dan tidak sesuai teknis dari perencanaan yang tercantum di RAB dari dasar awal dari pembangunan jembatan ruas Pakkita – Kalamisu.

Ketua LSM Lidik pro DPD Kabupaten Sinjai Imran pertanyakan, bagaimana tidak runtuh kalau kualitas pasangan batunya seperti itu, banyak sela sela pasangan batu yg tidak terisi campuran semen. Jadi, kalau dengan alasan karna beban saya pikir dalam perencanaanya memang sudah di perhitungkan kekuatannya untuk menahan beban.

Kami juga meminta kepada pihak terkait serta Anggota DPRD kabupaten sinjai untuk turun langsung kelapangan melihat kondisi dan kualitas pekerjaan ini, ujar Imran.

Sementara Konsultan Pengawas, Saktiawan, S.Pd., SH yang ditemui di lokasi proyek jembatan mengatakan, robohnya talud itu disebabkan oleh kelalaian operator.

Baca Juga :  289 Juta Dihabiskan Ke Morotai, Akademisi Nilai DPRD Tidore Boros Anggaran

“Ditambah lagi terjadi hujan pada malamnya dan pasang batunya baru dua hari itu dan juga disini tidak pakai subkont, cuma pekerja, sehingga terjadi hal yang kita tidak harapkan,” katanya.

BACA JUGA:   HUT Polri ke 75 Tahun : Bhayangkara Kemarin, Hari Ini dan Esok

Persoalannya konstruksi terhadap perbandingan kemiringan. Ini kemiringan talud satu banding satu satengah (1/1,5), namun yang sebenarnya harusnya kemiringan  talud satu banding tiga (1/3) itu masih mau keluar sekitar satu setengah meter (1,5 meter) hingga dua meter (2 Meter).

“Tapi mau diapa, tanahnya orang.Kalau dipaksakan diambil tanahnya orang mattikkessi taue silong masyarakake (red, bahasa indonesia ‘cekcok sama masyarakat’),” ungkapnya.

Salah satu pekerja yang sempat ditemui Ullah mengakui kalau dirinya hanya bekerja sesuai apa yang diperintahkan oleh Bos.

“Apalagi hanya pemasangan batu apa yang ada disitu itu kami lakukan,” jelasnya.

Dalam Pamantauan wartawan saat meliput di lokasi kejadian, di sisi lain dari pekerja pemasangan Rangka Baja pekerjanya tidak menggunakan alat pelindung diri (APD).

Hingga berita ini diturungkan pihak PT. Te’ne Jaya dan DPRD Sinjai, belum berhasil dikonfirmasi, sedangkan Dinas PUPR Kabupaten Sinjai belum memberikan penjelasan/keterangan seperti di saat ditemui Gistan menjawab hari selasa 13/10/2020 akan diberikan penjelasan.karena akan datang langsun mengecak dan pekerjaan  Talud Jembatan Akan di hentikan sementara.

Reporter : Syamsul B

sumber: faktual.net

News Feed