by

Modernisasi Islam di Jawa, Berawal dari Para Haji yang Reformis

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Bagaimana awal modernisasi Islam di Jawa? Agama Islam diperkirakan mulai menyebar di Pulau Jawa pada abad ke-11. Bukti paling aktual bisa ditunjukkan dengan keberadaan sebuah makam perempuan bernama Fatimah Binti Maimun di Gresik, Jawa Timur, yang meninggal pada 7 Rajab 475 H atau 1 Desember 1082.

Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa persebaran agama Islam di Jawa secara massif diperkirakan baru terjadi pada awal abad ke-15. Hal ini bersamaan dengan dikuasainya perdagangan pesisir pulau Jawa oleh para pedagang Islam dari Arab, Gujarat, Persia, Cina, Campa, dan Melayu.

Terlepas dari itu semua, perkembangan Islam pada abad tersebut diketahui masih dicampuri dengan syariat-syariat tradisional yang oleh sebagian orang dianggap masih berbau Takhayul, Bid’ah, dan Churafat. Hal ini terjadi karena pengaruh dari kebudayaan Hindu Budha yang masih kentara di dalam kebiasaan masyarakat Jawa.

Namun, pada abad ke 20 modernisasi Islam di Jawa mulai dilakukan oleh kelompok reformis yaitu para haji yang pulang dari Mekah. Para Haji yang memiliki semangat reformis ini kemudian mengubah stigmatisasi Islam tradisi menjadi modern.

Mereka mengubah Islam di Jawa menjadi agama yang realistis. Selain itu juga tak terpengaruh lagi oleh kebiasaan Hindu dan Budha yang akrab dengan kebiasaan menyembah benda dan seperti berhala yang dilarang dalam agama Islam

Sejarah Modernisasi Islam di Jawa

Zainul Munasichin dalam bukunya yang berjudul “Berebut Kiri: Pergulatan Marxisme Awal di Indonesia” (2005: 57), mengungkapkan bahwa ketika memasuki abad ke 20, bersamaan dengan arus modernisasi Hindia, daerah pesisir dan beberapa kantong muslim (Santri) di daerah pedalaman mengalami perkembangan pesat pada sektor ekonomi.

BACA JUGA:   MTs Cokroaminoto Madukara Kabupaten Banjarnegara memulai implementasi KBM Tatap muka dengan Adaptasi Kebiasaan Baru

Kudus, Jepara, dan Surabaya sebagai tiga mata rantai daerah basis Islam pesisiran dilaporkan menjadi pusat perdagangan termaju saat itu.

Begitu juga kota-kota santri di daerah pedalaman seperti, Kotagede di Yogyakarta dan Laweyan di Solo. Kedua kota tersebut sempat mendapat pujian dari pemerintah Hindia Belanda sebagai kawasan paling bergairah dalam sektor perdagangannya.

Zainul Munasichin dalam buku yang sama, menyebutkan bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa daerah santri yang disebutkan diatas memiliki gairah ekonomi sangat tinggi.

Terutama dibandingkan dengan daerah pedalaman Jawa yang masuk peta wilayah Mataram. Salah satunya adalah peran para tokoh Islam di kawasan ini setelah pulang naik Haji dari tanah suci makkah.

Pemerintah Hindia Belanda pernah menyatakan salut terhadap para jama’ah haji Indonesia yang dianggap telah berperan meningkatkan etos kerja masyarakat bumiputera.

Para haji itu, menurut pemerintah, memiliki sikap rajin dan ulet dalam berdagang. Etos kerja semacam ini tidak dimiliki masyarakat Islam pedalaman yang cenderung konservatif.

Modernisasi Islam Berawal dari Para Haji yang Mengusung Tema Anti TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat)

Perlu diketahui bahwa pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, masyarakat Islam Timur Tengah sedang dilanda demam gerakan anti Takhayul, Bid’ah, dan Churafat atau biasa disingkat dengan TBC. Pelopor gerakan ini dianggap sebagai pola pembaruan Islam di Jawa, Beliau bernama Muhammad Abduh.

BACA JUGA:   MTs Cokroaminoto Madukara mengucapkan Selamat HUT TNI ke 75 tahun

Zainul Munasichin (2015: 58), menyebut bahwa Muhammad Abduh pernah berkata mengatakan jika ingin bangkit, masyarakat Islam harus berani meninggalkan dan memerangi praktik TBC.

Menurutnya, masyarakat Islam sudah harus mulai memurnikan ajaran Islam dari mitos dan tradisi yang sebetulnya tidak pernah diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dengan kemurnian ajaran Islam gerakan pembaharu menginginkan masyarakat Islam berpikir rasional dalam melihat realitas sosial. Muhammad Abduh, menyebut gerakan pembaruan ini sebagai Nahdhah (Kebangkitan) Islam atas keterbelakangan pengetahuan dan kemiskinan.

Lalu bagaimana keterkaitan antara jama’ah haji bumiputera, Timur Tengah dan gerakan pembaharuan Islam?

Samanhoedi Reformis Islam dari Jawa

Zainul Munasichin (2015: 50), menyebut bahwa perubahan radikal muslim bumiputera setelah naik haji juga ditemukan dalam diri H. Samanhoedi. Tokoh yang kemudian memprakarsai berdirinya Sarekat Islam ini dilaporkan mengalami perubahan sikap dan perilaku setelah naik haji pada tahun 1904.

Selama berada di Mekah, Samanhoedi mengaku telah berkenalan dengan banyak tokoh Islam dari berbagai negara. Sepulangnya dari sana ia mendirikan perkumpulan Mardhi Budhi.

Perkumpulan tersebut bertujuan memberikan bantuan keuangan kepada anggotanya untuk keperluan perkawinan, selamatan, ataupun acara kematian. Dalam perkumpulannya ini, H. Samanhoedi menjabat sebagai ketua.

Begitulah sepenggal sejarah modernisasi Islam di tanah Jawa. Para haji yang baru pulang melaksanakan ibadah dari Mekah menerapkan ajaran Islam yang dipelajarinya selama berada di tanah suci. Sehingga menjadi pelopor gerakan pembaharuan Islam. (Erik/R7/HR-Online)

sumber: harapanrakyat.com

News Feed