by

Sarung dan Kupluk Pun Pernah Dicap Komunis

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Sarung dan kupluk pernah diasosiasikan sebagai simbol komunis.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar

Kremlin menghormatinya dengan kewarganegaraan Rusia. Dia fasih berbahasa Rusia dan Cina. Dia terbiasa menciptakan kolam pemancingan berair keruh, tempat ia mengambil keuntungan.

“Di mana kekacauan melanda, kerumunan dengan mudah menjadi komunis,” tulis Nieuw Nederland, 25 Mei 1948, memuji keahlian Alimin.

Gayanya santun khas Jawa, jika berbicara malu-malu dan takut-takut, tetapi kata-katanya berapi-api. Pada 4 Juni 1946, ia berbicara lima jam tentang perkembangan komunisme. Ia mendukung republik dengan slogan tiruan dari Moskow “Merdeka 100 Persen”.

Sandal Alimin juga sudah setengah aus. Bajunya tidak diseterika. Kancing baju tak semua dikancingkan. Sarungnya juga sudah ditambal. Amir Syarifuddin juga mengenakan sarung saat ditangkap di Klambu, Grobogan, pada 29 November 1948, karena pemberontakan PKI di Madiun.

Sarung (dan juga kupluk) pernah diasosiasikan sebagai simbol komunis. Hal itu terjadi setelah banyak beredar sarung cap palu arit dan bintang bulan sabit. Palu arit merupakan logo Partai Komunis Indonesia (PKI), sedangkan bintang bulan sabit sebagai logo Sarekat Rakyat, pecahan dari Sarekat Islam (SI) setelah SI melarang rangkap keanggotaan. Anggota Sarekat Islam yang juga anggota PKI kemudian memisahkan diri dan membentuk Sarekat Rakyat.

Sarung ini sudah beredar pada 1926. Di majalah komunis Mowo yang terbit di Solo ada iklan besar toko batik milik HM Ngoeman yang menjual sarung batik palu arit seharga 26 gulden per kodi. Ini masih di bulan April 1926. Pada Oktober 1926, sarung-sarung itu sudah dijual pula di Sumatra.

Pada Oktober itu, polisi menyita 160 sarung batik palu arit dari enam pedagang di Padang. Penyitaan dilakukan setelah polisi mendapati seorang perempuan mengenakan sarung itu. Perempuan itu membelinya seharga 1,4 gulden di Kampung Jawa. Murah, karena harga pasaran sarung dua gulden per lembar.

BACA JUGA:   Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Kabah mengucapkan Selamat Milad Syarikat Islam ke-115 Tahun

Berdasarkan informasi inilah polisi mendatangi rumah-rumah pedagang di Padang untuk menyitanya. Penyitaan juga dilakukan di Pasar Gadang, karena dari sinilah para pedagang kecil mendapatkan sarung. Dua pemasok sarung mengaku mendapat kiriman dari Solo.

Polisi mendapati sarung ini dipesan pada Juli, namun hingga Oktober hanya terjual 15 sarung. Di pantai timur Sumatra, polisi juga menyita sarung-sarung jenis ini.

Pada suatu malam di Januari 1927 ada 100 remaja di pintu masuk terowongan rel kereta api dekat Muaro Kalaban mengenakan sarung dan kupluk. Di jembatan di atasnya ada pula beberapa remaja dengan sarung dan kupluk pula. Asisten Residen Tanah Datar Karsen mencurigai mereka, karena tak biasanya anak-anak remaja bercengkerama malam hari di jembatan itu. Karsen segera mendekati mereka dan berbincang dalam bahasa Melayu. Dapat informasi mereka akan membakar dua gudang dinamit.

Karsen segera menodongkan revolvernya dan meniup peluit memanggil pasukan yang siaga. Para remaja itu kemudian dibawa ke Sawahlunto. Rupanya mereka anak-anak muda komunis. Sebelumnya pembakaran telah terjadi di Padang.

Sebelum mengenal sebutan koplook, sepertinya orang Belanda menyebut kupluk yang dipakai para pemuda komunis itu sebagai topi Padang. Dari koplook (hiasan kepala) kita mengambilnya menjadi kupluk. Orang Belanda juga menyebutnya sebagai petje (topi kecil) yang kemudian kita ambil menjadi peci.

De Locomotief edisi 12 Januari 1927 melaporkan adanya anak sekolah di sekitar Malang yang dipukul polisi karena mengenakan topi Padang itu. Para pemuda yang melakukan konferensi di Jawa Tengah juga diimbau tidak memakai sarung dan kupluk.

Setelah kerusuhan yang dilakukan komunis 19 November 1926, di Semarang diberlakukan jam malam. Pos-pos militer disiagakan untuk memberikan peringatan. Warga sipil dilarang mendekati area yang ada pos-pos militer itu.

BACA JUGA:   Peristiwa 16 Oktober: Berdirinya Sarekat Islam

Ini kejadian sekitar pukul 03.30 pada 20 November 1926 di dekat gudang garam setelah kerusuhan di Semarang. Ada orang yang bangun dari tidur, kerubutan sarung berjalan ke arah pos. De Indische Courant 23 November 1926 melaporkan, peringatan tak digubris, penjaga lalu menyerangnya dan menghantam dada kirinya hingga terluka parah. Baru ketahuan esok siangnya bahwa orang itu adalah kuli gudang garam dekat pos militer.

Di Surabaya, gara-gara kupluk dua kuli meninggal dunia. Seorang kuli mencuri kupluk kuli yang sedang tidur. Saat kupluk diambil, si pemilik terbangun dan menangkapnya lalu lapor ke polisi bersama petugas. Di tengah perjalanan malam itu kuli pencuri mencoba kabur dengan menceburkan diri ke Kali Mas. Kuli pemilik kupluk menyusulnya.

De Locomotief edisi 13 November 1937 melaporkan, setelah keduanya tak muncul-muncul, alat pengeruk pun dikerahkan. Terangkat kuli pencuri sudah meninggal. Kuli pemilik kupluk baru ditemukan esok harinya di tempat lain di Kali Mas, juga sudah meninggal.

Setelah kemerdekaan, orang Belanda pun masih alergi dengan kupluk. Menurut Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 10 Januari 1951, ada 280 orang Jawa pelayan kapal Oranje milik Belanda sejak pagi mendesak diizinkan mengganti ikat kepala ataupun blangkon dengan kupluk.

Kuli pelabuhan yang sudah memakai kupluk mendukung mereka. Satu per satu mereka dipanggil diminta menaati aturan pemakaian blangkon/ikat kepala, tetapi mereka tetap ingin memakai kupluk.

Karena tuntutan ini, kapal Oranje meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok sore hari, terlambat empat jam dari jadwal pukul 11.00, tanpa para pelayan. Barang-barang milik para pelayan pun diturunkan dari kapal.

Di atas kapal, Kapten Oranje Hemmes mengumumkan tak ada layanan kabin. Kopi atau teh, misalnya, harus dipesan sendiri oleh penumpang di bar.

sumber: republika.co.id

News Feed