by

Puan Bicara ‘Sumbar dan Pancasila’, Ini Deretan Pahlawan dari Ranah Minang

Print Friendly, PDF & Email

Jakarta – Ucapan Ketua PDIP Puan Maharani soal Sumatera Barat dan negara Pancasila menggelinding bak bola salju. Kontroversi muncul dari sana dan sini. Ngomong-ngomong soal Sumatera Barat, ada deretan panjang nama-nama kelahiran Ranah Minang yang diakui sebagai pahlawan nasional oleh negara Pancasila ini.

Tokoh-tokoh dari Sumatera Barat berikut ini berasal dari beragam era, dari zaman penjajahan Belanda, hingga zaman perjuangan kemerdekaan. Namun yang jelas, mereka telah diakui berjasa bagi negara Pancasila ini. Berikut adalah definisi pahlawan nasional menurut UU Nomor 20 Tahun 2009:

Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Berikut adalah daftar pahlawan nasional dari Sumatera Barat, dihimpun penulis dari catatan pemberitaan detikcom hingga keterangan situs resmi Direktorat K2KRS Kementerian Sosial, Minggu (6/9/2020).

1. Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional sejak tahun 1973. Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pada 1772. Dia meninggal di Sulawesi Utara pada 6 November 1864.

Pada 11 Januari 1833, pahlawan yang juga bernama Peto Syarif ini menyerang pertahanan Belanda. Dia menolak ajakan berdamai melalui Plakat Panjang yang diumumkan pada 25 Oktober 1833 dengan syarat menghancurkan benteng pertahanan mereka.

Sayang sekali, pada 28 Oktober 1837, Imam Bonjol tertipu. Saat dia menerima ajakan berunding Residen Francis, dia ditangkap dan akhirnya dibawa keluar Ranah Minang. Tokoh Minang itu wafat di Minahasa.

Sebagai ulama, dia tokoh terkemuka yang mengembangkan paham paderi dengan cara persuasif, juga menyebarkan Islam ke Tapanuli Selatan.

Gambar pahlawan Imam Bonjol dalam pecahan uang Rp 5.000Gambar pahlawan Imam Bonjol dalam pecahan uang Rp 5.000 Foto: Ari Saputra

2. Abdul Muis

Abdul Muis adalah sastrawan, wartawan, dan wakil rakyat di Volksraad (dewan rakyat). Lewat sastra, karyanya abadi, misalnya Salah Asuhan (1928). Abdul Muis lahir di Sungai Puar, Agam, 3 Juli 1883.

Dia berjasa dalam perjuangan lewat jurnalisme. Muis membantu harian De Express untuk menulis karangan yang menangkis penghinaan terhadap bangsanya Tahun 1916 ia bersama Agus Salim memimpin majalah Neraca, dan juga menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda.

Pahlawan Nasional, Abdul Muis (Direktorat K2KRS Kemsos)Pahlawan Nasional, Abdul Muis (Direktorat K2KRS Kemsos) Foto: Pahlawan Nasional, Abdul Muis (Direktorat K2KRS Kemsos)

Muis adalah pendorong berdirinya Technische Hooge School (ITB, Institut Teknologi Bandung). Abdul Muis wafat pada 17 Juni 1959 di Bandung. Dia menjadi Pahlawan Nasional sejak 30 Agustus 1959.

3. Agus Salim

Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq, di Koto Gadang, Agam, 8 Oktober 1884 dan meninggal dunia pada usia 70 tahun di Jakarta. Mashudul Haq dipanggil sebagai Agus Salim lantaran pengasuhnya yang dari Jawa sering memanggilnya dengan sebutan ‘Gus’, sedangkan ‘Salim’ adalah nama ayahnya.

Dia adalah tokoh besar dalam sejarah negara ini. Penguasa sembilan bahasa ini adalah pejuang kemerdekaan, politikus, jurnalis, anggota BPUPKI, hingga pernah menjadi menteri luar negeri.

Dalam catatan sejarah politik, Agus Salim dikenal sebagai tokoh Sarekat Islam (SI). Dia dan Semaoen mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh pada 1919. Agus Salim kemudian masuk ke kategori SI Putih, bertolak belakang dengan SI Merah cikal bakal PKI yang digawangi Semaoen. Pada 1929, Agus Salim menjadi ketua Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Agus Salim melontarkan gagasan Pan-Islamisme, atau persatuan umat Islam seluruh dunia. Dia menjadi anggota Volksraad (semacam DPR era Hindia-Belanda), namun keluar pada 1924 karena tidak mau bekerjasama dengan Belanda.

Di jalan jurnalisme, dia dan HOS Tjokroaminoto menerbitkan Fajar Asia pada 1925 di Yogyakarta, juga memimpin Hindia Baru di Jakarta. Agus Salim menjadi anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan.

 

ilustrasi agus salimilustrasi agus salim Foto: Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah

 

4. Ruhana Kuddus

Sosok wartawati ini adalah tokoh paling baru dari Sumatra Barat yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, yakni pada 7 November 2019. Ruhana Kuddus lahir di Koto Gadang, Agam, pada 20 Desember 1884.

Jurnalis perempuan pertama ini mengawali karirnya di surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia, sebelum surat kabar itu dibredel Hindia-Belanda. Selanjutnya, dia mendirikan Sunting Melayu pada 1911 dan menjadi pemimpin redaksi koran perempuan pertama.

Ruhana adalah sepupu H Agus Salim dan masih bersaudara dengan Sutan Sjahrir, sekaligus bibi penyair Chairil Anwar. Ruhana wafat pada 17 Agustus 1972, dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.Sebelum ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional, Ruhana sudah menerima sederet penghargaaan, antara lain Bronzen Ster (1941), Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1987), dan Penghargaan Kebudayaan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2007).

BACA JUGA:   Mengenang Sosok Pahlawan Bangsa Lewat Film Biografi Terkemuka
Ruhana KuddusRuhana Kuddus (Wikipedia)

5. Tan Malaka

Nama besar dari Ranah Minang ini sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 28 Maret 1963. Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, 2 Juni 1897.

Tan Malaka adalah pahlawan nasional yang berjuang menuntut kemerdekaan Indonesia dan ogah berjuang dengan cara diplomasi. Dia sama sekali tidak percaya Belanda. Di matanya, Belanda selalu ingkar terhadap segala macam perundingan.

Tan Malaka adalah Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) usai kepergian Semaoen ke Rusia pada 1924. Di ujung cerita, terjadi permusuhan antara elite PKI dengan Tan Malaka. Tan Malaka mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), pada 1948.

Meski mobilitasnya tergolong tinggi, bepergian dari satu daerah ke daerah lain bahkan ke luar negeri di zaman itu, namun aktivitas intelektualnya tergolong monumental. Dia menulis buku kecil Naar de Republik Indonesia saat berada di China tahun 1925. Karya besarnya adalah Madilog, buku filsafat setebal lebih dari 400 halaman, ditulis selama 8 bulan, 259 hari, dari 1942 hingga 1943, di Cililitan. Demikian menurut buku Masykur Arif Rahman.

Harry A Poeze dalam bukunya menceritakan kembali kesaksian Sayuti Melik, Tan Malaka adalah orang yang ditunjuk Sukarno sebagai pemimpin revolusi bila suatu saat Sukarno tidak berdaya. Saat itu adalah masa-masa awal kemerdekaan, suasana keamanan masih penuh kekhawatiran.

Hidup Tan Malaka berhenti di usia 51 tahun, dibedil oleh Suradi Tekebek di Selopanggung, kaki Gunung Wilis.

Ilustrasi Tan MalakaIlustrasi Tan Malaka Foto: Ilustrator: Edi Wahyono

6. Mohammad Hatta

Tentu semua orang Indonesia tahu nama besar ini. Proklamator ini lahir di Bukit Tinggi, 12 Agustus 1902.

Dia adalah aktivis kemerdekaan Indonesia, proklamator, negarawan, ekonom, administrator, Wakil Presiden pertama RI, Perdana Menteri ke-3, Menteri Pertahanan ke-4, dan Bapak Koperasi Indonesia.

Tahun 1926, Hatta menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia dan dipercaya menjadi bendahara merangkap anggota Dewan Redaksi Majalah Hindia Putera (Indonesia Merdeka). Setahun kemudian, Hatta menguraikan ‘Liga Menentang Kolonialisme’ dalam forum Kongres Liga di Brussel, Belgia.

Pada 1932-1941, Hatta bersama tokoh politik lainnya dibuang ke Digul, Papua. Dia kemudian dipindahkan ke Banda Neira pada 1942. Jepang berkuas, Hatta dibebaskan. Hatta meninggal dunia di usia 77 tahun, di Jakarta.

Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI PertamaMohammad Hatta, Wakil Presiden RI Pertama Foto: KITLV

 

7. Mohammad Yamin

Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, pada 24 Agustus 1903, atau sekitar setahun lebih muda ketimbang Hatta. Yamin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1973.

Yamin berasal dari kalangan ulama Minangkabau. Dia menyesaikan sekolahnya di AMS dan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi dan mandapat gelar Mr (Sarjana Hukum). Saat bersekolah di Sumatera Barat, ia memimpin Jong Soematranen Bond, ia juga memasuki Partai Partindo, dan juga menjadi anggota Volksraad (1938-1942).

Yamin adalah aktivis kemerdekaan Indonesia, sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, sekaligus ahli hukum.

 

Dalam sejarah Indonesia, Yamin juga merupakan anggota BPUPKI, Menteri Penerangan, Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kehakiman, Menteri Sosial dan Budaya, Ketua Dewan Perancang Nasiona, Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara, dan lain sebagainya.Pada tahun 1923 ia mengemukakan gagasannya mengenai bahasa kebangsaan Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu dengan sajak yang ditulisnya yang berjudul ‘Indonesia, Tanah Tumpah Darah’ yang dilanjutkan dalam Kongres Pemuda I yaitu perlunya memiliki bahasa persatuan.

Yamin tutup usia pada 17 Oktober 1962 di Jakarta. Dia dimakamkan di Talawi, Sawahlunto, kampung halamannya.

 

Mohammad Yamin, sejarawan, menteri era SoekarnoMohammad Yamin, sejarawan, menteri era Soekarno Foto: Wikipedia

8. Ilyas Yacoub

Haji Ilyas Yacoub, atau kadang juga ditulis Ilyas Ya’kub, lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, pada 1903. Dia adalah jurnalis sekaligus pendiri Partai Muslimin Indonesia (PMI) tahun 1930.

Majalah yang dia terbitkan adalah ‘Pilihan Timur’, berisi tulisan-tulisan kritik terhadap pemrintahan Hindia-Belanda. Dia juga menerbitkan majalah Medan Rakyat dengan modal biaya sendiri.

 

Ilyas Yacob, pahlawan nasional kelahiran Sumatera Barat. (Dok Dit K2KRS Sumbar)Ilyas Yacob, pahlawan nasional kelahiran Sumatera Barat. (Dok Dit K2KRS Sumbar)

9. Adnan Kapau Gani

Adnan Kapau Gani adalah aktivis kemerdekaan yang lahir pada 16 September 1905 di Palembayan, Agam. Dia pernah menjadi Wakil Perdana Menteri hingga Rektor Univeresitas Sriwijaya.

Dia adalah anggota pengurus Jong Sumatranen Bond yang membantu terselenggaranya Kongres Pemuda Bulan Oktober 1928 yang monumental itu. Dia pernah menjadi Gubernur Sumatera, juga koordinator pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatera.

Dia menjadi anggota konstituante sebagai wakil PNI, dan akhirnya menjadi anggota MPRS. Gani wafat pada 23 Desember 1968 di Palembang.

BACA JUGA:   MUI Nyatakan Tak Ada Pretensi Mundurkan Gerbong PA 212 dari Kepengurusan
Adnan Kapau Gani (Dit K2KRS Kemsos)Adnan Kapau Gani (Dit K2KRS Kemsos)

 

10. Hazairin

Hazairin lahir di Bukittinggi pada 28 November 1906. Dia merupakan sosok pejuang yang mempertahankan kemerdekaan, sekaligus intelektual Indonesia.

Pada agresi militer Belanda II, ia bersama pasukan TKR berhasil menghancurkan seluruh jembatan yang ada di Karesidenan Bengkulu hingga perbatasan Padang, Palembang dan Lampung dalam rangka menghambat serbuan dan gerak maju pasukan Belanda.

Saat menjadi Wakil Gubernur Muda Provinsi Sumatera, dia pernah mencetak uang kerta (uang kertas Hazairin) yang berlaku pada 1 Desember 1947 hingga 27 Desember 1949.

Dia adalah Guru Besar Hukum Adat dan Hukum Islam di UI, serta Guru Besar di perguruan tinggi lainnya. Dia menjadi Mendagri ke-11 RI. Hazairin wafat pada 1975 di Jakarta.

Pahlawan nasional, Hazairin. (Dit K2KRS Kemsos)Pahlawan nasional, Hazairin. (Dit K2KRS Kemsos)

11. Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, 17 Februari 1908. Dia adalah Ketua MUI pertama sekaligus seorang sastrawan, dan aktivis politik.

Ia adalah orang Indonesia kedua, setelah Sukarno yang menerima anugerah Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di tahun 1960-an dibidang pemikiran Islam. Salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir Al-Azhar.

Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah. Dia wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta, dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

Buya HamkaBuya Hamka Foto: Edi Wahyono

12. Mohammad Natsir

Pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus penulis 45 buku ini lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, pada 17 Juli 1908. Dalam situs Kementerian Sosial, dia dijuluki sebagai ‘Tokoh Sederhana Sepanjang Zaman’.

Natsir adalah pendiri dan pemimpin Partai Masyumi, Presiden Liga Muslim Sedunia, dan Ketua Dewan Masjid Sedunia.

Sebelum mendirikan Partai Masyumi, Natsir muda beresekolah di Bandung. Dia aktif dalam organisasi pemuda pelajar berhaluan Islam yaitu Jong Islamieten Bond (JIB). Kegiatan dalam JIB mendekatkannya dengan tokoh-tokoh tekenal Sarekat Islam, seperti Haji Agus Salim dan Tjokroaminoto. Natsir kemudian menjadi wakil ketua JIB cabang Bandung (1929-1932) dan diangkat menjadi ketua Kern-Lichaam (Badan Inti) JIB Pusat. Natsir juga diangkat menjadi Ketua Partai Islam Indonesia (PII) cabang Bandung dan juda menjadi Sekretaris MIAI.

Natsir kemudian mendirikan sekolah Pendidikan Islam pada tahun 1932. Sesudah Indonesia Merdeka, MIAI berubah menjadi Masyumi dan Natsir menjadi pemimpin partai ini sebagai Ketua Umum sejak 1948 sampai 1959.

Natsir kemudian diangkat menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP). Kemudian sejak 1946-1949, tiga kali berturut-turut Natsir menjadi Menteri Penerangan.

 

Pahlawan nasional, Mohammad Natsir. (Ditjen K2KRS Kemsos)Pahlawan nasional, Mohammad Natsir. (Ditjen K2KRS Kemsos)

 

13. Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir adalah diplomat yang gigih memperjuangkan pengakuan internasional terhadap kemerdekaan RI. Pria yang pernah menjadi Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia (PSI) ini lahir di Padang Panjang, 5 Maret 1909 dan meninggal di usia 57 tahun di Zurich, Swiss.

Syahrir pada 1927 menggagas Pendirian Himpunan Pemuda Nasionalis (1927), Jong Indonesie (Pemuda Indonesia) yang menjadi motor Konggres Pemuda Indonesia (1928) dan pada 1928, mendirikan Volksuniversiteit. “Mimbar Rakyat” yang memberikan kursus-kursus pemberantasan buta huruf, berhitung, bahasa asing (Inggris) dan kursus politik yang mengajarkan cita- cita kebangsaan serta menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI Baru).

Syahrir pada 14 November 1945 menjadi Perdana Menteri dengan berhasil melakukan perundingan dengan pihak Belanda melalui perundingan Hoge Veluwe, dan perundingan Linggarjati yang menghasilkan persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1946.

Sjahrir berhasil menerobos blokade ekonomi Belanda dengan mengirimkan 50 ribu ton beras ke India untuk membantu India dan Indonesia memperoleh pakaian, obat-obatan dan alat pertanian. Sutan Sjahrir ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 9 April 1966.Sjahrir bersama H Agus Salim pada 1947, memperjuangkan Indonesia di forum PBB sehingga permasalahan Indonesia menjadi agenda resmi DK PBB.

Sutan Sjahrir, pahlawan nasional kelahiran Sumatera Barat. (Ditjen K2KRS Kemsos)Sutan Sjahrir, pahlawan nasional kelahiran Sumatera Barat. (Ditjen K2KRS Kemsos)

14. Rasuna Said

Pejuang Kemerdekaan Indonesia dari kaum perempuan ini lahir di Maninjau, Agam, 14 September 1910. Rasuna dengan segala keberaniannya telah merintis gerak kaum wanita Minangkabau dengan tidak menyalahi adat dan agama.

Tahun 1926, Rasuna masuk perkumpulan Serikat Rakyat (SR), SR menjelma menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Di sisi lain, dia juga menjadi anggota Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) yang juga sama-sama menjad parpol. Aliran politiknya tidak main-main, yakni radikal non-kooperasi, yakni emoh bekerjasama dengan pemerintahan Hindia-Belanda.

Rasuna dikenal sebagai Anggota DPR RIS dan juga Anggota DPA 1959. Rasuna Said meninggal pada usia 55 tahun, di Jakarta. Namanya diabadikan sebagai jalan protokol yang diisi gedung-gedung tinggi di Jakarta Selatan, yakni Jalan HR Rasuna Said.

H Rasuna Said, pahlawan nasional dari Sumatera Barat. (Ditjen K2KRS Kemsos)H Rasuna Said, pahlawan nasional dari Sumatera Barat. (Ditjen K2KRS Kemsos)

sumber: news.detik.com

News Feed