by

Napak Tilas Pagar Betis DI/TII Benteng Kecamatan Ibun

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Telusur.co.id – Oleh: Muhammad Yadi (wartawan telusur.co.id).

Bagian kedua.

SM. Kartosoewirjo setelah keluar dari Jong Java tahun 1925 membentuk organisasi baru dinamakan Jong Islamieten Bond (JIB) Cabang Surabaya dia ditunjuk sebagai ketua cabang JIB. Organisasi JIB berkembang pesat ke pelosok Surabaya, yang beranggotakan ribuan masyarakat. Sebagai seorang yang di tokohkan SM. Kartosoewirjo terus menggali ilmu politik dan belajar ilmu ke Islam-an.

Metode organisasi yang dibangun oleh SM. Kartosoewirjo berkomunikasi dengan massa, membangun kekuatan ummat, membangun entegritas, membangun daya pikir dengan Idiologi Islam. Pada wilayah pekerjaannya kemudian SM. Kartosoewirjo bertemu dengan ketua Partai Serikat Islam (PSI) yaitu H. Oemar Said Tjokroaminoto sekitar tahun 1927.

Pertemuan dengan H. Oemar Said Tjokroaminoto sekaligus SM. Kartosoewirjo mendalami ilmu Islam. Dengan ke Islam-an yang dia miliki semakin menunjukan kecerdasan dalam berpikir dan berpolitik. Ketika itulah menurut salah satu saksi sejarah yang masih hidup yakni H. Al- Haris (85) SM. Kartosoewirjo mulai mendambakan  lahirnya negara Islam dan masyarakat Islam Ideal di Indonesia. H. Oemar Said Tjokroaminoto dengan berbagai pertimbangan atas dasar pemikiran dan perkembangan serta kegigihan maka SM. Kartosoewirjo diangkat menjadi Kader Militan Organisasi Syarikat Islam (SI) yang kemudian Syarikat Islam (SI) pada tahun 1930 menjadi nama Syarikat Islam Indonesia (SII) Sebagai kader SM Kartosoewirjo bekerja keras dengan pandangan politiknya semakin matang.

BACA JUGA:   Aldie Abdurrozaq mengucapkan Selamat dan Sukses Milad Syarikat Islam ke-115 Tahun

Kemudian H. Oemar Said Tjokroaminoto pada tahun 1936 menyelenggarakan kongres Syarikat Islam Indonesia (SII), hasil kongres tersebut SM. Kartosoewirjo dipilih menjadi Ketua Muda PSII. Pada sa’at memberikan pandangan politiknya terlihat betul akan sikap politik yang radikal dan tidak kenal kompromi, tegas serta berwibawa. SM. Kartosoewirjo dalam pandangan politiknya menyikapi terhadap pemerintahan kolonial Belanda, menyerukan untuk berjihad dan berhijrah.

BACA JUGA:   Pergerakan Nasional: Dampak dari Politik Etis

“Mari kita semua tanamkan dijiwai kita semua untuk berjihad melawan kebhatilan, jihad untuk melindungi agama Islam terhadap musuh – musuh yang akan merongrong agama Islam harus kita hancurkan, jihad untuk mengubah musuh dalam diri manusia itu sendiri” kutipan pandangan politik SM. Kartosoewirjo sa’at kongres PSII di Surabaya.

Syarikat Islam sebelumnya bernama Syarikat Dagang Islam yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh seorang tokoh H. Samanhudi. SDI merupakan organisasi pertama yang ada di Indonesia. Organisasi ini dibentuk oleh H. Samanhudi bersama sahabat – sahabatnya merupakan perkumpulan pedagang – pedagang Islam dengan tujuan menentang politik Belanda. Sa’at itu SM. Kartosoewirjo sendiri baru lahir.(bersambung. Dari berbagai sumber).

sumber: telusur.co.id

News Feed