by

Tahun Baru Islam: Menyoal Klepon Sampai Politik Substansial

Print Friendly, PDF & Email

TIMESINDONESIA, MALANG – Pasca Peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-75, masyarakat muslim Indonesia bahkan dunia merayakan Tahun Baru Islam 1442 Hijriah. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah menjadi dasar penanggalan kalender Islam yang mulai diberlakukan di masa Khalifah Umar Bin Khattab ra. Hijrahnya Sang Nabi menjadi penanda bahwa perjuangan dakwah membutuhkan pengorbanan yang akan berbuah hasilnya di masa depan.

Buktinya sangatlah nyata, ajaran Islam menyebar ke seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia yang menjadi negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia saat ini. Khazanah Islam di Indonesia sendiri memiliki corak yang dinamis dalam proses penyebarannya: perdagangan, pendidikan, pernikahan, kebudayaan hingga ihwal politik.

Menariknya, belakangan ini dunia maya Indonesia dihebohkan dengan fenomena “Klepon” yang punya interpredensi dengan pemikiran Islam. Kegaduhan ini disebabkan oleh viralnya poster yang mengillustrasikan bahwa makanan klepon tidak Islami. Hal ini mengundang perhatian publik. Terlebih dalam poster itu ternyata mengandung upaya promosi penjualan kurma yang dilabeli sebagai makanan Islami dan mengarahkan siapapun yang melihatnya untuk membeli di toko syariah.

Fenomena ini menjadi konsekuensi nyata ditengah digital civilization yang melanda dunia. Namun, menurut hemat sebagian orang gambaran itu merupakan sebuah satire: candaan kritik terhadap agama yang sering dijadikan sebagai komoditas untuk kepentingan tertentu seperti kepentingan ekonomi dan politik contohnya.

Ibnu Rusyd, seorang ilmuwan Islam berpandangan:”Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama”. Maksudnya adalah jika kita berkehidupan tidak memiliki spirit untuk belajar bahkan berfikir kritis,maka kita akan menjadi mudah dibodohi oleh orang yang memiliki kepentingan dengan menjadikan jubah agama sebagai sampulnya.

BACA JUGA:   16 Oktober 1905: Kontroversi Kelahiran Sarekat Islam dan Hari Kebangkitan Nasional

Agama apapun itu, termasuk Islam kita yakini memiliki nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Akan tetapi, semua itu bisa tereduksi maknanya di tangan orang yang punya siasat agar tujuannya tercapai. Seperti poster Klepon tidak Islami itu yang seolah-olah menyudutkan entitas makanan lokal agar membeli produk kurma yang dijual.

Padahal, Nabi Muhammad SAW. memberikan teladan bahwa Islam itu bukan hanya soal identitas belaka, melainkan perjuangan nilainya sebagai rahmah. Piagam Madinah contohnya. Ketika terjadi pertentangan antara Bani ‘Aus , Bani Khazraj bahkan bani lainnya. Nabi kemudian menyusun sebuah dokumen resolusi konflik yang memuat nilai-nilai perdamaian, persatuan dan persaudaraan sehingga menjadi tatanan kehidupan baru untuk mewujudkan keteraturan sosial (social order) tercapai.

Inilah pemaknaan Islam yang harus kita beri perhatian lebih ketimbang sekedar identitas visual belaka. Nabi sebenarnya sedang menjelaskan kalau Islam bukan hanya sekedar ritual ke-ibadahan belaka. Akan tetapi dapat menjadi problem solver dalam mengatasi masalah sosial.

Sejarah Indonesia juga menuliskan hadirnya Partai Syarikat Islam di awal kemerdekaan. Partai ini dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto yang berawal dari Syarikat Dagang Islam. Gerakan politik ini hadir karena kesadaran akan penindasan terhadap masyarakat yang dilakukan penjajah saat itu. Paradigma perlindungan kepada mustadhafin menjadi salah satu alasan perjuangan politik yang dilakuakn oleh Syarikat Islam. Sehingga Islam bukan sekedar identitas tapi perjuangan nilai melawan ketidak adilan.

BACA JUGA:   Aldie Abdurrozaq mengucapkan Selamat dan Sukses Milad Syarikat Islam ke-115 Tahun

Selain itu, Tahun 1979 dunia digemparkan oleh Revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini. Hal ini disebabkan oleh krisis politik akibat pemerintahan yang dinilai korup, brutal dan boros. Sehingga disebutkan bahwa revolusi ini merupakan revolusi terbesar ke-tiga di dunia setelah Revolusi Prancis dan Revolusi Bolshevik.

Pergantian sistem monarki kuno dibawah rezim Shah Reza Pahlevi ke sistem teokrasi ala Ayatullah Khomeini yang menjadikan Iran sebagai satu-satunya negara yang menganut sistem Republik Islam di dunia. Tidak hanya itu, mereka juga konsisten dalam melawan dominasi politik Amerika Serikat dan Israel yang merugikan masyarakat dunia, termasuk Palestina.

Saatnya kita sebagai masyarakat muslim harus cerdas dalam memaknai agama sebagai the way of life yang progresif. Berapa banyak pejabat publik yang bersumpah dengan kitab sucinya malahan mengkhianati kandungan di dalamnya. Pada Tahun Baru Islam ini, saatnya kita mulai  memaknai kembali agama sebagai politik substansial yang kaya akan nilai kebermanfaatan seperti yang Aristoteles cita-citakan: “Politik adalah alat untuk mencapai kesejahteraan”. Wassalam.

***

*)Oleh: M. Rizqi Surya W, Alumni Prodi Kesejahteraan Sosial,FISIP Univesitas Muhammadiyah Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

sumber: timesindonesia.co.id

News Feed