by

Unas Kumpulkan Para Tokoh Bahas Islam Dan Ke-Indonesiaan

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

RMco.id  Rakyat Merdeka – Universitas Nasional (Unas) terus meningkatkan kesadaran publik mengenai makna Islam dan ke-Indonesiaan dalam perspektif kekinian dan Indonesia di masa depan.

Salah satunya dengan menyelenggarakan webinar nasional yang bertemakan “Aktualisasi Islam, Ke-Indonesiaan dan Kebangsaan menuju satu abad Indonesia Merdeka”. Acara diselenggaraka Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI-UNAS) bekerjasama dengan Sekolah Pasca Sarjana Unas akan berlangsung selama dua hari, dari 26-27 Agustus 2020.

Ketua PPI-Unas Fachruddin Mangunjaya menjelaskan, sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam, Islam tidak hanya memberikan prinsip-prinsip hidup bagi manusia sebagai individu, namun juga prinsip-prinsip kebangsaan dan bernegara yang kompatibel dengan kehidupan bangsa yang bhineka dan majemuk seperti Indonesia.

BACA JUGA:   Eks Ketua MK: Negara Kita Ini Negara Macam Apa, Kok Saling Menjatuhkan?

”Perjalanan sejarah bangsa Indonesia juga telah membuktikan bagaimana Islam memberikan pengaruh untuk meletakkan prinsip dasar kebangsaan, termasuk bagaimana ideologi Pancasila menjadi dasar negara,” ujar Fachruddin kepada wartawan, Selasa (25/8).

Dia mengatakan, proses perjalanan sebuah bangsa dalam sistem demokratis bukanlah perjalanan yang statis. Sehingga diperlukan upaya untuk untuk menggali nilai-nilai yang aktual. Termasuk bagaimana menggali nilai-nilai Islam sehingga tetap selaras dengan perjalanan bangsa Indonesia menuju satu abad kemerdekaan.

Di kesempatan sama, Ketua Sekolah Pasca Sarjana Unas Maswadi Rauf memaparkan, Pancasila merupakan dasar negara yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang dikenal majemuk. Termasuk juga nilai Islam, yang kemudian mampu menyatukan semua suku yang ada di Bumi Pertiwi.

BACA JUGA:   The 2020 Constitutional Court Law amendments: a ‘gift’ to judges?

Dalam perkembangannya, kini aktualisasi nilai-nilai Islam dan kebangsaan menjadi kebutuhan yang mendesak. “Jika tidak, maka akan menimbulkan benih perpecahan yang mendorong dikotomi. Seperti partai Islam dan partai bukan Islam yang tak lagi menanamkan misi Islam sebagai agama universal,” ujarnya.

Webinar ini akan menghadirkan sejumlah tokoh yang kompeten di bidangnya masing-masing. Antara lain Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva. [UMM]

sumber: rmco.id

News Feed