by

Pak Tjokro, Yogyakarta, dan Kebudayaan Jawa

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

H.O.S. Tjokroaminoto, lahir pada 16 Agustus 1882, tak sempat merasakan kemerdekaan Indonesia. Beliau meninggal pada tahun 1934 dan dimakamkan di pemakaman umum Kuncen, Kampung Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta. Makam beliau masih bisa kita ziarahi.

Saat penulis menziarahi makamnya, tulisan Jang Oetama tertera sebagai tanda nisan. Tak diketahui apakah langsung dipasang saat meninggalnya. Yang jelas, orang di eranya—kendati tidak 100%—menyebut Pak Tjokro: Jang Oetama.

Dari tahun 1930 sampai tahun 1934, beliau memang bertempat tinggal di kota Yogyakarta, tepatnya di Kampung Jogonegaran. Kiprah Pak Tjokro dalam sejarah Indonesia tentu layak dikenang. Kemampuannya sebagai ketua Sarekat Islam (SI) mampu menjadikan SI sebagai gerakan politik yang besar. Sepanjang jejaknya di SI itu, Pak Tjokro sering singgah di Yogyakarta untuk membangun jaringan dan mengajar.

Bahkan, pada tahun 1913-1915, beliau pernah tinggal di Jalan Jagalan, kawasan Pakualaman. Peristiwa naiknya Pak Tjokro di pucuk pimpinan SI juga terjadi saat Kongres SI ke-II di Yogyakarta pada bulan April 1914. Di kota ini, pendukung beliau antara lain RM. Soerjopranoto dan H. Fachruddin. RM. Soerjopranoto adalah kakak Ki Hajar Dewantara, Fachruddin adalah murid KH. Ahmad Dahlan. Pada tahun 1918, RM Soerjopranoto dan H Fachruddin memimpin SI cabang Yogyakarta.

Di masanya, Pak Tjokro  piawai berorasi. “Cara menguraikan pikiran-pikirannya jernih. Ia mampu menyajikan dengan jelas berbagai permasalahan kepada para pendengarnya yang kurang terdidik. Suara yang dalam dan berat sangat cocok terutama di ruangan besar dan terbuka,” kenang Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1936). Beliau pandai berpidato yang tanpa mikrofon pun terdengar keras (Takashi Shiraisi, 1997). Pak Tjokro juga cakap menggoreskan pena. Banyak tulisannya tersebar di berbagai koran.

BACA JUGA:   Sinopsis Guru Bangsa Tjokroaminoto, Upaya Mengusir Penjajah Belanda

Beliau juga mahir berpuisi. Salah satu puisi Pak Tjokro pada tahun 1914: Lelap terus, dan kau dipuji sebagai bangsa yang terlembut di dunia/Darahmu dihisap dan dagingmu dilalap sehingga hanya kulit tersisa/Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?/Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya/Tapi kalau mereka tahu hak-haknya/Orangpun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas/Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula/Sebabnya karena kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo/Dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko/Kalau kau balikkan, kaupun dianggap kurang ajar.

Terkait kebudayaan Jawa, Ki Hajar Dewantara pernah memberian kesaksian, “Kami sendiri dapat menyaksikan sendiri, bahwa almarhum Kanda Tjokroaminoto tidak asing dalam alam kesusastraan dan wayang (drama) serta karawitan (musik), dll bentuk kebudayaan asli yang masih hidup di daerah Jawa.” Ternyata, Pak Tjokro gemar wayang. Bahkan, beliau ahli bermain gamelan terutama kendang dan menembang lagu Jawa. Pak Tjokro pun menganggit prosa, puisi, dan tembang Jawa bernuansa perlawanan, kritik sosial, dan idealisme mengembalikan kebudayaan pada “kedudukan asal”. Karya anggitannya ini disebut orang-orang Belanda sebagai Fragmenten.

Pada tahun 1917, Pak Tjokro membentuk gerakan kebudayaan Djawa Dwipa. Menurutnya, Islam juga harus dikreasikan dalam hidup berkesenian pro-lokal. Ikhtiar mengembalikan kebudayaan pada “kedudukan asal” tampak saat beliau menghapus stigma “jorok” tayub/tandak/ronggeng. Budaya Eropa yang diwakili Belanda dan Inggris melenyapkan sakralitas tayub sekadar vulgaritas perempuan.

BACA JUGA:   Lawang Seketeng, Jejak Sejarah Soekarno di Surabaya

Pada masa Jawa Kuno, tayub untuk menghormati Dewi Sri dengan beragam versi lokalnya. Tayub merupakan refleksi spiritualitas kebudayaan, sebagai simbol kesuburan, dan tingginya derajat perempuan dalam struktur kehidupan. Revitalisasi tayub memang muncul di ruang kebatinan masyarakat agraris menjadi salah satu faktor menjubelnya anggota SI dari kalangan petani Jawa (Aji Dedi Mulawarman: 2015).

Pak Tjokro adalah salah seorang penyemai kemerdekaan. Di masa hidupnya, rakyat menganggap Pak Tjokro sebagai ‘Ratu Adil”. Pemerintah Belanda menjuluki beliau “Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Jejak beliau menginspirasi bangsa. Semoga pemimpin bangsa ini mampu “berdaya upaya menjunjung martabat kita kaum bumiputera” sebagaimana cita-cita Pak Tjokro. Wallahu a’lam.

sumber: rancah.com

News Feed