by

Orang-orang Arab-Indonesia dalam Arus Pergerakan Nasional dan Kemerdekaan

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Pan-Islamisme dan juga ide pembaruan Islam, sebagaimana di negeri-negeri Muslim lainnya, kemudian menjadi pendahulu dari munculnya gerakan nasionalisme

Oleh: Alwi Alatas

Hidayatullah.com | Orang-orang Arab telah lama hadir di Nusantara. Sebagian sejarawan seperti Hamka dan Syed Muhammad Naquib al-Attas menganjurkan bahwa Islam datang ke kawasan ini dari Timur Tengah, bukan dari India, Persia, atau China. Jejak kaum migran Arab generasi terdahulu tidak selalu tercatat secara jelas di dalam sejarah. Banyak di antara mereka tampaknya telah terasimilasi sepenuhnya ke dalam masyarakat Indonesia.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 terjadi peningkatan arus migran dari Timur Tengah ke Indonesia (ketika itu Hindia Belanda) dan kawasan sekitarnya. Para migran ini didominasi oleh orang-orang dari kawasan Hadramaut, Yaman. Hingga hari ini pun orang-orang keturunan Arab di Indonesia dan Asia Tenggara sebagian besarnya memiliki asal-usul dari Hadramaut. Walaupun banyak yang masih mempertahankan identitas Arab-nya – sebagai salah satu suku yang hidup di Indonesia – ‘lidah’ mereka, dalam bertutur dan mengecap makanan, hampir tidak bisa dibedakan lagi dengan masyarakat setempat.

Pada penghujung abad ke-19 dan ke-20, orang-orang Arab memainkan peranan penting dalam dunia pergerakan hingga ke era kemerdekaan. Mereka ikut terlibat dalam pergerakan Islam di Indonesia, khususnya di dalam Sarekat Islam. Memang kemudian terjadi perselisihan internal di kalangan orang-orang keturunan Arab di Indonesia sehingga relatif menyurutkan peranan yang telah mereka mainkan sebelumnya. Terlepas dari itu, tetap saja ada di antara mereka yang ikut berjuang bersama elemen masarakat lainnya dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Orang-orang keturunan Arab di Indonesia, bagaimanapun, adalah manusia juga seperti anggota masyarakat lainnya. Sebagai manusia, ada juga di antara mereka yang kadang menyebalkan. Bagaimanapun, kecintaan sebagian besar mereka yang sudah lama menetap di negeri ini terhadap agama maupun negara sebetulnya tidak perlu diragukan. Apa yang akan dipaparkan berikut ini merupakan sebagian contoh saja dari kiprah mereka dalam perjuangan di Tanah Air. Karena contoh, tentunya apa yang akan dituturkan di bawah ini tidak menggambarkan keseluruhan peranan komunitas tersebut.

Era Pergerakan Nasional

Pada akhir abad ke-19, beberapa tokoh keturunan Arab di Indonesia seperti Ali bin Syahab, Abdullah bin Alwi Alatas, Abdul Kadir Alaydrus, Sahl bin Sahl, dan Muhammad bin Abdul Rahman Salabiyah (Alaydrus) telah terlibat dalam mempromosikan gagasan Pan-Islamisme yang menjadi perhatian dan kekesalan pemerintah Kolonial Belanda (Hurgronje, Gobee, & Adriaanse, 1994: 9/1690).

Pan-Islamisme dan juga ide pembaruan Islam, sebagaimana di negeri-negeri Muslim lainnya, kemudian menjadi pendahulu dari munculnya gerakan nasionalisme. Orang-orang keturunan Arab memainkan peranan cukup penting dalam memperkenalkan gagasan ini di Nusantara, demikian pula dalam kemunculan organisasi-organisasi pergerakan Islam yang awal.

Mereka mendirikan organisasi Jamiat Kheir di Jakarta sekitar tahun 1901 (Mobini-Kesheh, 1999: 36) yang beberapa tahun kemudian ikut mempelopori berdirinya sekolah Islam modern di Indonesia dengan nama yang sama. Pramoedya Ananta Toer (2003: 137) di dalam Sang Pemula menganggap bahwa penggunaan nama Budi Utomo mendapat pengaruh dari nama Jamiat Kheir. Sementara Haji Agus Salim, sebagaimana dikutip oleh Robert Van Niel (1960: 266), menyebutkan bahwa banyak anggota Budi Utomo dan Sarekat Islam yang sebelumnya merupakan anggota Jamiat Kheir.

Keterkaitan antara Jamiat Kheir dan Budi Utomo mungkin perlu diteliti lebih jauh untuk dapat diterima secara lebih luas. Namun, hubungan antara Sarekat Islam dan Jamiat Kheir serta orang-orang keturunan Arab banyak data pendukungnya. Orang-orang Hadrami ikut mendirikan dan memimpin Sarekat Dagang Islamiyah bersama Tirtoadhisoerjo (Shiraishi, 1997: 47). Organisasi yang nantinya berubah nama menjadi Sarekat Islam ini didirikan pada tahun 1909, antara lain oleh Ahmad dan Said bin Abdurrahman Bajunaid serta Ghalib bin Said Bin Tabi’ (Mobini-Kesheh, 1999: 43). Mereka juga merupakan pemimpin Jamiat Kheir, dan setelah itu al-Irsyad.

Pemimpin lainnya dari organisasi ini, yaitu Samanhudi, kemungkinan juga menerima pengaruh dari Jamiat Kheir (Van Niel, 1960: 88). Pemimpin-pemimpin berikutnya seperti Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto memiliki hubungan yang lebih erat dengan orang-orang keturunan Arab, walaupun hal ini jarang disebut di dalam buku-buku sejarah. Pertemuan-pertemuan Sarekat Islam sering diadakan di kantor Jamiat Kheir di Jakarta maupun di kantor organisasi rekanannya, al-Khairiyah, di Surabaya (Mandal, 2002: 166).

Abdullah bin Husain Alaydrus merupakan salah satu pemimpin Jamiat Kheir yang biasanya duduk di meja direktur dalam pertemuan-pertemuan Sarekat Islam di Jakarta (Van Niel, 1960: 112). Ia memang merupakan anggota penting Sarekat Islam Batavia dan dalam salah satu pertemuan organisasi tersebut ia berbicara tentang kemajuan dan pendidikan (Mobini-Kesheh, 1999: 45). Mungkin ini berkaitan dengan apa yang disebutkan oleh A.P.E. Korver (1985: 99) tentang rapat Sarekat Islam pada tahun 1913 yang mendengarkan pidato ketua Jamiat Kheir berkenaan dengan tema ini. Masih pada tahun itu juga dilaporkan adanya peningkatan aktivitas pendidikan serta pendirian sekolah oleh Sarekat Islam di berbagai kota di Indonesia, khususnya di Jawa.

BACA JUGA:   Perjuangan Bung Karno Meracik Kemerdekaan RI Sejak di Peneleh

Salah satu pendiri Jamiat Kheir lainnya, Abdullah bin Alwi Alatas, tercatat sebagai salah satu penasihat Sarekat Islam Batavia pada tahun 1913 (Bataviaasch Nieuwsblad, 1913, 31 Maret: 2) dan pada tahun 1915 (Bataviaasch Nieuwsblad, 1915, 3 Maret: 1). Pada Kongres sarekat Islam di Bandung, Juni 1916, dibentuk sebuah komite untuk mendirikan sekolah guru Islam (Mohammedaansche kweekschool) dengan anggaran f80.000. Abdullah bin Alwi Alatas ditetapkan menjadi ketua komite tersebut, HOS Tjokroaminoto sebagai wakil ketua dan Abu Bakar Alatas, Menantu Abdullah bin Alwi sebagai bendahara (Bataviaasch Nieuwsblad, 1916, 21 Juni: 3).

Abdullah bin Alwi Alatas yang merupakan menantu dari konsul Turki Utsmani yang pertama di Batavia diketahui memiliki hubungan rapat dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan ada sumber sejarah yang menyebutkan bahwa beliau pernah membantu KH Ahmad Dahlan sebesar f20.000 untuk menyokong gerakan dakwahnya (Al-Mashhūr, 1984: 1/267).

Muhammad bin Abdul Rahman bin Shahab, seorang pemimpin komunitas Hadrami lainnya, pada tahun 1910-an bersama rekan-rekannya aktif dalam memberikan bantuan kemanusiaan bagi korban perang di Balkan, Libya, dan Palestina, serta korban bencana di Indonesia melalui organisasi Bulan Sabit Merah (Ḥaḍramawt, 1930, 16 Oktober). Ketika didirikan Rabithah Alawiyah, beliau menjadi ketuanya yang pertama. HOS Tjokroaminoto pernah datang ke kantor organisasi itu pada pertengahan tahun 1931 dengan membawa naskah buku Sirah Nabawiyah yang ditulisnya. Rabithah Alawiyah kemudian membantu penerbitan buku tersebut dan Habib Alwi bin Tahir al-Haddad memberikan kata pengantar bagi buku tersebut (Al-Rabithah, 1350, Muharram: 36-37).

Muhammad bin Shahab juga memiliki hubungan yang dekat dengan perhimpunan Jong Islamiten Bond (JIB) dan perhimpunan ini mengirimkan ucapan belasungkawa saat mendengar kabar wafatnya Muhammad bin Shahab pada bulan Oktober 1930 (Al-Rabithah, 1349, Rajab: 269). Ketika JIB mengadakan muktamar pada tanggal 25 Desember 1930, Habib Alwi bin Tahir al-Haddad ikut diundang untuk memberikan ceramah pada pembukaan kegiatan tersebut (Al-Rabithah, 1349, Ramadhan: 333).

Perjuangan Kemerdekaan

Walaupun hubungan antara orang-orang keturunan Arab dengan Sarekat Islam dan kalangan pergerakan pribumi dapat dikatakan sangat dekat pada awal abad ke-20, hubungan itu tampaknya menjadi renggang pasca tahun 1919. Ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi hal ini, di antaranya adalah menguatnya nasionalisme di era itu yang menjadi platform baru perjuangan, menggeser Islam sebagai platform utama.

Keadaan ini cenderung mengalienasi orang-orang Hadrami ke posisi asal mereka sebagai migran dan warga asing di Indonesia. Situasi ini memperkuat pengaruh serta kepemimpinan migran generasi pertama, yang masih memiliki kenangan yang kuat terhadap tanah leluhur mereka, di tengah komunitas Hadrami di Indonesia.

Selain nasionalisme, menguatnya pengaruh komunisme di dalam tubuh Sarekat Islam pada akhir tahun 1910-an mungkin juga ikut mempengaruhi kalangan Hadrami untuk menarik diri secara gradual dari organisasi pergerakan tersebut.

Selain itu, konflik internal di antara kalangan sayyid dan masyaikh di tengah komunitas Arab pada pertengahan tahun 1910-an juga ikut menyebabkan kemunduran bagi komunitas ini. Selama beberapa dekade berikutnya perselisihan internal masih terus bertahan.

Bagaimanapun, pada tahun 1934, sekumpulan pemuda Arab dari kalangan muwallad (kelahiran Indonesia) yang dipimpin oleh A.R. Baswedan mengusung ide Indonesia sebagai tanah air bagi orang-orang keturunan Arab. Ide ini menimbulkan reaksi pada awalnya, tetapi diterima dan disyukuri pada akhirnya. Baswedan kemudian menjadi salah satu tokoh penting yang ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan bersama para tokoh nasional.

Selain A.R. Baswedan, ada beberapa tokoh Hadrami lainnya yang ikut berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan. Rumah yang ditempati Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 yang menjadi tempat pembacaan teks Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan salah satu gedung yang dibeli oleh Faradj bin Said Martak dan kemudian dihibahkan bagi pemerintah Republik Indonesia. Pemerintah RI menyampaikan ucapan terima kasih kepada Faradj Martak atas jasanya tersebut melalui surat tertanggal 14 Agustus 1959. (Baca: Kisah Madu Arab dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945)

Seorang pemuda Hadrami lainnya, Muhammad Asad Shahab, mendirikan sebuah kantor berita internasional bernama Arabian Press Board (APB) hanya dua minggu selepas proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 2 September 1945. Ia menjalankan kantor berita itu bersama saudaranya, Dhiya’ Shahab, sahabatnya, KH. Abdullah bin Nuh, dan belakangan ikut bergabung Alwi Shahab (Abah Alwi, Republika) yang ketika itu masih berusia sangat muda.

Surat Menteri Penerangan M Natsir yang memutuskan untuk memberi bantuan bulanan utk APB

Kantor berita itu menyebarluaskan informasi dalam bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. APB yang memiliki jaringan di luar negeri, terutama Timur Tengah, memiliki keberpihakan terhadap Republik yang baru lahir dan karenanya sempat dicurigai dan digeledah oleh tentara Belanda di era Revolusi. Walaupun begitu, berita-beritanya kadang dikutip juga oleh Koran-koran berbahasa Belanda.

BACA JUGA:   Catat! Sandi Kasih Tips buat Milenial yang Mau Jualan Online

Karena peranannya yang penting dalam menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia ke Timur Tengah, pada tanggal 1 Mei 1948 Kementerian Penerangan RI yang dipimpin oleh Moh. Natsir memutuskan untuk memberikan bantuan sebesar f1500 setiap bulannya kepada APB.

Sepanjang era revolusi, APB banyak memberitakan keadaan Republik di tengah ancaman agresi Belanda serta tentang perjuangan untuk mendapatkan pengakuan internasional. APB juga tidak sungkan untuk melaporkan tentang perjalanan segelintir orang Arab-Indonesia yang berangkat ke Timur Tengah untuk mewakili kepentingan kolonial. APB menyebut mereka sebagai “peropagandis Belanda” (ANRI, Arsip Kementerian Penerangan RI 1945-1949, No. 0168). Dalam hal ini, APB telah menjadikan bahasa Arab dan jaringan Timur Tengah sebagai medium untuk memperjuangkan Indonesia.

Sayangnya, di era Demokrasi Terpimpin Bung Karno melebur APB ke dalam Antara dan Muhammad Asad Shahab terpaksa mengasingkan diri ke Timur Tengah disebabkan permusuhan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap dirinya. Husein Mutahar merupakan sosok penting lainnya terkait dengan kemerdekaan.

Beliau berkarir di Angkatan Laut Republik Indonesia dan di awal kemerdekaan menjalani tugas sebagai sekretaris Panglima Angkatan Laut Mohamad Nazir. Beliau diajak menyertainya bertemu Presiden Sukarno di Yogyakarta, tak lama setelah Pertempuran Lima Hari di Semarang, Jawa Tengah, Oktober 1945. Bung Karno kemudian mengambilnya sebagai ajudan dan menaikkan pangkatnya menjadi mayor (Winarno, 2007, Juni: 4-5).

Menjelang ulang tahun Proklamasi RI, 17 Agustus 1946, Bung Karno memanggil Husein Mutahar dan menugasinya untuk menyiapkan upacara peringatan detik-detik Propklamasi. Beliau kemudian menunjuk lima orang pemuda dan pemudi sebagai pengibar bendera pusaka. Jumlah lima tersebut merupakan representasi Pancasila. Pada dua tahun berikutnya, tata upacara yang sama masih tetap dijalankan (Azram, 2007: 3).

Husein Mutahar sang pembuat lagu Syukur dan Hari Merdeka

Kemudian terjadi Agresi Militer Belanda II pada akhir tahun 1948. Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda dan para pemimpin RI ditangkap dan diasingkan ke Sumatera. Sebelum Bung Karno dibuang, bendera pusaka Merah Putih diberikan kepada Husein Mutahar untuk diamankan (Winarno, 2007, Juni: 5) dan beliau kemudian menjalankan tugas itu dengan baik.

Ada beberapa kontribusi penting Husein Mutahar lainnya bagi RI, seperti pendirian Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) serta membuat lagu Syukur dan Hari Merdeka. Semua itu membuat beliau layak untuk mendapat gelar pahlawan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Bagaimanapun, sebagaimana yang telah ia wasiatkan, saat meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 ia dimakamkan sebagai rakyat biasa, dengan tata cara Islam. Keinginannya ini sepertinya menyiratkan sebuah pesan, bahwa setelah bekerja keras dan memberikan yang terbaik bagi negeri ini, pada akhirnya ia tetaplah menjadi bagian dari negeri yang berikutnya.

Para tokoh di atas bersama banyak pemimpin bangsa lainnya telah ikut berperan serta memberikan kontribusi positif bagi Indonesia. Maka tugas bagi generasi sekarang dan yang kemudian adalah mengambil teladan, bukan berbangga-banggaan; menatap dengan keadilan, bukan mengabaikan apalagi menebarkan kebencian.*/Kuala Lumpur, 27 Dzulhijjah 1441/ 17 Agustus 2020

Penulis adalah staf pengajar International Islamic University Malaysia (IIUM)

Daftar Pustaka

ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Arsip Kementerian Penerangan RI 1945-1949, No. 0168.
Azram, Syaiful. 2007, Juni. “Husein Mutahar: Bapak Paskibraka”. Bulletin Paskibraka ’78
Bataviaasch Nieuwsblad. 1913, 31 Maret. “Sarikat Islam”.
Bataviaasch Nieuwsblad. 1915, 3 Maret. “De S. I. Te Batavia”.
Bataviaasch Nieuwsblad. 1916, 21 Juni. “Uit Nederlandsch-Indie, S. I.-congres”.
Ḥaḍramawt,. 1930, 16 Oktober. “Tatimmah li-Tarjamah al-Marḥūm Ra’īs al-Rābiṭah al-ꜥAlawiyyah”.
Hurgronje, C. Snouck, E. Gobée, and C. Adriaanse. 1994. Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda, 1889-1936, Vol. 9. Jakarta: INIS.
Mandal, Sumit. 2002. “Forging a Modern Arab Identity in Java in the Early Twentieth Century”. Huub de Jonge and Nico Kaptein (eds). Transcending Borders: Arabs, Politics, Trade and Islam in Southeast Asia. Leiden: KITLV Press.
Al-Mashhūr, ꜥAbd al-Raḥman ibn Muḥammad ibn Ḥusayn. 1984. Shams Al-Ẓahīrah. Vol. 1. Jiddah: ꜥĀlam al-Maʽrifah.
Mobini-Kesheh, Natalie. 1999. The Hadrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 1900 – 1942. Ithaca: Southeast Asia Program Publications.
Al-Rabithah. 1349, Rajab. “Ta’rib”.
Al-Rabithah. 1349, Ramadhan. “Baqiyyah al-Khutbah al-Jami’ah al-Ghara’”.
Al-Rabithah. 1350, Muharram. “Al-Rabithah al-Alawiyyah: Akhbar Mukhtasharah”.
Shiraishi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa, 1912-1926. Jakarta: Grafiti.
Van Niel, Robert. 1960. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. The Hague: W. Van Hoeve Ltd.
Winarno, Bondan. 2007, Juni. “”In Memoriam” Husein Mutahar: Pemakaman Sederhana untuk Seorang Luar Biasa”. Bulletin Paskibraka ’78 (Sebelumnya dimuat di Kompas, 14 Juni 2004).

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

sumber:

News Feed