by

Lawang Seketeng, Jejak Sejarah Soekarno di Surabaya

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Surabaya – Jejak sejarah sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Ir Soekarno tak lepas dari Kota Surabaya. Salah satu jejak sejarah Soekarno terekam di kampung Lawang Seketeng, Jalan Peneleh, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya terdapat rumah dipercaya sebagai tempat kelahiran dan masa kecil Bung Karno.

Selain itu, di kampung Lawang Seketeng juga terdapat rumah milik H.O.S Tjokroaminoto. Rumah tersebut pernah ditempati Presiden pertama Indonesia. Tak hanya itu, di kampung Lawang Seketeng juga terdapat makam Mbah Pitono yang disebut-sebut sebagai guru mengaji Soekarno.

Terimakasih para ahli waris sudah sudi dan berkenan merelakan rumah kebanggaan kami, ini simbol kebanggaan kami.

Sejumlah tempat tersebut kini, telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya. Terbaru Pemkot Surabaya mendapatkan rumah kelahiran Soekarno di Jalan Peneleh gang IV nomor 40 dari warga. Beralihnya kepemilikan rumah kelahiran Soekarno menjadi kado di peringatan HUT ke-75 RI.

Proses penyerahan itu dilakukan langsung oleh ahli waris kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di depan rumah bersejarah itu. Seusai diserahkan, Risma sempat meninjau langsung kondisi di dalam rumah tersebut, bahkan ia juga menyempatkan diri membaca salah satu tulisan di rumah tersebut.

Setelah itu, ia juga meninjau beberapa tempat bersejarah yang ada di kawasan tersebut, seperti Langgar Dukur Kayu di Kampung Lawang Seketeng, Makam Mbah Pitono dan beberapa benda bersejarah lainnya.

Pada kesempatan itu, Risma menyampaikan terimakasih banyak kepada para ahli waris rumah kelahiran Bung Karno yang telah sudi dan berkenan merelakan rumahnya diserahkan kepada Pemkot Surabaya. Menurutnya, rumah tersebut merupakan simbol kebanggaan bersama.

BACA JUGA:   Toko Buku yang Sering Dikunjungi Bung Karno Semasa Muda

“Terimakasih para ahli waris sudah sudi dan berkenan merelakan rumah kebanggaan kami, ini simbol kebanggaan kami. Nanti rumah ini akan kita jadikan museum, apalagi di kawasan ini banyak sejarahnya dan sudah kita beri titik-titik, seperti langgar, makam dan beberapa benda lainnya,” ujar Risma usai penyerahan secara resmi dari ahli waris ke Pemkot Surabaya.

Kamar SoekarnoKondisi kamar yang pernah ditempati Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno semasa kecil. (Foto: Tagar/Haris D Susanto)

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini berharap niat baik para ahli waris ini tentu akan sangat bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia. Sebab, nantinya tempat tersebut akan dijadikan destinasi wisata sejarah.

“Jadi, meskipun usia Indonesia saat itu masih sangat muda, tapi sudah bisa sejajar dengan bangsa lain di dunia, itu sungguh luar biasa dan tidak mudah,” ujarnya.

Menurutnya, rumah ini punya arti yang sangat besar dan kuat bagi anak-anak. Makanya, dia berkali-kali memohon kepada para ahli waris rumah itu untuk ikhlas supaya rumah tersebut bisa dijadikan tempat belajar bagi anak-anak, baik anak Surabaya maupun luar Surabaya.

“Saya yakin anak-anak dari luar daerah juga akan belajar ke sini, terutama belajar bagaimana besarnya Bung Karno di tengah keterbatasannya kala itu,” tuturnya.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini menjelaskan bahwa nantinya rumah itu akan dijadikan museum, makanya sejak beberapa waktu lalu Pemkot Surabaya sudah memperbaiki beberapa infrastruktur di kawasan tersebut, termasuk pedestriannya.

Bahkan, beberapa benda sejarah lainnya sudah diperbaiki karena kawasan itu nantinya akan dijadikan kawasan wisata yang luar biasa.

BACA JUGA:   Peristiwa 10 September: HUT TNI Angkatan Laut

“Saya harap warga Peneleh bersiap diri menyambut itu. Sebab, dia sangat yakin bahwa suatu saat nanti wilayah itu akan bisa menjadi kawasan wisata yang sangat besar, karena ada rumah H.O.S Tjokroaminoto dan ada beberapa peninggalan sejarah lainnya,” kata dia.

Risma juga mengaku sampai bermimpi untuk menjadikan kawasan itu sebagai kawasan bersejarah, termasuk dipikirkan pula alur wisatanya harus dimulai dari mana dan berakhir di tempat mana.

“Nah, warga di sini saya harap tetap kompak dan bersatu untuk menyambut peluang ini. Jadi, setelah kami perbaiki infrastrukturnya sejak kemarinnya, lalu selanjutnya kami mungkin akan menyiapkan warga supaya siap jadi guide atau bahkan bisa menjual souvenir, sehingga peluang itu tidak diambil oleh warga luar,” kata dia.

Sementara ahli waris rumah kelahiran Soekarno, Jamilah mengaku sudah menempati rumah tersebut sejak 30 tahun. Ia mengaku saat resmi berpindah tangan, perasaan dirinya campur aduk antara senang dan sedih.

“Senangnya karena rumah ini ternyata tempat kelahiran Bung Karno, bapak proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sedihnya karena sudah lama tinggal di sini dan punya kenang-kenang sama ibu. Ibu saya meninggal di sini,” ujarnya.

Ia mengaku awalnya keluarga saat membeli rumah tersebut tidak mengetahui kalau rumah tersebut adalah tempat kelahiran Bung Karno. Alasannya, ayah dan ibunya berasal dari Kalimantan Selatan.

“Kami besar hati rumah ini diambil alih. Apalagi rumah ini tempat kelahiran bapak proklamator, Bung Karno. Mudah-mudahan rumah ini bisa menjadi berkah,” ucapnya. [](PEN)

sumber: tagar.id

News Feed