by

5 Fakta Kedekatan Bung Karno dengan Dunia Film

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Jakarta: Presiden Soekarno merupakan salah satu pejabat negara yang dekat dengan dunia seni khususnya di bidang perfilman. Hal itu diakuinya dalam otobiografinya.

“Sekali dalam seminggu aku menikmati satu?satunya kesenanganku. Film,” kata Soekarno, mengutip buku Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Dalam otobiografinya, Bung Besar mengaku menggandrungi film sejak masih muda. Untuk mengeahui lebih lanjut, berikut fakta kedekatan Soekarno dengan dunia perfilman:

1. Sering menabung untuk nonton film

Sebelum menjabat presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal memiliki menonton. Kegiatan ini kerap dilakukannya ketika masih indekos di rumah gurunya yang merupakan pemimpin Sarekat Islam, H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya pada awal 1920-an.
“Aku sangat menyukainya (menonton film),” ucap Soekarno.

Soekarno menjelaskan tontontan yang disajikan ketika itu masih merupakan film bisu tanpa suara. Kebanyakan film yang disajikan merupakan karya Belanda dengan bahasa mereka.

“Di waktu itu belum ada film bicara,” terang Soekarno.

2. Menonton dari belakang layar

Dalam otobiografinya, Soekarno mengaku menonton bioskop dari belakang layar. Soekarno mengaku harus menikmati cara menonton seperti itu karena tidak punya uang banyak.

“Betapapun, caraku menonton sangat berbeda dengan anak?anak Belanda. Aku duduk di tempat yang paling murah. Coba pikir, keadaanku begitu melarat, sehingga aku hanya dapat menyewa tempat di belakang layar,” terang dia.

Pada masa itu, ruangan bioskop dibagi menjadi dua bagian. Ruangan pertama disebut sebagai kelas utama yang menjadi tempat menontonnya orang-orang Belanda. Kemduian ada ruangan di baliknya atau yang sering disebut kelas kambing sebagai tempat Bumiputra menyaksikan film bioskop.

Sementara tiket paling murah berada di belakang layar. Ini menjadi tempat Soekarno menyaksikan film. Meskipun murah, namun menonton dari balik layar tentu menimbulkan masalah. Teks yang disajikan secara terbalik. Namun hal ini tak mengurangi minat Soekarno untuk menyaksikan film di bioskop.

BACA JUGA:   Deretan Pahlawan Nasional yang Pernah Berkecimpung di Dunia Politik

“Di waktu itu belum ada film bicara. Aku harus membaca teksnya dan terbalik dan masih dalam bahasa Belanda! lama?kelamaan aku menjadi biasa dengan keadaan itu sehingga aku dapat dengan cepat membaca teks itu dari kanan ke kiri,” ucap Soekarno.

3. Menghibur kesedihan lewat film

Soekarno turut menggunakan film sebagai pelipurlara bagi teman-teman hingga orang terdekatnya ketika sedang bersedih. Momen ini terlihat ketika guru Soekarno yang juga merupakan pemimpin Sarekat Islam, H.O.S Tjokroaminoto, dipenjara Belanda karena dituding sebagai dalang penggerak pemberontakan buruh di Garut, Jawa Baarat pada 1926.

Soekarno yang kala itu mendengar berita dari surat kabar lantas memilih cuti dari perkuliahannya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) untuk menghibur anak-anak H.O.S Tjokroaminoto. Salah satu hiburan yang ditawarkan Soekarno ialah dengan mengajak merek menonton film.

“Di waktu mereka patah semangat dan bersusah hati, kubawa mereka menonton film dengan apa yang masih tersisa dari uangku yang 40 rupiah itu. Atau kubelikan barang?barang kecil seperti kartu pos bergambar,” terang Soekarno.

4. Aktor favorit Soekarno

Soekarno merupakan pengagum berat aktor-aktor Amerika Serikat macam Frances Ford, Eddie Polo, Fatty Arbuckle hingga Beverly Bayne.

Pria kelahiran Surabaya 6 Juni 1901 ini juga menggandrungi Norman Kerry yang beken di era 1920-an. Saking mengidolakan sang bintang, Soekarno pernah mencoba meniru gaya kumis Norman Kerry yang khas ke atas.

Namun hal itu gagal ia lakukan. Alih-alih mirip Norman Kerry, istri Soekarno kala itu, Inggit Ganarsih menyebutnya lebih mirip aktor komedi Inggris Charlie Chaplin.

“Kumis Sukarno lebih mirip kumis Charlie Chaplin,” ucap istrinya kala itu, Inggit Ganarsih, dalam Sukarno, Paradoks Revolusi Indonesia.

BACA JUGA:   Sambut HUT RI Ke-75, Ini 5 Film Indonesia yang Cocok Ditonton Keluarga

5. Menjadi penulis naskah di Flores

Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge, pernah mengasingkan Soekarno ke Flores sekitar tahun 1930-an. Dia menjadi tahanan politik karena dianggap mengancam kedudukan Belanda di Nusantara kala itu.

“Di Flores semangatku berada dalam kurungan. Di sini aku diasingkan dari masyarakat, diasingkan dari orang?orang yang dapat mempersoalkan tugas hidupku,” ujar Soekarno.

Meskipun diasingkan, kegemaran Soekarno terhadap pertjunjukkan film tidaklah pupus. Di sana, Soekarno mendirikan grup sandiwara bernama Tonil Kelimutu beranggotakan 47 orang. Dia bertugas menjadi penulis naskah hingga mengurus dekorasi panggung. Sementara istrinya, Inggit, bekerja mengurus kostum sandiwara buat 47 orang anggota Tonil Kelimutu yang terbentuk saat itu.

“Aku menyusun suatu perkumpulan Sandiwara Kelimutu, dinamai menurut danau yang mempunyai air tiga warna di Pulau Bunga. Aku menjadi direkturnya,” papar Soekarno.

Peran Soekarno sebagai penulis cerita sukses menghasilkan 13 naskah cerita mulai dari Dokter Setan, Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, hingga 1945. Mereka tampil di gedung bioskop hingga gedung gereja. Penampilan grup sandiwara Tonil Kelimutu kerap memasukkan unsur tarian adat serta naskah yang membakar semangat kemerdekaan.

“Setiap cerita dilatih malam hari selama dua minggu di bawah pohon kayu, diterangi oleh sinar bulan. Aku sendiri menyewa sebuah gudang dari gereja dan menyulapnya menjadi gedung kesenian. Aku sendiri yang menjual karcisnya. Setiap pertunjukan berlangsung selama tiga hari dan kami bermain di hadapan 500 penonton. Ini adalah suatu kejadian besar dalam masyarakat di sana. Orang?orang Belanda juga membeli karcis. Hasilnya dipergunakan untuk menutupi pengeluaran kami,” tandas dia.
(ELG)

sumber: medcom.id

News Feed