by

Indonesia Raya Tanah Merdeka Sejuta Pulau Seribu Volkano

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Jakarta –

Mengapa di awal kemerdekaan semangat begitu tinggi untuk merdeka setelah dijajah bangsa Eropa, Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugal 350 tahun lamanya tanpa henti –tanpa percaya bahwa suatu ketika kelak Indonesia akan merdeka?

Perang Dunia Pertama (1914-1918) yang berkecamuk di Eropa tak sedikit pun menggoyahkan Indonesia untuk menjadi merdeka. Perang Dunia kedua (1940-1945) menggentarkan seluruh dunia. Eropa, Afrika dan Asia. Perang di ribuan pulau di lautan Hindia hingga Pasifik tidak pernah memimpikan bahwa Kekaisaran Jepang yang menguasai wilayah Asia dan Pasifik selama lima tahun akan berakhir. Sampai akhirnya dua bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima. Memporak-porandakan pusat kehormatan dan kejayaan Kekaisaran Jepang.

Sementara itu mengikuti kilas perjuangan bawah tanah semenjak perlawanan Pangeran Diponegoro (1825 – 1830) terpikirkan bahwa masih ada harapan untuk mengusir para penjajah Eropa. Pertanyaan mendasar waktu itu adalah mengapa pergerakan Islam untuk memerdekakan Indonesia sedemikian kuat di awal abad ke-19. Pastinya karena ada pesan dalam Al Quran Surah Al Hijr (19):

Dan kami menghamparkan Bumi, dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran.

Pesan inilah sesungguhnya yang mendorong bangkitnya organisasi masyarakat Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, dan Syarikat Islam. Dari ketiga organisasi Islam tersebut kedekatan Soekarno lebih kepada organisasi Syarikat Islam dan Muhammadiyah. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar tinggi ( HBS ) Soekemi ayah Soekarno menitipkan anaknya ke H.Oemar Said Tjokroaminoto. Yang terkenal sebagai Orator ulung pemimpin Syarikat Islam.

Soekarno tinggal di rumah Tjokroaminoto dan ikut serta dalam kegiatan pergerakan Islam dalam politik. Soekarno juga ‘berguru’ kepada K.H.Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Soekarno amat ‘kepincut’ pada kemampuan ceramah, pidato, serta menulis pergerakan massa. Soekarno juga mengenal tokoh-tokoh pergerakan Islam Abdul Muis, H.Agus Salim serta teman seusianya, Semaun, Kartosuwiryo, Alimin, Darsono. Mereka belajar organisasi, politik, orasi, dan juga pendalaman berbagai pemikiran Islam.

Pada tahun 1921 Soekarno berangkat ke Bandung untuk kuliah di Technische Hoogeschool (sekarang ITB). Selama kuliah Soekarno tinggal di rumah H. Sanoesi yang juga sebagai pengurus Syarikat Islam di Bandung. Selama kuliah Soekarno mengenal tokoh-tokoh pergerakan dr. Tjiptomangukusumo, Dowes Dekker, dan Muhammad Natsir.

Itulah yang menurut Cindy Adams penulis buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang menyebabkan Soekarno aktif berbicara dan menulis tentang kemerdekaan Indonesia.

Tanpa henti Soekarno selama kuliah maupun setelah selesai, senantiasa aktif dalam berbagai kegiatan politik. Berulang Soekarno dipenjarakan Belanda. Di Ende (4th), Bangka ( 2th), dan Bengkulu (4th).

Pada 4 juli 1927 Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai isyarat Soekarno akan memimpin Bangsa Indonesia secara resmi memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur politik resmi.

Selama perang dunia kedua (1940-1945), Ir.Soekarno berkat pengalaman politik yang panjang memahami bahwa Kekaisaran Jepang akan dikalahkan Amerika Serikat dan sekutu-kutunya. Soekarno melihat kesempatan emas jika pada akhirnya Jepang ditundukkan dan akan ada peluang besar untuk segera menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia.

BACA JUGA:   Haji Agus Salim, Diplomat asal Sumbar yang Turut Merumuskan UUD 45

Pada pertengahan Agustus 1945 terdapat gerakan masif para tokoh pejuang untuk menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Itulah sebetulnya yang menjadi kekuatan dan semangat untuk menjadikan Indonesia tanah merdeka. Bersyukur bangsa Indonesia waktu itu di akhir perang Pasifik antara Jepang dan Amerika Serikat tampil pemimpin bangsa Ir Soekarno dan pemimpin lainnya seperti Moh Hatta, Moh Yamin, Agus Salim dan pemimpin bangsa lainnya yang sejak muda telah menulis catatan-catatan dalam berbagai buku yang intinya adalah suatu ketika kelak Indonesia menjadi merdeka dan berdaulat.

Ir Soekarno bersama teman-temannya di Institut Teknologi Bandung sejak jauh hari telah melihat bahwa Jepang akan takluk terhadap kekuatan Armada Laut dan Udara Amerika Serikat. Bersama Ir Soekarno mereka melihat kesempatan emas apabila pada akhirnya Jepang ditundukkan dan terbuka peluang besar pada waktu itu untuk menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia.

Tanggal 6 Agustus 1945 bom atom dijatuhkan di Hiroshima, tanggal 9 Agustus 1945 Nagasaki luluh lantak diserang bom atom kedua. Senjata pamungkas yang tidak pernah terpikirkan dan diizinkan untuk digunakan.

Pertempuran di Lautan Pasifik memang tidak mengenal batas, cara dan warna pertempuran. Di bawah pimpinan Bung Karno dan Bung Hatta telah terpikirkan dan bahkan teragendakan kapan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dicanangkan. Ada kesempatan emas karena pasukan Jepang setelah dua bom atom dijatuhkan, menyatakan diri kalah perang.

Pada dini hari 16 Agustus 1945, Charul Saleh, Sukarni dan Wikana berserta sekelompok pemuda, menculik Soekarno dan Hatta karena menganggap Bung Karno dan Bung Hatta lambat dalam menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta disekap pemuda PETA hingga 16 Agustus malam sampai ditemukan kembali oleh Ahmad Surbardjo dan Soediro untuk dibawa ke Jakarta. Setibanya di Jakarta Ir.Soekarno mengadakan rapat persiapan di rumah kediaman Maida di Jl. Imam Bonjol Jakarta . Soekarno dan Moh Hatta serta Ahmad Soebagio merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, baris demi baris dari pukul 02.00 hingga 04.00 WIB pagi hari.

Sementara itu Ibu Hj. Fatmawati Soekarno semalaman menjahit dengan tangan bendera merah putih berukuran 276 X 200 Cm untuk dikibarkan pada waktunya di tiang bendera rumah kediaman Ir. Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No 56 jakarta.

Tepat pukul 10.00 WIB, Ir Soekarno didampingi oleh Hj. Fatmawati Soekarno dan Moh. Hatta disaksikan Soewirjo, Wilopo, Sayuti Melik (pengetik naskah proklamasi) membacakan naskah proklamasi Republik Indonesia dihadiri 500 orang pemuda bersenjata mulai dari bambu runcing hingga senapan sitaan serdadu Jepang.

Kami bangsa Indonesia, dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ’45
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno – Hatta.

Pada kesempatan yang istimewa itu Frans S Mendur, wartawan foto Indonesia mengambil gambar peristiwa kemerdekaan Indonesia dan menjadi satu-satunya dokumentasi yang dimiliki oleh negara Republik Indonesia pada masa itu. Pada kesempatan tersebut, Joesoef Ronodipoero yang sewaktu itu bekerja sebagai penyiar radio Bataviase Radio Vereniging (BRV) secara diam-diam merekam dan menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan RI lewat jaringan 13 Tower Radar milik Post Telecom dan Telegraph Belanda yang diinisiasi oleh pegawai Indonesia yang bekerja di tempat itu, menyiarkan naskah proklamasi kemerdekaan ke seluruh Indonesia khususnya Medan dan sekitarnya. Secara berangkai lewat jaringan komunikasi Belanda, Proklamasi Kemerdekaan RI didengar dan disambut dengan gegap gempita di seluruh Indonesia.

BACA JUGA:   Harapan dan Makna Kemerdekaan Para Pesohor di HUT RI ke-75

Setelah proklamasi, perjalanan untuk diakui sebagai sebuah negara merdeka tidak mudah. Khususnya dari sisi pemerintah negeri Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Republik Indonesia tanpa persetujuan mereka. Pada tanggal 25 Oktober 1945 hanya dalam waktu dua bulan setelah Kemerdekaan Republik Indonesia Tentara Sekutu disertai pasukan elite Nicca melakukan penyerangan tiba-tiba ke Surabaya didukung oleh kapal perang dan pesawat tempur. Hanya dalam waktu lima hari setelah menyerang Surabaya, tanggal 30 Oktober 1945 Brigadir Jenderal Albertin Mallabi Kepala Staf Pasukan Sekutu tewas di tangan Laskar Pemuda Indonesia. Puncak pertempuran terjadi pada tanggal 10 November 1945 pada waktu itu tercatat 20.000 pejuang Indonesia gugur, sementara 1500 pasukan Sekutu tewas.

Tanggal 28 November atas desakan DK PBB, seluruh pasukan sekutu diminta mundur dari wilayah Surabaya. Pemerintah Belanda tidak henti-hentinya mencoba untuk tidak mengakui secara de facto Kemerdekaan Republik Indonesia. Di luar Pasukan Sekutu Belanda melakukan serangan Agresi Militer Pertama tanggal 21 Juli 1947 ke berbagai lokasi strategis di Jakarta dan Semarang. Presiden Soekarno kemudian memindahkan Pimpinan Pemerintahan ke Yogjakarta.

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan serangan Agresi Kedua dengan mengerahkan pesawat tempur dan pasukan komando. Mereka kemudian menyerbu Istana Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan menangkap Presiden Sukarno, Wakil Preseiden Moh Hatta dan segenap Menteri Kabinet RI dengan tujuan mengambil alih kekuasaan negara Republik Indonesia. Niat Belanda gagal karena kepemimpinan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia segera diambil alih oleh Jenderal Soedirman yang mengungsi keluar kota serta melakukan perang gerilya secara masif terhadap pusat-pusat kekuatan pasukan Belanda di Yogjakarta dan sekitarnya.

Lewat dukungan diplomasi negara-negara tetangga Republik Indonesia di antaranya India, Pakistan, Burma, dan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa lainnya, Dewan Keamanan akhirnya memerintahkan seluruh pasukan Belanda ditarik mundur dari segenap wilayah Republik Indonesia.

Indonesia menjadi negara berdaulat. Indonesia secara resmi diakui seluruh dunia sebagai sebuah negara yang Merdeka dan Berdaulat.

Kerawang-Bekasi oleh Chairil Anwar

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang kenanglah kami
Teruskan, Teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan impian
Kenang kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Kerawang dan Bekasi

Ishadi S.K Komisaris Trans Media

(mmu/mmu)

sumber: detik.com

News Feed