by

10 Rumah Bersejarah Dimana Soekarno Pernah Tinggal dari Masa Kecil Hingga Diasingkan

Print Friendly, PDF & Email

WARTAKOTALIVE.COM — Dalam perjalanan Proklamator Soekarno, pernah tinggal di berbagai daerah. Mulai dari rumah masa kecil hingga Bung Karno pernah diasingkan.

Presiden pertama Republik Indonesia (RI) Soekarno menorehkan cerita dan rekam jejak penting dalam perjalanan Indonesia.

Bersama Mohammad Hatta, Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Keduanya dikenal sebagai Bapak Proklamator.

Berikut 10 rumah dimana Soekarno pernah tinggal dan menorehkan sejarah:

1. Kampung Peneleh, Surabaya

tribunnews
Kampung Paneleh masa muda Bung Karno (pesona travel)

Soekarno muda pernah tinggal di Kampung Peneleh, Surabaya, tepatnya di rumah salah satu Guru Bangsa, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang biasa dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto.

Rumah tersebut berada di jalan Peneleh gang 7 no 29-31.

Rumah yang memiliki 2 lantai tersebut dibeli oleh Tjokroaminoto pada 1902 dari seorang warga keturunan Arab. Rumah itu memiliki luas 9×13.

Adapun lantai pertama digunakan oleh Tjokroaminoto sebagai rumah bersama keluarga.

Sedangkan lantai dua dibuat selaiknya kos-kosan.

Orang-orang yang menyewa ruang kos di lantai dua rumah milik Tjokroaminoto adalah Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, dan Kartosoewirjo. Mereka adalah pemuda-pemuda yang berpengaruh terhadap bangsa.

Tak jauh dari kediaman Tjokroaminoto, tepatnya di jalan Peneleh Gang Pandean 4 No. 40, Bung Karno dilahirkan pada 6 Juni 1901.

Sayangnya rumah bernuansa putih itu hanya bisa dinikmati dari pelataran depan saja.

2. Rumah masa kecil Bung Karno di Jombang

tribunnews
Kushartono, salah satu kerabat Bung Karno bersama Khoirul Anam, penjaga pekarangan tempat berdirinya bangunan bekas rumah masa kecil Presiden RI pertama Soekarno (Bung Karno), saat mengecek kondisi rumah, Kamis (11/7/2019). Rumah masa kecil Bung Karno itu berada di kawasan Gang Buntu, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (MOH. SYAFIÍ)

Presiden RI pertama Soekarno (Bung Karno), semasa kecil pernah tinggal di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kisah Bung Karno pada masa kecilnya pernah tinggal di Ploso Jombang, salah satunya merujuk pada buku berjudul ‘Ida Ayu Nyoman Rai IBU BANGSA’, yang ditulis oleh 7 guru besar dan seorang doktor.

Buku tersebut diterbitkan oleh Kemang Aksara Studio bekerja sama dengan Akademi Kebangsaan Jakarta, tahun 2012.

• Prabowo Ingin Buat Patung Bung Karno Naik Kuda Minta Izin Megawati: Ada Sejarah, Bu

Pada salah satu bagian buku, tepatnya pada Bab IV, dituliskan cerita saat Ida Ayu Nyoman Rai Srimben tinggal di Ploso, mengikuti suaminya, Raden Soekeni Sosrodihardjo.

Soekeni, ayah Soekarno, mendapatkan tugas menjadi Mantri Guru atau Kepala Sekolah di wilayah Ploso. Ayah Bung Karno bertugas sebagai Mantri di Ploso dari tahun 1901 hingga tahun 1907.

 

Surat tugas sebagai Mantri Guru yang diterima Soekeni, ditandatangi oleh Direktur Pendidikan, Peribadatan dan Kerajinan Pemerintah Hinda Belanda pada tanggal 28 Desember 1901.

Kushartono, pengelola alias juru kunci rumah masa kecil Bung Karno bercerita rumah yang dimaksud sebagai rumah Bung Karno saat kecil, tepatnya berada di kawasan Gang Buntu, di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso.

Namun, saat dikunjungi Kompas.com pada Kamis (11/7/2019), rumah itu tinggal pondasi.

“Dari penelusuran keluarga besar Soekarno, di rumah ini dulunya Bung Karno pernah tinggal,” kata Kushartono, saat berada di lokasi bekas rumah tinggal Bung Karno semasa kecil.

3. Rumah masa kecil Soekarno di Kediri

tribunnews

Presiden Soekarno pernah menghabiskan masa kecil di Kabupaten Kediri, tepatnya di Desa Pojok, Kecamatan Wates.

Rumah sederhana yang disebut Ndalem Pojok ini disebut-sebut lokasi bergantinya nama Koesno ke Soekarno.

Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno tersebut sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Kediri.

Kushartono pengelola situs tersebut mengaku sangat mengapresiasi langkan penetapan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya karena banyak rumah-rumah Bung Karno yang lain sudah tidak ada.

“Seperti rumah di Mojokerto, Jombang, Tulungagung yang saat ini sudah tidak ada lagi,” imbuhnya.

Dengan status tersebut, dia berharap sejarah Bung Karno bisa dikenang abadi dan perjuangannya diteladani hingga ke generasi selanjutnya.

Kawasan situs ini merupakan sebuah rumah induk dengan halaman yang cukup luas.

Rumah itu milik RM Soemohatmodjo patih sinuhun ke IX Mangkunegaran. Konon pada masa kecilnya, Soekarno yang masih bernama Koesno oleh ayahnya dititipkan di rumah ini dan diasuh langsung oleh Soemohatmodjo.

Oleh pengasuhnya ini pula nama Soekarno disematkan sebagai pengganti nama Koesno karena kerap sakit-sakitan.

4. Rumat Atsiri, peninggalan Soekarno di Tawangmangu

tribunnews
Marigold yang merupakan tanaman atsiri di Rumah Atsiri, Karanganyar. Disini Bung Karno pernah berkunjung (Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya)

Rumah atsiri merupakan bangunan yang didirikan sekitar tahun 1963.

Pabrik ini dibangun kisaran tahun yang sama dengan pembangunan Gelora Bung Karno.

Tempat ini dulunya merupakan pabrik citronella kerja sama antara pemerintah Indonesia-Bulgaria.

Paulus Mintarga, owner dari Rumah Atsiri Tawangmangu mengatakan Soekarno saat itu berkeinginan membuat pabrik citronella (sereh wangi) terbesar di ASEAN.

Dalam masa-masa perkembangannya sejak sebagai pabrik atsiri hingga sekarang menjadi Rumah Atsiri, tempat ini mengalami beberapa pemindah tanganan.

Di era Presiden Soeharto menurut penuturan Paulus, tempat ini sempat difungsikan sebagai tempat research.

Pabrik tersebut sempat dikelola oleh orang yang kemudian justru menjual barang-barang logam yang ada di dalam pabrik. Kini hanya tinggal beberapa alat termasuk mesin pencacah yang bisa dilihat.

BACA JUGA:   Pertama Kali Secara Internasional, Netflix Resmi Tayangkan Film HOS Tjokroaminoto di Hari Pahlawan

5. Rumah Rengasdengklok, Karawang

tribunnews
Cucu Djiauw Kie Siong, Yanto Djuhari (68) atau juga dikenal dengan nama Liauw Cing Lan yang kini mengelola rumah kakeknya di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Djiau Kie Siong adalah pemilik rumah yang pernah disinggahi oleh Bung Karno dan Hatta sebelum proklamasi berlangsung. (KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO)

Pada 16 Agustus 1945, lepas subuh, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput untuk dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Ia bersama Fatmawati dan putranya yang masih bayi, Guruh Soekarnoputra, pergi ke Rengasdengklok dikawal oleh Soekarni, Shodancho Singgih, Jusuf Kunto, dan tokoh-tokoh lainnya.

Soekarno dan Hatta singgah di sebuah rumah milik Djiauw Kie Siong. Padahal rencana awal, Sang Proklamator akan ditempatkan di markas PETA (Pembela Tanah Air).

“Soekarno dan Hatta datang pagi hari ke rumah Djiauw Kie Siong. Kenapa datang ke sini? Karena rumah ini tak mencolok. Rencana awalnya itu tempat kumpulnya di markas PETA. Dipilih rumah Djiauw ini karena jauh dan tertutup rimbun pohon,” kisah sejarawan Rushdy Hoesein kepada KompasTravel di Rumah Djiauw Kie Siong beberapa waktu lalu.

Pada 1957, rumah asli Djiauw Kie Siong yang semula berada di pinggiran Sungai Citarum dipindahkan di lokasi yang berjarak sekitar 150 meter dari tempat aslinya di Kampung Bojong.

Djiaw Kie Song adalah warga keturunan Tionghoa Hakka yang bekerja sebagai petani dan tinggal di sekitar Sungai Citarum.

Dia memiliki sawah sekitar 2 hektare dan bertani sejak tahun 1930.

Djiaw Kie Song lahir sekitar tahun 1880 di Desa Pacing, Sambo, Karawang.

 6. Loji Gandrung, tempat Soekarno menginap di Kota Solo

tribunnews
Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Surakarta berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (7/12/2018). (KOMPAS.com/LABIB ZAMANI)

Loji Gandrung adalah rumah dinas Waki Kota Surakarta yang ada di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah.

Rumah dinas yang pernah ditempati Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menjabat wali kota pada periode 2005-2012 itu akan berubah nama menjadi ” Rumah Bung Karno.

Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengatakan pergantian nama Loji Gandrung tersebut, untuk menghargai dan menghormati Bung Karno sebagai pendiri bangsa Indonesia.

Menurutnya, setiap kali ke Solo Bung Karno selalu singgah dan menginap di Loji Gandrung.

“Bung Karno dulu kalau ke Solo menginap di sini, tinggal di sini. Ini bagian dari sebuah penghargaan dan penghormatan kepada beliau (Bung Karno) selaku pendiri republik, bapak bangsa dan plokamator,” jelasnya.

7. “Kamar Suci Bung Karno” di Bali

tribunnews
Kamar yang pernah ditempati Bung Karno di Grand Inna Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali. (Kompas.com/SHERLY PUSPITA))

“Kamar Suci Bung Karno” ada di Hotel Grand Inna Bali Beach, yaitu hotel bintang 5 pertama di Bali yang diresmikan langsung oleh Presiden Pertama, Ir Soekarno pada tahun 1963.

Hotel Grand Inna Bali Beach pernah mengalami kebakaran besar pada 1993. Api melahap hampir seluruh bangunan, kecuali satu buah kamar di lantai 3.

Kamar bernomor 317 tersebut tak terbakar sedikit pun.

Menurut petugas hotel, kamar tersebut dulu kerap digunakan Soekarno untuk sembahyang.

Kini kamar tersebut kerap disebut sebagai “Kamar Suci Bung Karno”.

Tiap hari Kamis, warga sekitar dan tamu hotel diperbolehkan “sowan” ke kamar ini.

Kompas.com berkesempatan masuk ke kamar tersebut beberapa waktu lalu.

Aroma dupa sangat menyengat begitu memasuki ruangan.

Tamu yang masuk ke kamar dilarang menggunakan alas dan dilarang mengambil gambar saat memasuki ruangan tesebut.

Lantai ini dilapisi dengan karpet tebal layaknya kamar lainnya.

Di sisi kanan ruangan ada sebuah almari kaca besar yang di dalamnya terdapat foto-foto Bung Karno.

Ada juga beberapa botol minyak wangi tempo dan beragam perkakas lainnya.

Di sisi kanan ruangan kami melihat kamar mandi yang masih menggunakan perabotan tempo dulu. Ukuran kamar mandi tak terlalu luas.

Di dalam kamar terdapat dua tempat tidur berukuran kecil dan terdapat bunga-bunga segar dari para pengunjung dipajang dengan begitu rapi.

Di sisi kamar masih tampak noda hitam akibat api yang sengaja tak dicat ulang oleh pengelola hotel.

Selain di lantai 3, ada juga kamar khusus para kepala negara yang menginap yang berada di lantai 7.

Kamar yang berada di lantai 7 tersebut pernah ditempati para kepala negara yaitu Soekarno, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, sampai Joko Widodo.

“Ini kamar yang pernah ditempati Bung Karno. Kondisinya masih mirip, hanya saja kamar ini sudah direnovasi karena hotel ini pernah terbakar pada 1993.

Setelah direnovasi, Ibu Megawati, Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono juga pernah menginap di sini.

Kemudian Bapak Joko Widodo juga pernah singgah di kamar ini pada tahun 2017,” tutur salah satu petugas hotel kepada KompasTravel saat berkunjung ke Hotel Grand Inna Bali Beach beberapa waktu lalu.

8. Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta

tribunnews
Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta berada di deretan kawasan Malioboro. (panduan wisata)

Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta berada di deretan kawasan Malioboro.

Ibu Fatmawati yang merupakan istri dari Presiden Soekarno yang saat itu sedang hamil tua, melahirkan Megawati Soekarnoputri pada Januari 1947 di Gedung Agung Yogyakarta.

Pada 4 Januari 1946, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta beserta keluarganya dijemput diam-diam dari Jakarta dan dibawa ke Yogyakarta.

BACA JUGA:   Di Bandung, Tan Malaka Mendirikan Sarekat Islam School

Selanjutnya pada tanggal 6 Januari 1946, Yogyakarta resmi menjadi Ibu Kota baru Republik Indonesia dan Gedung Agung menjadi Istana Kepresidenan.

Istana Kepresidenan Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 4,2 hektar.

Tempat ini berhadapan dengan bekas benteng VOC Fort Vredenburg di tepi jalan Jendral Ahmad Yani.

Saat masuk ke pintu gerbang utama, akan terlihat patung raksasa penjaga pintu “Dwarapala” setinggi 2 meter yang berasal dari sebuah biara Candi Kalasan.

Terdapat juga Tugu Dagoba (tugu lilin) setinggi 3,5 meter yang terbuat dari batu andesit.

Pada masa pemerintahan Belanda, Gedung Agung semula merupakan kediaman resmi residen Belanda ke-18 bernama Anthonie Hendriks Smissaert di Yogyakarta (1823-1825).

Pada 1867 saat terjadi gempa bumi, gedung tersebut sempat ambruk, dan dibangun kembali pada 1869.

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung Agung menjadi kediaman resmi Koochi Zimmukyoku Tyookan, penguasa tertinggi Jepang di Yogyakarta.

Ketika Karesidenan Yogyakarta ditingkatkan status administrasinya menjadi provinsi sejak tahun 1927, gedung itu kemudian berubah julukan menjadi Gubernuran atau Loji Gubernur.

9. Rumah pengasingan Bengkulu

tribunnews
Suasana rumah pengasingan Bung Karno di Kelurahan Anggut, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, beberapa waktu lalu. Rumah ini pernah dihuni Bung Karno tahun 1938-1942. Di rumah inilah, sang proklamator untuk pertama kali bertemu dengan Fatmawati. (KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN)

Terletak di jantung Kota Bengkulu, rumah yang berada di Kelurahan Anggut, Kecamatan Ratu Samban, itu adalah rumah yang pernah ditempati salah seorang proklamator bangsa Indonesia: Soekarno.

Bung Karno menempati rumah itu pada 1938-1942. Bung Karno menjejakkan kaki di Bengkulu pada 14 Februari 1938.

Sebelumnya, bersama istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami, Bung Karno berlayar dari tempat pembuangannya di Flores ke Pulau Jawa.

Bung Karno hanya seorang diri ketika tiba di Bengkulu.

Keluarganya baru menyusul beberapa minggu kemudian.

Sementara waktu sambil menunggu rumah pengasingannya diperbaiki, Bung Karno ditempatkan di Hotel Centrum.

Hotel itu sudah tidak ada lagi.

Posisi hotel itu, jika masih ada, tepat di seberang kantor Bank Indonesia Bengkulu.

Rumah pengasingan yang ditempati Bung Karno sekeluarga adalah milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat.

Pada tahun 1940-an, rumah dengan dua kamar tidur itu berada agak di pinggir kota.

Dahulu, Bengkulu dipilih sebagai lokasi pengasingan Bung Karno karena aksesnya yang sulit dan terpencil.

Namun, kini seiring perkembangan kota, rumah pengasingan itu persis berada di jantung Kota Bengkulu.

Satu saat, di rumah pengasingan itu, Bung Karno bersama Inggit Garnasih menjamu keluarga Hassan Din, tokoh Muhammadiyah asal Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Ketika itulah, untuk pertama kali Bung Karno melihat gadis belia putri Hassan Din, Fatmawati, yang sengaja dibawa.

Di rumah itu juga pada akhirnya Fatmawati ikut menumpang.

Tak perlu waktu lama, Fat, begitu ia dipanggil, menjadi sahabat Ratna Djuami.

Tak hanya tidur di kamar yang sama, mereka juga sama-sama sekolah di RK Vakschool Maria Purrisima yang merupakan sekolah tertinggi di Kota Bengkulu milik sebuah yayasan Katolik.

Waktu terus berjalan dan sejarah pun terus terukir. Megawati menjadi Presiden Ke-5 RI.

Sementara rumah pengasingan yang pernah ditempati kedua orangtua Megawati masih begitu-begitu saja. Kenangan yang tersimpan dalam rumah itu menjadi cerita menarik yang selalu disampaikan penjaga rumah kepada pengunjung.

10. Jejak cinta Bung Karno di Bangka Barat

tribunnews
Ruang kerja Bung Hatta di Pesanggrahan Wisma Menumbing, Muntok, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (29/8/2017). (KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO)

Salah satu peninggalan bersejarah yang erat kaitannya dengan sejarah nasional bangsa Indonesia, ada di daerah Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Peninggalan sejarah tersebut, bernama Pesanggerahan Menumbing yang berada di puncak gugusan perbukitan Menumbing.

Pesanggerahan Menumbing dulunya digunakan sebagai lokasi pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta. Tokoh nasional lainnya yang juga sempat diasingkan di wilayah Muntok yakni Agus Salim, Mohammad Roem dan Ali Satroamijoyo.

Salah satu yang menarik dari peninggalan itu adalah, surat cinta Bung Karno pada istrinya Fatmawati.

Surat ini melampirkan gambar foto Bung Karno, sehari setelah diasingkan di Muntok. Ini isi suratnya :

‘Fat, ini adalah gambar mas pada waktu sehari di Muntok. Kurus ataukah gemuk?.

Mas. Soekarno.

Pengelola Istana Menumbing, Tejo, mengungkapkan, Bung Karno hanya berada selama 6 bulan saja di pengasingan Pesanggerahan Menumbing.

Kolonial Belanda kemudian memindahkan Bung Karno karena alasan keamanan dan kondisi lingkungan yang dinilai kurang baik bagi kesehatan.

Sebelumnya Belanda, sempat dikecam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena memperlakukan tahanan politik secara tidak baik. Istana menumbing dibangun pertama kali oleh pemerintah Belanda sebagai lokasi peristirahatan kepala administrasi pertimahan Muntok.

Saat agresi militer Belanda berhasil merebut kota Yogyakarta, para pemimpin bangsa yang ditangkap kemudian diasingkan ke Muntok Bangka Barat ini.

SUMBER: KOMPAS.com (Wahyu Adityo Prodjo, Nur Rohmi Aida, Moh. Syafií, M Agus Fauzul Hakim, Labib Zamani, Sri Anindiati Nursastri, Heru Dahnur)

Editor: Dian Anditya Mutiara

sumber: tribunnews.com

News Feed