by

Haji Agus Salim Belajar Jarak Jauh

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

HAJI Agus Salim semasa kecil bersekolah di Europeesche Lagere School. Pahlawan nasional itu bisa belajar di sekolah khusus anak-anak Eropa di Hindia Belanda tersebut lantaran ayahnya pegawai pemerintah. Agus Salim dikenal cerdas di sekolah. Ia doyan berdebat dan berpikir kritis. Bahasa Belandanya bagus. Pun ia cakap dalam pelajaran sejarah dan berhitung. Orang menganggap Agus Salim anak istimewa karena pintar tanpa belajar. Dia sehari-hari sering terlihat bermain, menonton bioskop, atau piknik bersama teman-teman bulenya. Di rumah dia lebih sering terlihat mengerjakan tugas rumah. Tidak banyak yang tahu setiap siang setelah makan Agus Salim mengendap naik ke loteng rumah. Di sana dia menekuni pelajaran yang baru diperoleh di sekolah sekaligus mempersiapkan pelajaran esok harinya. Karena di loteng gelap, dia harus membuka beberapa genting agar cahaya masuk. Beberapa hari lalu media memuat foto mahasiswa, pelajar SMK, dan siswa SMP yang belajar di tepi jalan. Mereka berbuat begitu demi mendapatkan sinyal internet supaya bisa belajar daring. Di rumah mereka tidak ada sinyal internet. Saya terharu melihat foto itu. Terharu karena mereka pantang menyerah mendapatkan sinyal internet demi belajar daring. Mereka serupa Agus Salim yang pantang menyerah mengendap-endap ke loteng supaya bisa tenang belajar. Bila mahasiswa, pelajar, siswa, atau murid dewasa ini pantang menyerah mencari sinyal internet, Agus Salim dulu pantang menyerah mencari cahaya di loteng rumahnya. Namun, tak sedikit yang mengkritik proses belajar daring. Mereka mengatakan jaringan internet di Indonesia belum merata. Celakanya mereka yang kerap mengeluhkan ketiadaan internet atau kuota internet itu terlihat selalu eksis di media sosial. Belajar daring sesungguhnya hanyalah salah satu metode pembelajaran jarak jauh. Metode lainnya ialah melalui televisi atau radio. Metode lainnya lagi guru mendatangi sekelompok siswa hari ini, lalu mendatangi kelompok lainnya di hari lain. Kita tentu bisa mengkreasikan metode-metode lain untuk pembelajaran jarak jauh. Ketersediaan berbagai metode belajar jarak jauh semestinya tidak membuat kita bergantung pada satu metode. Bila jaringan internet tidak tersedia di satu tempat, kita bisa ke tempat lain di sekitar kita yang ada jaringan internetnya, seperti yang dilakukan mahasiswa, pelajar, dan siswa tadi. Namun, bila di tempat kita dan sekitarnya tak tersedia jaringan internet sama sekali, kita bisa menggunakan metode lain. Tentu saja dalam waktu yang tidak terlalu lama pemerintah semestinya menyediakan jaringan internet secara merata. Apalagi, metode pembelajaran daring kiranya bakal berlangsung lama, bahkan mungkin bakal permanen, setidaknya menjadi tren. Sejumlah lembaga pendidikan ternama di dunia dan Indonesia menyelenggarakan massive open online course (MOOC). Kembali ke Haji Agus Salim, dia punya delapan anak. Dia tidak mengirim anak-anaknya ke sekolah formal, kecuali si bungsu. Dia mengajar segala mata pelajaran kepada anak-anaknya di rumah. Tidak ada kelas, tidak ada jam pelajaran mengikat. Agus Salim beralasan pendidikan saat itu ialah sistem pendidikan kolonial. Anak bungsunya dimasukkan ke sekolah formal setelah Indonesia merdeka. Apa pun alasannya, Agus Salim kiranya melakoni apa yang kini disebut home schooling. Dalam konteks pandemi covid-19 ini, dia melakoni belajar dari rumah yang menjadi salah satu metode pembelajaran jarak jauh. Bila Agus Salim melakoni pembelajaran di rumah karena pandemi kolonialisme, kita menjalaninya karena pandemi korona. Namun, orangtua kerap mengeluhkan proses belajar dari rumah. Mereka kerepotan membantu anak-anaknya belajar di rumah. Mungkin karena selama ini orangtua memercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah formal dan tahunya terima beres. Kita mengeluhkan pembelajaran jarak jauh tidak efektif, tetapi pembelajaran jarak jauh justru membuat Agus Salim pintar. Kita mengenalnya sebagai diplomat ulung yang menguasai sejumlah bahasa. Ia belajar dan menguasai berbagai bahasa secara autodidak, bukan melalui pendidikan formal. Efektif atau tidak, proses pembelajaran bergantung pada kerja keras dan kreativitas kita. Kerja keras dan kreativitas mensyaratkan ketidaktergantungan pada satu hal. Betul Kemendikbud semestinya memberi panduan, tetapi kita tidak boleh bergantung padanya. Panduan pembelajaran tetap membutuhkan kerja keras dan kreativitas supaya ia efektif. Kalaupun tak ada panduan dari Kemendikbud, kita tak boleh menyerah, tetap bekerja keras dan kreatif menciptakan metode belajar efektif. Hanya dengan kreativitas, kerja keras, dan kemandirian dalam dunia pendidikan, kita bisa menghasilkan manusia Indonesia unggul. Haji Agus Salim telah membuktikan itu.

BACA JUGA:   SMK Cendikia Mengadakan Pembekalan Dan Pelepasan Prakerin Kelas XI

sumber: mediaindonesia.com

News Feed