by

Kisah Sang Pendiri Sarekat Dagang Islam (Santri, Pengusaha dan Pejuang)

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Inggris tercatat sebagai penjajah dua pertiga wilayah bumi, dan 90% negara di bumi ini pernah menjadi jajahannya. Tak heran apabila bahasa Inggris menjadi bahasa paling populer di dunia. EIC, kartel dagang Inggris memonopoli perdagangan di seluruh wilayah jajahannya. Sehingga ia menjadi raksasa ekonomi, asetnya sangat besar. Namun kekayaan EIC belumlah mampu menyaingi kartel dagang negara tetangganya, Belanda, yang mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

VOC adalah kartel dagang Belanda yang lahir 400 tahun yang lalu, berumur 200 tahun lebih sebelum dinyatakan bangkrut pada abad 18. VOC tercatat sebagai perusahaan dengan aset terbesar dan paling kaya sepanjang sejarah manusia. Bahkan meski 20 perusahaan papan atas dunia modern seperti Google, Apple, Microsoft, Amazon, Exxon, Samsung, dan lain sebagainya bersatu mengumpulkan total kekayaan mereka, masih belum mampu menandingi kekayaan VOC ayng mencapai $7,900,000,000,000. (7,9 triliun dollar AS).

Dan kekayaan sebesar itu diperoleh dengan memperbudak bangsa kita dan mengeruk kekayaan alam yang ada di Indonesia selama 350 tahun. Bisakah kita bayangkan, kekayaan yang Allah karuniakan kepada kita?

Maka ketika ada anak bangsa yang menjadi tokoh pergerakan aktif menyuarakan perjuangan ekonomi, maka bisa dipastikan Belanda akan membasminya.

Hiruk pikuk kita yang menyuarakan perjuangan ekonomi, dengan mendirikan bank syariah, pasar syariah, jaringan swalayan syariah, baitul mal, dan sebagainya, sejatinya telah dirintis pada awal abad 20, sebelum kemerdekaan bangsa kita. Bahkan rintisan tokoh ini kelak menjadi salah satu organisasi perintis kemerdekaan Indonesia. Dialah K.H. Samanhudi.

Asal-Usul K.H. Samanhudi

K.H. Samanhudi merupakan tokoh pejuang yang dikenal berkat jasanya di dalam mendirikan Sarekat Dagang Islam. Ia merupakan pria keturunan Jawa, lahir di Laweyan, Surakarta pada tahun 1868 M. Ayahnya seorang pengusaha batik bernama H. Ahmad Zein. Di mata masyarakat, ia dikenal dengan sebutan Kyai Haji Samanhudi. Lahir dengan nama Sudarno Nadi. Di usia 20 tahun, dia berganti nama menjadi Wirjowikoro. Meski hanya tamatan Sekolah Dasar, namun ia dikenal suka belajar,terutama ilmu Agama Islam. Beliau pernah nyantri di beberapa pondok pesantren. Di antaranya Pondok Pesantren K.H. Sayuthy, Ciawigebang, Pondok Pesantren K.H. Abdur Rozak, Cipancur, Pondok Pesantren Sarajaya, Cirebon, Pondok Pesantren K.H. Zainal Mustafa, Tasikmalaya.

BACA JUGA:   Polemik R.A.A Wiranatakoesoemah V dengan Kaum Komunis

K.H. Samanhudi sangat dekat dengan guru-gurunya, terutama dengan K.H. Zainil Mustafa, yang dengan berani memberontak kepada Jepang dan terkenal dengan peristiwa pemberontakan Singaparna. Jiwa santri begitu melekat kepadanya, dan kelak mewarnai corak organisasi perjuangan yang ia dirikan.

Mulai Berbisnis sejak Sekolah Dasar

Tidak hanya tekun belajar, Samanhudi juga mengisi waktu luangnya dengan bekerja. Kedua aktivitas itu telah dilakukannya sejak tamat Sekolah Dasar. Salah satu kegiatannya adalah berdagang, terutama batik. Jiwa dagang memang sudah ada di dalam dirinya sejak lama. Usaha batiknya berkembang bagus dengan ratusan pegawai. Keuntungan rata-rata 800 gulden per hari. Sebagai perbandingan, waktu itu gaji seorang bupati 1.000 gulden per bulan. Tahun 1904 M, K.H. Samanhudi menjalankan ibadah haji.

Berdirinya SDI

Berbekal pengalamannya terjun langsung dalam bisnis perdagangan, pengetahuannya menjadi semakin luas. Di sini ia mulai menyadari adanya perbedaan perlakuan yang didapatkan oleh pedagang pribumi dan Tionghoa dari pengusaha Hindia Belanda. Jiwa santrinya menjadi bergolak. Kondisi itu kemudian mengilhami dirinya untuk membentuk Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tanggal 16 Oktober 1905. SDI-lah gerakan nasional pertama di negara ini, yang benar-benar melawan pemerintah Belanda. Sarekat ini bertujuan untuk membela kepentingan pedagang-pedagang Indonesia. Sarekat Dagang Islam (SDI) berdiri di kampung Sondakan, Solo dengan pendiri oleh Haji Samanhudi, Sumowardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suryopranoto, Jarmani, Haryosumarto, Sukir, dan Matodikoro.

Tujuan awal dari pembentukan organisasi tersebut adalah mengakomodir kebutuhan pengusaha batik terutama yang berasal dari Surakarta. Itu tidak lain agar pedagang Indonesia merasakan keadilan.

BACA JUGA:   MTs Cokroaminoto Madukara mengucapkan Selamat Milad ke-115 Tahun Syarikat Islam

Di dalam organisasi tersebut, dirinya diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua organisasi. Dalam perkembangannya, beberapa tokoh nasional turut bergabung dengan SDI, di antaranya; HOS Tjokroaminoto dan K.H. Agus Salim. SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) setelah usulan Tjokroaminoto diterima, yakni agar ruang gerak organisasi tidak terbatas pada perniagaan, tetapi lebih luas, termasuk perjuangan politik memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

K.H. Samanhudi adalah tokoh yang berpandangan jauh ke depan. Ia sadar, bahwa untuk perkembangan Sarekat Islam dibutuhkan seorang pemimpin dengan pendidikan tinggi, berkarakter kuat, dan berwawasan luas. Untuk itu, ia membuka jalan bagi HOS Tjokroaminoto untuk memimpin SI. Pada perjalan waktu, Sarekat Islam dengan cepat berkembang menjadi organisasi yang besar. Pemerintah Belanda sangat khawatir dan sangat membatasi pergerakan organisasi ini. Namun angina perubahan sulit dibendung. Dengan cepat cabang-cabang SI berdiri di berbagai daerah dan ribuan orang berbondong-bondong mencatatkan diri sebagai anggota. Pada tahun 1914 M, SI sudah memiliki 81 cabang dan anggota yang mencapai 440.000 orang. Keanggotaan yang sangat besar untuk organisasi masa lampau, sekalian untuk masa sekarang.

K.H. Samanhudi setia mengawal organisasi yang ia dirikan ini, meski sejak tahun 1920, ia mulai sakit-sakitan sehingga tidak bisa lagi berpartisipasi aktif seperti sebelum-sebelumnya.

Sesudah Indonesia merdeka, beliau juga mendirikan Barisan Pemberontak Indonesia Cabang Solo. Hal ini bertujuan untuk menghadapi ancaman serangan Belanda. Beliau juga mendirikan Gerakan Persatuan Pancasila. Pada waktu Belanda melancarkan aksi agresi militer kedua, beliau membentuk laskar yang bernama Gerakan Kesatuan Alap-Alap yang ditugaskan untuk menyediakan perlengkapan terutama bahan makan untuk tentara yang sedang bertempur.

Wafatnya Sang Kyai

K.H. Samanhudi wafat pada 28 Desember 1956 M di Klaten. Untuk mengenang jasa-jasanya terhadapa Tanah Air, ia dimasukkan dalam daftar Pahlawan Pergerakan Nasional. Dan nama K.H. Samanhudi diabadikan sebagai nama jalan di kampong Laweyan, Surakarta.

sumber: sendal-uwais.com

News Feed