by

Dialektika antara Sosialisme dan Islamisme

Print Friendly, PDF & Email

Kajian mengenai sosialisme dan Islamisme menarik untuk dibedah, karena berkaitan dengan hakikat keberadaan manusia. Mula-mula saya ingin menggambarkan konsep dasar Islam, disimbolkan ketika kita berada di Ka’bah, Mekkah. Yang mana setiap manusia dianjurkan memakai dua kain putih untuk melakukan ibadah mengelilingi Ka’bah. Pikiran saya bertanya, untuk apa fungsinya? Ternyata, dari hal tersebut, menyimbolkan setiap manusia sama di mata Tuhan; Allah jika dia umat Islam. Tetapi kita perlu mencari nilai di dalam aktivitas peribadahan tersebut. Nilai yang membentuk masyarakat, menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat. Jika merujuk kepada apa yang saya tulis di Qureta mengenai Pertentangan Simbol dan Nilai Agama pada tahun 2019; setidaknya nilai yang dapat diambil dari simbol dua kain putih tersebut ialah keadilan. Setiap manusia itu sama, setara. Walaupun pada realitasnya, di balik dua kain putih terdapat status ekonomi yang berbeda. Lalu tafsir tersebut, ‘kesetaraan manusia’, atau keadilan, merebak di masyarakat. Ada berbagai cara pandang menyikapinya, tetapi paling banyak merujuk kepada istilah paham kiri dan paham kanan. Dari mana istilah tersebut muncul? Menurut buku Dasar-Dasar Ilmu Politik yang ditulis oleh Miriam Budiarjo, istilah tersebut muncul ketika revolusi Prancis. Ketika itu, kaum penguasa dalam sebuah sidang berada di posisi kanan. Dan rakyat sebagai kaum atau kelompok yang menentang kemapanan kekuasaan berada di posisi kiri (Jean, 2019). Dalam kajian yang komprehensif mengenai revolusi Prancis, tidak terjadi begitu saja. Terdapat berbagai peristiwa yang menyebabkan, salah satunya ialah Renaissance, atau kelahiran kembali. Sebagai yang menggugat kemapanan kekuasaan gereja atas kehidupan masyarakat Eropa.  Gagasan yang Dilahirkan oleh Renaissance Renaissance melahirkan gagasan besar bernama humanisme dan rasionalisme (akal budi), sebagai anti-tesis dari dominasi gereja (Dinar, 2013). Penyebab terjadinya Renaissance adalah keterlibatan ilmu pengetahuan di dalam masyarakat.   Saya juga telah menuliskan bagaimana terjadinya Renaissance pada Perpusnas Indonesia, yang berjudul Buku, Perpustakaan, Peradaban Pencerahan. Yang mana hasilnya ialah terdapat peran Keilmuan, ilmu pengetahuan Islam pada saat itu. Seperti yang terjadi di Andalusia, Spanyol dan Sisilia, Italia. Atau setidaknya kita perlu membaca peristiwa Revolusi Prancis, sebagai cara kita memandang nasionalisme. Agar nantinya tidak menjadi nasionalisme salon, istilah kepada manusia pragmatis menjual paham nasionalisme demi keuntungan pribadi, khususnya penguasa saat ini. Di balik asal-usul kata paham kiri dan paham yang merujuk kepada buku Peristiwa Revolusi Prancis; setidaknya kita harus melampaui itu semua. Kita harus menemukan realitas yang ada, karena perkembangan sejarah masyarakat. Lalu apa hubungannya dari istilah paham kiri, dan Islam itu sendiri? Ternyata terdapat garis besarnya, walaupun menurut akal pikiran individu atau aktor intelektual, yang dalam arti lain bebas tafsir. Yang mana dalam artikel ini, kita akan membedah paham kiri dan Islam itu sendiri. Pasca Orde Baru, paham kiri oleh masyarakat Indonesia kebanyakan dinilai merujuk kepada Marxisme; paham yang digagas Karl Marx dan Friedrich Engels. Rasa-rasanya masyarakat juga perlu mengetahui sebab-sebab di balik paham Marxisme. Terdapat sejarah pertentangan panjang, atau dialektika, yang terjadi atas paham tersebut. Dua di antaranya yang berpengaruh kepada pembentukan Marxisme ialah Sosialisme dan masyarakat industri (Tan, 2019).

Sosialisme Menurut H.O.S Tjokroaminoto 

Sosialism menjadi topik yang diperdebatkan bagi intelektual kiri di berbagai negara. Setidaknya, di Indonesia yang pertama kali memperkenalkan istilah sosialisme ialah H.O.S Tjokroaminoto, dalam buku Islam dan Sosialisme. Di sana, beliau berperan sebagai pimpinan kedua dari Sarekat Islam, organisasi pergerakan pada saat pra-kemerdekaan. Tetapi terdapat dialektika, atau pertentangan yang terjadi. Pertentangan tersebut antara paham sosialisme menurut Tjokroaminoto; yang lebih banyak berlandaskan kepada Islam sebagai agama wahyu dari Allah, dan sosialisme yang berkembang di masyarakat Eropa. Walaupun semangat sosialisme di Eropa juga berasal dari agama karena memang universal, hal tersebut menarik untuk dibahas. Dari mana istilah sosialism muncul? Dan bagaimana dialektika yang terjadi dalam paham sosialism? Apa hubungannya dengan Islam? Bagaimana pengaruhnya hingga saat ini? Bagaimana dengan keadaan di Bangsa Indonesia, menyangkut pra-kemerdekaan, orde lama, orde baru, pasca reformasi? Apa pengaruhnya paham tersebut terhadap individu dan masyarakat? Mereka adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat pikiran kita merefleksikan diri, yang berdampak pada praksis (praktik) kehidupan bermasyarakat sebagai individu. Dalam artikel ini, saya mencoba menggunakan pendekatan teori kritis, yang digagas oleh mazhab Frankfurt. Lebih tepatnya Horkheimer, yang dikupas dalam buku yang ditulis oleh Sindhunata pada tahun 2019. Setidaknya dalam teori kritis, terdapat tiga syarat. Pertama, kita harus curiga dan skeptis (kritis) terhadap masyarakat. Kedua, melacaknya melalui sejarah material masyarakat ala Marx, dan berpikir secara dialektis (tesis, antitesis, sintesis) ala Hegel. Ketiga, adalah tidak boleh memisahkan teori ini dengan praksis, bahasa mudahnya ialah aplikatif. Sosialisme dan Berbagai Penafsiran Istilah sosialism muncul ketika peradaban Eropa abad ke-18. Pada saat itu, para sarjana banyak menggagas terkait sosialisme tersebut. Menurut Jufus Wibisono (2012), pengertian paling tepat bersumber dari Hendrik de Man. Dia mengartikan sosialisme ialah sebagai menghendaki susunan masyarakat yang adil dan kooperatif. Jauh sebelumnya, seorang Plato memikirkan bagaimana merubah masyarakat yang lebih adil, lebih sempurna. Dalam buku Islam dan Sosialisme yang ditulis oleh Jusuf Wibisono (2012), terdapat berbagai macam paham terkait sosialisme. Berawal dari sosialisme awal (utopia), yang digagas para sarjana sosialisme awal seperti Owen di Inggris. Selanjutnya, anarkisme yang digagas oleh Proudhon. Dan yang paling terkenal ialah sosialisme ilmiah dengan materialisme historis dialektik, yang digagas oleh Marx dan Engels. Hingga sosialisme agama yang mana H.O.S Tjokroaminoto termasuk di dalamnya (Islam dan Sosialisme). Selain keempat tersebut (sosialisme utopia, anarkisme, sosialisme ilmiah, sosialisme agama), terdapat banyak paham lainnya. Di antaranya sosialisme demokrat, revisionisme, sindikalisme, komunisme (leninisme); hingga sosialisme negara, yang terkenal ialah Hitler dengan diktator militeristik, dan paham-paham lainnya. Banyak, bukan? Seperti yang saya katakan di awal, sosialisme tergantung kepada akal budi aktor intelektualnya (bebas tafsir). Tetapi kita juga harus melampaui itu semua, mengkritisi paham yang ada untuk perbaikan masyarakat. Perbaikan yang seperti apa? Simpanlah pertanyaan itu, sembari kita terus belajar dan bertanya. Jika melihat kondisi di Indonesia, menurut penulis, tidak lain terdapat beberapa keterhubungan dengan gerakan-gerakan sosialisme yang ada. Seperti perpecahan di tubuh Sarekat Islam (SI Merah dan SI Putih), karena beberapa anggota dipecat. Yang termasuk di dalamnya, Semaun dari Sarekat Islam, dan membuat kongres tandingan Sarekat Rakyat. Hal tersebut dicatat sebagai cikal-bakal lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI) (Iswara, Tirto, 2017). Antara Sosialisme, Marxisme, dan Komunisme Jika berkaca pada kondisi masyarakat Indonesia yang tidak bisa membedakan antara sosialisme, Marxisme, dan komunisme. Menurut Vigo Milandi dalam tulisan Membedakan Komunisme dan Marxisme di Qureta, ia mengatakan bahwa sosialisme muncul karena kapitalisme. Marxisme, merujuk kepada sosialisme ilmiah, merupakan salah satu cabang dari sosialisme. Dan komunisme yang merujuk kepada leninisme. Menunjuk pemikiran dan cita-cita Marx yang ditafsirkan, dimasukkan ke dalam konteks politik, dan menjadikannya ideologi. Selain itu, terdapat Sosialisme Utopia yang menghasilkan Sosialisme Demokratis (dibaca: Sosdem). Juga terlibat dalam kancah kehidupan di Indonesia, yang termasyhur diwakili oleh Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan Sutan Syahrir-nya. Dia menggagas pandangan PSI. Dengan gagasan Sosialisme Kerakrayatan, yang merupakan sebuah paham menjujung tinggi derajat kemanusiaan, menghormati hak-hak kemanusiaan dan berjiwa kemanusiaan, sosialisme kerakyatan. Sama dengan demokrasi liberal yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dan menolak kehidupan feodalisme serta kepemimpinan sentralistik (Sutan, 1982). Menariknya, PSI bergerak bukan berdasarkan massa atau rakyat banyak seperti paham sosialisme lainya. PSI bergerak kepada aktor-aktor intelektual; mahasiswa (anak muda), dan aktivis. Saat PSI dibubarkan oleh rezim orde baru, underbow (bawah tanah); dan simpatisan PSI, masuk kepada lembaga swadaya masyarakat dan dosen-dosen di kampus. Sedangkan Sosialisme Agama, yang diperkenalkan oleh H.O.S Tjokroaminoto dalam bukunya Islam dan Sosialisme, menggagas secara garis besar. Bahwasanya kehidupan agama (yang dimaksud Islam) sudah menciptakan terkait sosialisme itu sendiri. Bukan merujuk kepada paham masyarakat Eropa, namun yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah, dengan nabinya ialah Muhammad. Namun terdapat persamaan prinsip dengan sosialism yang digagas oleh peradaban Eropa. Yaitu prinsip kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan (seperti revolusi Prancis Liberte, Egalite, Fraternite). Serta memiliki tujuan untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat (Firman, 2016). Wacana Sosialisme dan Islamisme Karakteristik sosialism di Barat, dibangun atas faktor sejarah masyarakat yang dibangun atas dominasi gereja pada kehidupan masyarakat Eropa. Seperti faktor sejarah peradaban Renaissance, yang membebaskan dari Abad Pertengahan dengan dominasi gerejanya. Sedangkan karakteristik sosialism di Islam (berdasarkan tafsir H.O.S Tjokroaminoto), berdasarkan wahyu yang diturunkan dari nash Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. Dan juga faktor sejarah ekonomi-politik di Arab saat itu. Hal itu juga yang membebaskan maysarakat dari agama dan tuhan materialistik, patung dan berhala (Ahmad Rizky, 2019). Selain itu, di Indonesia paham ‘sosialisme’ Islam (menurut penafsiran H.O.S Tjokroaminoto); membebaskan dan memantik pergerakan bangsa atas ketertindasan kolonialisme kapitalistik negara-negara Eropa. Yakni Belanda, Portugis, dan Jepang. Kedua karakteristik paham tersebut berbeda dari faktor sejarah kemunculannya. Tetapi pada apa yang saya tuliskan mengenai metode ‘nilai’ di tulisan Pertentangan Simbol dan Nilai Agama saya di Qureta; yaitu dengan mengambil ‘nilai’ dari peristiwa dan suatu ajaran atau pengetahuan. Wacana dan diskursus sosialisme di Eropa berkembang atas dialektika dan kritik. Tetapi, ide besarnya bisa disimpulkan ke dalam sebuah nilai. Pertama, sosialisme di Eropa sebagai anti-tesis daripada masyarakat kapitalistik Eropa (masyarakat revolusi industri dan feodalisme kerajaan di Eropa). Sedangkan apabila di Indonesia, sosialisme adalah sebagai anti-tesis dari ketertindasan atas bangsa Eropa. Sebab, mereka adalah yang mengeksploitasi manusia dan sumber daya alam di Indonesia sebelum merdeka. Selain itu, terdapat budaya feodal (sistem kerajaan dan pengelompokan RAS) yang membudaya di masyarakat Indonesia pra-merdeka.   Kedua, sosialisme sebagai sistem yang berupaya memperbaiki masyarakat yang ideal. Dalam bahasa Islam, masyarakat yang madani menurut pandangan Nabi Muhammad. Di Eropa, berbagai perspektif sosialisme bertujuan untuk memperbaiki masyarakat. Sosialisme Ilmiah ala Marx dan Engels, Sosialisme Demokrat, hingga paling awal ialah idea dari sosialisme; yang biasa disebut Sosialisme Utopia, cita daripada sosialisme itu sendiri. *** Kedua poin gagasan tersebut dapat digerakkan, dipersatukan kedalam suatu bentuk gerakan, baik itu gerakan moral, intelektual, dan massa. Bentuk ini juga mengidekan seorang H.O.S Tjokroaminoto untuk mencari nilai dari Islam dan Revolusi Prancis di Eropa; kemerdekaan (liberte), persamaan (egalite), dan persaudaraan (fraternite). Selain kedua point tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Beberapa faktor yang menjadikan sosialism di Eropa berkembang, ialah faktor kultur filsafat Yunani yang dibawa oleh Islam Abad Pertengahan. Kemudian dilanjutkan kepada filosof Renaissance yang dikenal humanis. Diantara kultur tersebut ialah, dua diantaranya berfikir secara logika dan dialtektis. Dan turunannya ialah rasionalisme dan empirisme. Sedangkan di Islam (dengan catatan pada zaman nabi Muhammad), tidak mengenal kultur tersebut. Tetapi hal tersebut bukan untuk dikesampingkan. Sebab, pada Islam Abad Pertengahan yang membuat Islam berada di pusat kejayaannya, dekat dengan pembahasan filsafat. Seperti Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Sina. Oleh karena kita telah mendudukkan sebuah dialektika (tesis, anti-tesis, dan sintesis) dalam sebuah artikel ini, yang mana kedua hal yang bertentangan jauh dari perspektif sejarah dan masyarakatnya. Mereka bisa menjadi sebuah hal yang disatukan dengan pengambilan sebuah nilai. Di mana nilai tersebut nantinya menjadi pedoman di masyarakat. Diaktualisasikan (seperti gagasan Teori Kritis ala Mazhab Frankfurt) sebagai gerakan moral, intelektual, dan massa. *Ditulis dalam Kajian “Benang Merah Gerakan Kiri dan Pergerakan Islam, Sebuah Sejarah yang Dihilangkan”, IMM Fuurinkazan, Universitas Brawijaya. Editor: Zahra. See – https://ibtimes.id/dialektika-antara-sosialisme-dan-islamisme/

BACA JUGA:   5 Pahlawan Nasional Ini Diabadikan Kisah Hidupnya Lewat Film

sumber: ibtimes.id

News Feed