by

Nasib Patung Jan Pieterszoon Coen dan Monumen Peristiwa Pecah Kulit

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email
Patung pedagang Zaman Keemasan Belanda dan penjajah brutal Jan Pieterszoon Coen berdiri tegak di atas sebuah lapangan di kota kelahirannya Hoorn, utara Amsterdam, Belanda. AP / Michael Corder
Oleh: Petrik Matanasi – 1 Juli 2020
Ketika menduduki Indonesia, Jepang menyingkirkan pelbagai hal yang menjadi simbol kolonialisme Belanda.
Sejak 1942, sebagai penguasa baru Hindia Belanda, Jepang banyak menyingkirkan pelbagai hal yang berbau Belanda. Penggunaan bahasa Belanda dilarang, mengganti nama beberapa ruas jalan, membongkar sejumlah patung, dan lain-lain.

Sebagai contoh, Jalan van Heutz diganti menjadi Jalan Imamura, lalu setelah Indonesia merdeka diganti lagi menjadi Jalan Teuku Umar.

Sementara pembongkaran patung salah satunya terjadi di Lapangan Banteng yang dulu disebut Waterlooplein. Di sana berdiri tegak patung Jan Pieterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal VOC. Menurut Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja (2007:38), lapangan ini kerap menjadi tempat parade militer KNIL karena markasnya berada tak jauh dari lapangan tersebut.

Thierry Baudet, politikus Belanda keturunan Indonesia-Eropa, tak ragu meletakkan bunga di patung Jan Pieterszoon Coen lain yang berdiri di Hoorn, Belanda. Bagi Baudet, Coen adalah sosok yang layak dicintai. Soal kolonialisme Belanda, Baudet tak mau ambil pusing.

Orang-orang Betawi, kata Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001:26), menyebut Jan Pieterszoon Coen sebagai Jangkung atau Murjangkung. Patung Coen di Lapangan Banteng setinggi 4,10 Meter.

“Betul-betul Jan Coen alias jangkung,” tulis Bang Bedjat, di koran Pembangoen (09/03/1943).

Bang Bedjat adalah nama pena Anwar Tjokroaminoto (1909-1975), putra Haji Omar Said Tjokroaminoto (1882-1934). Bang Bedjat menulis bahwa Pak Jangkung adalah yang mendirikan kota Betawi.

Patung Jan Pieterszoon Coen dibongkar oleh Jepang pada siang hari tanggal 7 Maret 1943, setahun kurang sehari setelah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada balatentara Jepang di Kalijati, Subang.

Menurut Bang Bedjat, penduduk Batavia bersikap tenang-tenang saja dengan keberadaan patung tersebut. Orang-orang Indonesia di zaman Jepang tampak tidak ambil pusing, apalagi sampai merusaknya. Hal tersebut mungkin karena mereka masih banyak yang buta huruf sehingga tidak paham siapa Coen sebenarnya.

Bang Bedjat menambahkan, merusak patung adalah hal yang tidak ksatria. Orang Indonesia zaman itu tidak memperlakukan patung Coen seperti musuh yang harus diperlakukan seperti binatang.

“Kalau kagak ada sifat-sifat ksatria, jangan-jangan patung itu diarak ke pasar malam, lantas di sana [dipakai] buat permainan tombola (undian) atau tembak-tembakan,” tulis Bang Bedjat.

Setelah dibongkar pada 7 Maret 1943, patung itu kemudian dipindahkan.

“Kemaren baru ditarik di atas mobil gerobak ke Kota Inten,” tulis Bang Bedjat. Mobil gerobak maksudnya semacam mobil bak terbuka seperti sekarang. Kota Inten yang dimaksud kemungkinan besar adalah kawasan dekat Jembatan Kota Inten, di Kota Tua, Jakarta.

Menurut Adolf Heuken, patung Jan Pieterszoon Coen yang terbuat dari perunggu itu dibangun pada 1876 di depan Gedung Keuangan yang dulu sempat jadi istana.

“Dikatakan bahwa patung itu sesungguhnya tiruan patung Raja Swedia Gustav Adolf yang berdiri di Universitas Upsala,” tulis Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (2016:292).

Patung itu baru dihancurkan setelah Indonesia merdeka. Tempo (24/06/1994) melaporkan bahwa patung Murjangkung dihancurkan massa yang berdemonstrasi sekitar tahun 1963-1964, ketika gelombang anti neokolonialisme sedang menghangat.

Patung Murjangkung di tahun-tahun terakhir pemerintahan Presiden Sukarno, tentu sudah dipahami orang-orang Indonesia sebagai lambang kolonialisme Belanda di masa lalu.

Pecah Kulit Pieter Erberveld

Selain membongkar patung perunggu Jan Pieterszoon Coen di Lapangan Banteng, Jepang juga menghancurkan monumen peringatan Pieter Erberveld di Kampung Pecah Kulit, Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta. Erberveld yang berdarah Jerman dan Siam, serta Raden Kartadria yang pribumi, pada 1722 dituduh hendak berontak kepada Belanda.

Pada bagian atas tugu peringatan Erberveld terdapat tengkorak. Sementara di bawahnya terdapat tulisan yang artinya: “Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan akan pengkhianatan Pieter Erberveld yang dihukum. Tak seorang pun sekarang atau untuk seterusnya akan diizinkan membangun, menukang, memasang batu bata atau menanam di tempat ini.”

Meski tugunya dihancurkan, tetapi prasastinya berhasil diselamatkan. Replika tugu itu kemudian dibangun pada zaman Ali Sadikin. Dan tahun 1985 dibongkar lagi karena tempatnya dipakai untuk ruang pamer sebuah jenama mobil buatan Jepang.

Sementara di lahan bekas patung Jan Pieterszoon Coen di Lapangan Banteng kemudian dibangun Monumen Pembebasan Irian Barat. Menurut Willard Anderson Hanna dalam Hikayat Jakarta (1988:246), tugu Irian Barat berujud raksasa berparas beringas yang melepaskan belenggu.

Perebutan Irian Barat terjadi pada awal 1962-an. Patung itu dibangun pada 1963 dan diresmikan pada 17 Agustus 1963 ketika Irian Barat alias Papua alias Irian Jaya dimasuki Indonesia. Masuknya Indonesia ke sana oleh sebagian pihak dianggap tidak ada bedanya dengan penjajahan, seperti yang dilakukan Jan Pieterszoon Coen dan pasukannya atas Jawa dan Ambon.

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh

sumber: tirto.id

News Feed