by

Hikam Sarankan Hasto Beri Contoh PDIP Tebas Kapitalisme

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Inisiatifnews.com – Pengamat politik dari President University, Muhammad AS Hikam menyinggung statemen Hasto Kristiyanto yang merasa bahwa musuh yang harus dilawan adalah kapitalisme.

“Ada pentolan politisi, dari parpol yang berkuasa, PDIP, yang mengatakan bahwa kapitalisme adalah tantangan yang harus dilawan,” kata Hikam, Jumat (19/6/2020).

“Beliau juga bilang bahwa partainya ingin membumikan Pancasila yang difokuskan pada upaya mewujudkan keadilan sosial. Keadilan yang harus diperjuangkan secara progresif, dan penuh dengan nilai kemanusiaan yang menolak segala bentuk penindasan,” imbuhnya.

Namun, ia menyarankan agar Sekjen DPP PDI Perjuangan itu tak usah banyak retorika soal Pancasila yang disinggungnya itu. Akan tetapi membuktikan ucapannya itu setidaknya dimulai dari internal partainya sendiri.

“Saya usul sederhana saja kepada beliau bagaimana kalau beliau memberi contoh awal dengan membersihkan partainya sendiri dari para kapitalis dan kapitalisme duluan,” ujarnya.

Pembuktian itu juga diminta Hikam agar dilakukan secara terukur, sehingga apa yang dikatakan Hasto bukan sekedar lip service atau ucapan tanpa isi.

“Tentu dengan suatu time frame yang jelas dan pembuktian yang nyata. Bukan cuma retorika pepesan kosong saja,” tuturnya.

“Kalau cuma pidato sih sudah lama, seperti nyanyi lipsync atau karaoke. Ataukah ini karaoke politik saja?,” ketus Hikam.

BACA JUGA:   8 September 2020 Program Salam Indonesia Bisa Penyejuk Hati bersama Dr. H. Hamdan Zoelva, SH.MH

Hasto sebut kapitalisme bertentangan dengan pancasila

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto menyatakan tantangan utama Pancasila saat ini adalah memastikan filsafat ideologi bangsa itu bisa dilaksanakan dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, pelaksanaan Pancasila juga menyangkut prinsip politik dan ekonomi.

“Sebab disadari sepenuhnya bahwa kekuatan kapital lebih menguasai dunia politik dan ekonomi hingga dianggap tak sejalan dengan filsafat Pancasila,” kata Hasto Kristiyanto dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (18/5).

Menurutnya, hal itu dapat terjadi karena Pancasila kehilangan watak progresifnya. Dia mengatakan, Pancasila tidak dipahami sebagai penggerak merubah tata pergaulan hidup menuju kemerdekaan sejati bagi setiap warga bangsanya.

Menurutnya, filsafat Pancasila sebaiknya secara bersama dimurnikan dengan gotong royong politik guna menghindari demokrasi yang diwarnai kepentingan kapital alias pemilik modal. Hasto mengatakan, semua pihak saat ini harus bekerja memastikan demokrasi melalui hikmat permusyawaratan.

Hasto melanjutkan, demokrasi juga harus dijalankan sebaik mungkin dan kontestasi politik dilakukan secara adil. Hal itu, sambung dia, guna menghadirkan pemimpin terbaik dengan memastikan tak dipengaruhi kepentingan pemilik modal.

BACA JUGA:   Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta Meluluskan Doktor ke Tujuh

Lebih lanjut, Hasto menilai tantangan saat ini adalah modal ekonomi yang terpusat pada kelompok tertentu saja. Dia mengatakan, padahal Indonesia memiliki pasal 33 UUD 1945 yang seharusnya direalisasikan.

“Tantangannya, kita harus melihat ulang demokrasi kita sendiri yang sangat dikuasai oleh kekuatan kapital. Kita harus berani melihat ulang,” katanya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menyatakan bahwa bila dipelajari, para bapak pendiri Indonesia sejak awal mendesain ideologi Pancasila adalah antikapitalis. Dia mengatakan, Pancasila mengatur bahwa Indonesia adalah negara kesejahteraan yang mengatur dan memberi kesempatan terutama bagi yang kecil untuk tumbuh dan menjadi besar.

“Bukan berarti menolak pemilik kapital besar, namun Pancasila mengatur negara harus membela yang kecil,” katanya.

Hamdan mengatakan, syarat demokrasi Pancasila adalah terlaksana demokrasi ekonomi Pancasila. Dia mengatakan, tanpa itu maka demokrasi ekonomi akan mencontoh demokrasi liberal.

“Jadi prasyarat utama adalah ekonomi ini. Kenapa ini penting? Karena demokrasi politik pada hakikatnya adalah demokrasi yang dikuasai kepentingan modal. Dan itulah yang terjadi di demokrasi Indonesia. Kelas menengahnya sedikit, politik dikuasai pemilik modal, bersimbiosis dengan politisi,” katanya. [RED]

sumber: inisiatifnews.com

News Feed