by

Sarekat Islam: Jejak Awal Perseteruan Islam Dan Komunis

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

REPUBLIKA — Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Persoalan pertarungan Islam dan komunis entah karena sebab apa kini marak. Tapi pasti banyak yang tak tahu bahwa konflik ini sudah berlangsung seabad silam, yakni semenjak terjadinya perpecahan dalam Sarekat Islam (SI).

Pada awalnya, hingga sekitar dari awal berdirinya Sarekat Islam pada 1912 dan embrionya sudah ada sejak pendirian Sarekat Dagang Islam pada 1904, dalam kurun itu sampai dekade awal 1920-an tidak ada masalah. Namun, kemudian berubah dengan datangnya ide komunisme yang dibawa dari Belanda dengan tokohnya yang bernama Heenk Sneevliet (Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, yang lahir 13 Mei 1883 di Belanda dan meninggal di kamp konsentrasi Aersfoort pada 13 April 1942.

Setelah datang ke Indonesia dia berusaha menyusupkan ide komunis ke dalam Sarekat Islam yang merupakan organisasi massa terbesar di Indonesia kala itu. Dengan jumlah pengikut yang mencapai jutaan dan jumah bentengan kader dan pengurus yang meluas di sekujur wilayah Hindia Belanda, dia melihat organiasi ini sangat potensial untuk ‘digarap’.

Pada masa awal pengaruh Sneevliet sangat susah masuk. Ketua Umum Sarekat Islam HOS Cokroamnito dan H Agus Salim tidak bisa dipengaruhi. Namun, ide komunis ini kemudian bisa menyesup kedalam benar generasi muda SI seperti Semaun, H Misbach, dan beberapa  nama lainnya.

Maka kemudian semenjak awal dekade 1920-an itu timbul perpecahan dalam SI menjadi dua kubu Hijau yang islamis dan Merah (komunis).  Cokro Aminoto dituduh dengan berbagai macam ‘bulyan’ seperti mengkorupsi uang partai. Bahkan kemudian dari generasi muda SI yang jadi seteru membuat idiom ‘Nyokro’ sebagai kata lain dari tindakan orang yang melakukan korupsi

Hari ini Dalam Sejarah: 16 Oktober 1905, Sarekat Dagang Islam ...

  • Keterangan foto: Sarekat Islam

Perpecahan SI  makin lama terus menjadi. Generasi muda yang menginginkan SI lebih radikal (revolusioner). Langkah Cokro yang membawa masuk SI ke dalam parlemen Hindia Belanda (Volksraad) di kritik habis sebagai kelemahan. Mereka melihat SI sebagai organisasi lembek dalam melawan kolonial.

BACA JUGA:   Mts Cokro Madukara mengucapkan Selamat HUT TNI ke 75 tahun

Perpecahan ini mencapai titik kulminasi 1924 dengan berdiri PKI. Semaun yang dahulunya merupakan kader SI yang lahir di desa Curah Malan, kecamatan Sumobito, kabupaten Jombang, Jawa Timur, menjadi ketua PKI pertama. Selain Semuan, saat itu tokoh PKI lainnya yang terkenal adalah Dharsono.

Salah satu penanda perpecahan umat Islam Indonesia

Dalam catatan sejarawan MC Ricklefs soal pendirian PKI yang berawal dari Sarekat Islam sempat di bahas dalam bukunya ‘Mengislamkan Jawa’. Dia menulis begini:

Sebuah organisasi radikal yang mulanya dipimpun orang Eropa berkembang menjadi organisasi Komunis yang dipimpin orang Indonesia (yang sebagian besarnya orang Jawa) pada 1920; pada 1924, organisasi ini mengadopsi nama Partai Komunis Indonesia (PKI). Konstituensinya berasal dari kalangan ‘abangan’, baik dari antara kaum proletraiat yang jumlahnya terus berkembang di kota-kota di jawa maupun di antara para oetani kecil.

Kaum komunis mengakui tradisi–tradisi Jawa yang ingin menyesuaikan diri dengannya. Di dinding-dinding gedung yang dijadikan tempat berlangsungnya konggres PKI di Semarang pada 1921, tegantung lukisan Dipanegara dan para pembantunya, yakni Kyai Maja dan Sentot, berdampingan dengan potret Marx, Lenin, Trotsky dan Risa Luxembrug.

Namun demikian PKI meripakan sebuah organisasi yang kurang memiliki koherensi dan disiplin internal sehingga menjadi subyek pengawasan serta penyusupan agen pemerintah. Pada 1926-7, PKI mendalangi pemberontakan terhadap rezim kolonial yang berakhir dengan kegagalan total sehingga keberadaanya ditumpas –- episode 1926 ini yang pertama dari tiga episode kelam sejarah PKI di Indonesia, yakni pada 1948 dan 1965.

BACA JUGA:   Kebangkitan Nasional versi Sarekat Islam

Menjelang kehancuran PKI, seorang pemimpin muda yang karismatis bernama Sukarno –yang kemudian menjadi presiden setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya –mendirikan sebuah partai nasionalis pada 1927 yang pada tahun 1928 menjadi Partai Nasioalis Indonesia (PNI). Konstituennya, seperti PKI berasal, dari kalangan ‘abangan’.

Karikatur Sarekat Islam tahun 1915.

Tetapi pemberontakan PKI yang gagal tersebut telah menyembunyikan alarm kaum Eropa. Pemerintah kolonial kemduian membatasi kebebasan yang sebelumnya ditunjukan semasa Politik Etis. Organisasi-organisasi politik diawasi secara ketat dan bisa dibubarkan secara sewenang-wenang. Sukarno dan para tokoh elit politik lokal lain keluar masuk penjara dan tempat pengasingan. Pemerintah –dengan dukungan dan sebagian besar kaum priyayi adminstratif –melakukan segala cara untuk mencegak agitator anti-kolonial mendapatkan akses ke massa baik di perkotaan maupun pedesaan.

Sementara itu pertengkaran yang merugikan di antara sedikit kalangan elite anti-kolonial terus berlangsung dengan getirnya.

*****

Jadi inilah asal mula persaingan –bahkan permusuhan—yang laten dari kekuatan islamis dan komunis yang memang sudah sangat lama dan berdarah-darah jejaknya. Pertarungan ini bisa juga menjadi salah satu penanda terjadinya polarisasi umat Islam menjelang tahun-tahun berat semasa ‘Depresi Besar’ (krisis ekonomi dunia tahun 1930) atau juga masa setelah usainya pandemi flu Spanyol yang mengangkangi dunia pada 1918-1920.

Maka, kalau sekarang sekarang terjadi lagi sebenarnya sejarah seperti kata orang Prancis memang selalu berulang. Apalagi situasi global dunia sangat mirip. Lalu apa yang sejatinya baru di bawah terik matahari? Lalu apa ada yang bisa menahan perubahan dunia?

Jawabnya, seperti kata syair lagu pop Ebiet G Ade: Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang.

sumber: republika.co.id

News Feed