by

Kiai Raden Asnawi, Sesepuh Ulama Kudus

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

KH  Raden Muhammad Asnawi (1861-1959), atau akrab disapa Raden Asnawi, adalah ulama karismatik dan sesepuh ulama Kudus pada zamannya. Putra pasangan H Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah ini lahir di Desa Damaran Kudus (1861), dengan nama Ahmad Syamsyi. Pendidikan agama, terutama ilmu tajwid dan penguasaan bacaan Alquran, diperoleh dari sang ayah. Pada usia 15 tahun, kedua orangtuanya pindah ke Tulungagung; di kota ini sang ayah mengajarinya berdagang di pagi hingga siang hari. Adapun sore dan malam hari, kegiatan Ahmad Syamsi adalah mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari (Tulungagung).

Selanjutnya, remaja Ahmad Syamsi mengaji kepada KH Irsyad di Mayong Jepara. Saat berusia 25 tahun, ia menunaikan ibadah haji yang pertama (1886) dan sepulangnya berganti nama Haji Ilyas. Sejak itu Raden Ilyas mulai aktif berdakwah. Lima tahun berselang, ia diajak sang ayah menunaikan ibadah haji yang kedua. Selanjutnya, Raden Ilyas bermukim dan menuntut ilmu di Tanah Suci selama 20 tahun (1891-1911) hingga berganti nama Asnawi.

Guru-gurunya semasa di Mekkah antara lain Syekh Nawawi Banten, Syekh Sholeh Darat (Semarang), Syekh Muhammad Mahfudz (Tremas), dan Sayyid Umar Syatha. Semasa di Tanah Suci, beliau juga sempat mengajar di Masjidil Haram; murid-muridnya antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH Bisri Sansuri (Jombang), KHaji Dahlan (Pekalongan), KH Shaleh (Tayu), KH Chambali (Kudus), KH Mufid (Kudus), dan KH Ahmad Mukhit (Sidoarjo).

BACA JUGA:   Kebangkitan Nasional versi Sarekat Islam

Raden Asnawi terbilang aktif dalam pergerakan Sarekat Islam (SI), yakni sebagai komisaris semasa di Makkah. Oleh karenanya, beliau cukup dekat tokoh pergerakan semisal Agus Salim dan Oemar Said Tjokroaminoto. Sepulang dari Tanah Suci, Raden Asnawi dipercaya sebagai Penasihat SI Cabang Kudus (1918).

Raden Asnawi aktif mengembangkan ajaran Islam ala Ahlussunnah Waljama’ah. Usai salat Shubuh, misalnya, beliau mengajar di masjid-masjid sekitar Kota Kudus. Adapun setiap Jumat Pahing mengajar materi Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) bakda Jumatan.

Antara Kudus dan Muria sejauh 18 kilometer itu konon ditempuhnya dengan berjalan kaki. Pada tahun 1919, Raden Asnawi merintis Madrasah Qudsiyyah di wilayah Kelurahan Kerjasan, Kota Kudus. Selain itu, beliau juga mendirikan Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin (1927) di Bendan Kudus.

Selama Ramadhan, agenda Raden Asnawi adalah kajian kitab Tafsir Jalalain di Pesantren Bendan; kajian kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam di Tajuk Makam Sunan Kudus; kajian kitab Hadis Bukhari di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus. Kegiatan dakwahnya tak terbatas di Kudus, namun hingga Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Blora, Cepu, dan Gresik.

BACA JUGA:   3 Tokoh Pergerakan Nasional yang Menginspirasi

Pada tahun 1924, KH Abdul Wahab Hasbullah  menemui Raden Asnawi untuk bermusyawarah guna membentengi pertahanan akidah Ahlussunah wal Jamaah. Beliau menyetujui gagasan Kiai Wahab tersebut. Selanjutnya, bersama sejumlah ulama yang hadir di Surabaya, Raden Asnawi turut membidani kelahiran jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu terjadi pada 16 Rajab 1344 (31 Januari 1926).

Selain istikamah berdakwah, beliau juga menanamkan pentingnya nasionalisme kepada para santri. Di samping itu, Raden Asnawi menulis sejumlah karya, di antaranya Syari’atul Islam Lit Ta’limin Nisa’ wal Ghulam (1934), Kitab Fashalatan (1954), Kitab Soal Jawab Mu’takad Seket, Syair Nasionalisme Relijius, dan Shalawat Asnawiyah.

Raden Asnawi meninggal dunia pada 25 Jumadilakhir 1378 (26 Desember 1959). Atas inisiataif KH Abdul Wahab Hasbullah, Menteri Agama RI waktu itu, kabar wafat Raden Asnawi disiarkan oleh RRI Jakarta melalui warta berita pagi.

(Akhmad Saefudin SS MEPenulis Buku 17 Ulama Banyumas)

sumber: suaramerdeka.com

News Feed