by

P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Terakhir)

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Bubarnya PSII

PARTAI Sarekat Islam Indonesia (PSII) merupakan suatu partai politik yang berlandaskan agama dan memperoleh pengaruh besar di Sumatera Selatan (Palembang).

Pada tahun 1933 dilaksanakan Kongres Partai Sarekat Islam Indonesia, yang diantaranya membicarakan penghapusan undang-undang perkawinan bagi orang Islam, adanya usaha-usaha memajukan kaum tani dengan menyerahkan tanah-tanah erfpacht serta tidak memperpanjang tanah erfpacht yang sudah diberikan, mengambil kembali tanahtanah erfpacht yang belum diusahakan, serta mendirikan perkumpulan kaum tani supaya dapat mendirikan perusahaan perusahaan secara bersama.

Berbagai aksi PSII tersebut justru mendapat sambutan dari masyarakat Kota Palembang dan sekitarnya. Setelah tahun 1930-an, partai-partai yang menganut azas non kooperatif umumnya mulai membubarkan diri dan selanjutnya muncul partai dengan nama baru yang menganut azas kooperasi.

Kembalinya Dr. Sukiman dari Negeri Belanda menyebabkan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) mengalami perpecahan kembali, yaitu antara pihak HOS Cokroaminoto dan H. Agus Salim dengan pihak Dr. Sukiman dan Suryopranoto akibatnya Dr. Sukiman dan Suryopranoto dipecat dari PSII dan selanjutnya mereka mendirikan partai baru yang dinamakan Partai Islam Indonesia (PII) pada tahun 1932.

Cabang PII mulai berdiri di Palembang pada tahun 1936, dengan tokoh-tokohnya antara lain: KH. Cikwan, KH. Mansyur Ashari, Rahman Thalib, M. Yayah, M Hawit, Raden lbahim dan A. Karim. Partai Islam Indonesia ini berazas kooperasi, karena itu partai baru ini dapat mengirimkan wakil-wakilnya dalam Palembangraad. KH. Cikwan merupakan wakil Partai Islam Indonesia di dalam Palembangraad.

BACA JUGA:   Kaum Kiri, Ulama, Umat Islam: Akhir Peristiwa Tiga Daerah

Kemudian pada tahun 1936 di Kota Palembang berdiri sebuah parpol baru yaitu PARINDRA dengan para tokohnya antara lain Dr. Maas, Salam Astrokusumo, MJ. Suud, RM. Akib dan Azhari. Sebagai partai politik yang berazaskan kooperasi PARINDRAjuga mempunyai wakil di dalam Palembangraad. Organisasi ini dipimpin oleh dr. M. Isa, mempunyai beberapa cabang dengan anggota kurang lebih 2.100 orang.

Beberapa orang tokoh politik bekas anggota Partindo dan PNI baru seperti M. Tohir, Nungtjik AR, Samidin dan AS Sumadi kemudian mendirikan Gerindo di Kota Palembang pada selama pertengahan tahun 1937.

Menjelang perang Pasifik, Gerindo mempunyai + 25 cabang dengan jumlah anggota + 4.000 orang. Sebagai organisasi kooperasi Gerindo mengirimkan wakil-wakilnya ke Gemeente Raad Palembang yaitu AS. Sumadi, M. Tahir, dan Mgs. Jalauddin. M. Tohir juga merupakan wakil Gerindo dalam Palembang Raad.

Di dewan-dewan marga Gerindo juga mendudukkan wakil-wakilnya. Selanjutnya pada tanggal 1 dan 2 Agustus 1939 Gerindo menyelenggarakan kongres yang ke-2 di Kota Palembang di gedung bioskop Orange dengan pembicara: KH. Mansyur Azhari.

Berbeda dengan sebelumnya, pemerintah kolonial Belanda lebih bersikap. Ternyata hal itu antara lain disebabkan oleh adanya perubahan situasi dunia yang cukup genting. Pemerintah kolonial Belanda cukup sibuk dengan situasi perang di Eropa dan adanya bahaya “Perang Pasifik” yang hampir saja pecah.

BACA JUGA:   Sigap Nasional mengucapkan Selamat & Sukses atas dikukuhkannya kepengurusan YPI Cokroaminoto

Dengan berbagai kesibukan tersebut tentu saja Belanda tidak dapat lagi bersikap keras terhadap aksi-aksi yang dilancarkan oleh partai-partai politik.
Tentu saja kaum pergerakan di Palembang tidak menyia-nyiakan peluang baik tersebut. Antara tahun 1940 dan 1941 banyak partai-partai politik yang mengajukan tuntutan-tuntatan.

Antara lain Indonesia Berparlemen, perubahan pemerintah bahkan kemerdekaan Indonesia. Berbagai tuntutan dari kaum pergerakan (kaum nasionalis) tersebut tentu saja belum dapat direalisasi karena situasi dunia sedang genting dalam menghadapi “Perang Pasifik”. ***

Sumber:

1. Maya Yunita Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Alian Sair, Hudaidah Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri , Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dalam menghadapi krisis malaise di Palembang tahun 1930-1940.
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
5. Pers Perlawanan, Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan, Basilius Triharyanto, September – 2009
6. http://www.konstituante.net/id/profile/PSII_pangku_bin_oemar›.
7. Jeroen Peeters , Kaum tuo-kaum mudo: perubahan religius di Palembang, 1821-1842, INIS, 1997
8. Ryllian Chandra Alumni Program Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, KARET PALEMBANG: Perseteruan Pusat dan Daerah Tahun 1950-an
9. https://palpres.com/2020/05/15/depresi-besar-dunia-malaise-dan-berkah-bagi-daerah-uluan-palembang-tahun-1929-1939/

sumber: palpres.com

News Feed