by

Ketum PP PERISAI mengajak masyarakat waspada transformasi faham radikalisme ditengah pandemik

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Jakarta – Pimpinan pusat PERISAI meminta Masyarakat tetap waspada dengan aksi radikalisme dan terorisme di tengah proses upaya pencegahan wabah virus corona atau Covid-19.

Hal itu ditegaskan oleh Chandra Halim Ketua Umum PP PERISAI Organisasi serumpun syarikat islam, kamis (21/5/2020).

“Dalam kondisi pandemik yang seperti ini masyarakat tidak boleh lengah dan selalu waspada terkait kemungkinan adanya aksi radikalisme dan terorisme di tengah wabah pandemi virus corona” ujar nya

Chandra Halim yang juga ketua bidang Organisasi di Syarikat Islam mengecam segala bentuk Tindakan radikalisme yang dapat menyebabkan disintegrasi antar anak bangsa indonesia.

Ia menjelaskan diperlukan ketegasan dalam pelaksanaan prosedur pengamanan, dan Pemerintah hari ini harus tetap maksimalkan deteksi dini.

BACA JUGA:   Maklumat PP PERISAI tentang Omnibus Law

Menurutnya selama ini Narasi-narasi yang sifatnya mencerahkan dan membantu masyarakat, harus terus dilakukan, karena radikalisme dan terorisme bergerak dengan memperbanyak kelompoknya, untuk regenerasi, dengan memperbanyak komunitas.

“Saat ini pemerintah jangan sampai kecolongan, mesti ada Tindakan bijaksana dalam sebuah Narasi-narasi yang sifatnya mencerahkan agar masyarakat tidak terjebak pada isu yang mematik sikap intoleransi” ungkap Chandra

Chandra mengungkapkan saat ini perkembangan jaman termasuk penggunaan medsos harus diantisipasi dalam transformasi faham radikalisme sehingga Kewaspadaan harus dilanjutkan dalam masa pandemi ini.

Dia menambahkah bahwa kemungkinan Gerakan faham radikalisme di medsos digunakan untuk memojokkan pemerintah sehingga warga negara tidak percaya lagi kepada pemerintah akibat sejumlah kebijakan pemerintah positif sengaja diplintir agar menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada publik.

BACA JUGA:   PP WANITA PERISAI Mengucapkan Selamat Milad Syarikat Islam Yang Ke 115 Tahun

Hal ini juga termasuk pada kebijakan pemerintah dalam penangananan Covid-19, isu bahwa peniadaan bentuk-bentuk kegiatan ibadah merupakan bentuk represi kepada umat Islam.

“masyarakat harus jernih berfikir, bahwa pemerintah memberlakukan pembatasan dalam rangka memutus mata rantai sekaligus pencegahan penyebaran wabah Covid-19.” Ujarnya.

Terakhir Chandra berpesan saat ini masyarakat meski cerdas berfikir dalam kondisi paradox of the Change, Dimana suatu perubahan masa berdampak pada semakin banyak informasi yang di terima, semakin bingung mana informasi yang bisa dipercaya.

sumber: perisai.or.id

News Feed