by

PBNU: Kebangkitan Nasional Tonggak Awal Kesadaran Kolektif Membangun Bangsa

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

KETUA Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU KH Robikin Emhas turut memberikan pandangannya tentang Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati hari ini, Rabu 20 Mei 2020.

Ia mengatakan momen Kebangkitan Nasional yang ditandai dengan sejarah berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 adalah tonggak awal kesadaran kolektif untuk membangun sebuah bangsa.

Kesadaran yang sama, jelas dia, sebenarnya sudah ada dan menjadi gerakan di daerah-daerah. Pemuda dan pelajar STOVIA di Jakarta lantas menegaskannya bahwa masa depan bangsa serta Tanah Air bukan di tangan siapa-siapa, tapi ada di tangan mereka.

“Jika melihat konstruksinya, sejarah Kebangkitan Nasional seyogianya tidak saja kita maknai sebagai era bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan naisonalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sejarah kebangkitan nasional secara holistik harus juga dimaknai sebagai era di mana bangkitnya semangat baru kebangsaan itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah budaya dan perkembangan Islam di Indonesia,” ungkap KH Robikin dalam keterangannya kepada Okezone, Rabu (20/5/2020).

BACA JUGA:   Sarung dan Kupluk Pun Pernah Dicap Komunis

Ilustrasi Hari Kebangkitan Nasional. (Foto: Dok Okezone)

Dia menerangkan, sebelum Budi Utomo digelorakan pada 1908 di Jakarta, perlu diingat bahwa benih-benih Kebangkitan Nasional juga sudah didengungkan melalui berdirinya Sarekat Dagang Islam pada 1905 di Pasar Laweyan, Solo.

Meskipun pada praktiknya, ungkap KH Robikin, Sarekat Dagang tersebut berdiri untuk menandingi dominasi perdagangan yang dikuasai nonpribumi ketika itu, namun pada hakikatnya Sarekat Dagang Islam tengah menyerukan pentingnya semangat kebangsaan. Karenanya Sarekat Dagang Islam kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan dengan nama Sarekat Islam.

KH Robikin melanjutkan, lalu kaitannya dengan Islam yakni sudah menjadi kemafhuman bersama bahwa genealogi Islam di Nusantara ini adalah darussalam. Islam damai. Islam yang proses persebaran dan pertumbuhannya datang dan masuk melalui sendi-sendi kultur dan budaya. Bukan pendekatan senjata. Suatu proses pendekatan yang kemudian membentuk sebuah karakter keagamaan yang mengilhami semangat kebangsaan.

BACA JUGA:   Batik sebagai Alat Pemersatu Bangsa pada Masa Penjajahan Belanda

“Di sinilah bagaimana filosofi Islam Nusantara menjadi fondasi Kebangkitan Nasional. Dr Sutomo dkk sadar betul bahwa agama tidak boleh menjadi kekuatan sentimental yang akan mengganggu persatuan. Agama justru harus menjadi alat mengawal keberagaman. Itulah kenapa pergerakan Budi Utomo senada dengan Sarekat Islam, memilih strategi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan,” paparnya.

Ia melanjutkan, menyerap spirit Hari Kebangkitan Nasional, semua orang patut bersyukur bahwa semangat kebangsaan Indonesia diilhami oleh nilai-nilai religiusitas sehingga menjadi bangsa dan negara yang mengedepankan penghormatan atas keberagaman dan kebinekaan.

“Dan inilah ajaran Islam. Allah Subhanahu wa ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, telah menciptakan warga dunia ini bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, tidak lain dan tidak bukan, maksud dari penciptaan itu adalah agar mereka saling mengenal dan bekerja sama. Begitu kan?” pungkasnya.

(han)

sumber: muslim.okezone.com

News Feed