by

P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Keempat)

Print Friendly, PDF & Email

Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)


Insiden Tertembaknya Bupati d/p Residen Palembang

SEBELUMNYA berbagai aksi PSII tersebut juga mendapat sambutan dari masyarakat Kota Palembang dan sekitarnya.

Selanjutnya PSII cabang Palembang meminta kepada Ketua Umum PSII untuk menunjuk A. S Mattjik sebagai anggota Kujnah Tanfidyah yang ditempatkan di Palembang dengan tugas memberi bimbingan kepada cabang-cabang PSII di daerah Sumatera Selatan dan membentuk cabang-cabang baru.

Abdul Mattjik sebelumnya telah banyak mengadakan perjalanan keliling ke seluruh pelosok Karesidenan Palembang sampai ke marga-marga dan dusun-dusun.

Bahkan sampai ke daerah Bangka dan Lampung. Di beberapa daerah Abdul Saleh (A.S) Mattjik menyelenggarakan ceramah-ceramah untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat guna mencapai kemerdekaan. Berbagai kegiatan Abdul Mattjik tersebut selalu dicurigai PID dan dianggap menghasut rakyat untuk menentang pemerintah, sehingga tidak jarang Abdul Mattjik ditahan dan dimintai pertanggungjawaban oleh pemerintah setempat.

Untuk mencegah meluasnya pengaruh PSII di kalangan masyarakat pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1933 menyatakan bahwa PSII sebagai organisasi terlarang bagi para pegawai negeri (ambtenaaren) dan ada pula larangan untuk berkumpul atau rapat.

Setelah dikeluarkannya Vergadee Verbod (larangan berkumpul) PSII mengalihkan perjuangan melalui jalur pendidikan.

Melihat kegiatan PSII di Jawa yang semakin memperbanyak pendirian sekolah-sekolah, maka cabang-cabang PSII di daerah Palembang pun mulai membuka sekolah-sekolah baru.

Satu sekolah Partai Sarekat Islam di Palembang yang mengalami kemajuan cukup baik dan diterima oleh masyarakat adalah Pendidikan Islam Air Itam yang lokasinya di Dusun Air Itam Marga Pemukal (onderafdeeling Musi Ilir) yang didirikan oleh H.A. Hamid.

BACA JUGA:   5 Pahlawan Nasional Ini Diabadikan Kisah Hidupnya Lewat Film

Sekolah-sekolah Islam di Dusun Air Itam makin meluas ke daerah-daerah sekitarnya, bahkan sampai ke Lematang Ulu. Sampai dengan tahun 1940 di daerah Air Itam telah muncul 10 buah sekolah PSII.

Melihat perkembangannya yang cukup pesat tersebut, maka pemerintah kolonial Belanda mencurigai dan mengawasi pendidikan Islam di Air Itam terse but.

Bahkan sebagai tandingan pemerintah kolonial Belanda mendirikan Schakel school pada tahun 1941 di daerah Air Itam.

Dengan adanya berbagai peraturan dari pemerintah kolonial Belanda, hilanglah kesempatan untuk hidup dan bergerak bagi partai-partai politik yang menganut azas non kooperatif.

Setelah tahun 1930-an, partai-partai yang menganut azas non kooperatif umumnya mulai membubarkan diri dan selanjutnya muncul dengan nama baru yang menganut azas kooperasi.

Sebagai partai dan organisasi P.S.I.I. pun sempat atas perintah militer Jepang (di zaman penjajahan Jepang) dibekukan.

Meskipun begitu antara para pemimpinnya masih juga dapat mengadakan hubungan dan pertemuan secara diam-diam .

Pada saat itulah organisasi P.S.I.I., sebagaimana juga lainnya, menderita kelumpuhan hebat. Segala usaha yang sedang bergerak maju menjadi hancur. Koperasi karet yang tadinya bergerak, kini terpaksa ditutup.

Pada akhir tahun 1942 di Air Itam terjadi suatu peristiwa penembakan. rombongan Pemerintah Militer Jepang yang sedang mengadakan peninjauan menggunakan perahu tiba-tiba mendapat serangan tembakan yang tidak diketahui dari mana datangnya.

A .Nadjamuddin (Bupati d/p Residen Palembang ) yang ikut seperahu dengan rombongan tersebut terkena peluru. Tidak lama setelah itu, lalu dilakukan penangkapan secara besar-besaran dikalangan pemimpin dan anggota P.S.I.I. Diantaranya A.S. Mattjik dan Hamzah Kuntjit beserta ratusan orang anggota P.S.I.I. dipenjarakan, disiksa dan dianiaya, sehingga akibatnya tidak kurang dari 95 orang antaranya mati teraniaya.

BACA JUGA:   MTs Cokroaminoto Madukara mengucapkan Selamat Milad ke-115 Tahun Syarikat Islam

Demikianlah antara lain penderitaan yang dialami oleh P.S.I.I. di zaman Jepang. Sejak zaman Indonesia Merdeka, baru pada pertengahan tahun 1948, organisasi P.S.I.I. dibangunkan kembali.

Sebelum itu P.S.I.I tergabung dalam Masyumi. Pembangunan P.S.I.I. dimulai dengan penyusunan pimpinan Daerahnya di Lubuklinggau.

Diantara nama pemimpinnya adalah A.S. Mattjik, Hi. Zainuri, Suhardjo, dan lain-lain.

Setelah pemulihan kembali Pemerintah R.I. dikota Palembang, baru sejak tahun 1950 organisasi P.S.I.I. seutuhnya dibangunkan diseluruh daerah, dengan pimpinan daerahnya yang baru pula termasuk Pangku dan A.S. Mattjik yang berkedudukan di Palembang.

Disamping itu, patut pula dicatat disini, bahwa untuk anggota wanita dari Partai ini, tersedia organisasi “Wanita P.S.I.I.” dan untuk pemuda ada “P.M.I.” dan untuk kepanduan ada “SIAP”. ***

Sumber:

1. Maya Yunita Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Alian Sair, Hudaidah Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri , Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dalam menghadapi krisis malaise di Palembang tahun 1930-1940.
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
5. Pers Perlawanan, Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan, Basilius Triharyanto, September – 2009
6. http://www.konstituante.net/id/profile/PSII_pangku_bin_oemar›.

sumber: palpres.com

News Feed