by

P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Ketiga)

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Mendapat Dukungan Masyarakat

KEPEMIMPINAN PSII semakin bermutu ketika sejumlah bekas aktivis mahasiswa tamatan Timur Tengah pulang kembali ke Palembang sekitar pergantian tahun 1929-1930 untuk bergabung dengan partai ini. Mereka umumnya bekerja sebagai guru sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tersebar luas sampai daerah pedalaman.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), organisasi tempat berkumpulnya kaum terpelajar yang dibentuk atas prakarsa KH. Ahmad Azhari yang pulang dari Kairo sekitar akhir 1929, merupakan think~ tank pergerakan mereka.

Ahmad Azhari menikah dengan salah seorang anak Haji Akil dan dipercayakan memimpin sekolah Muhammadiyah Al-Hidayah di 4 Ulu Kota Palembang. Dalam kepengurusan PPI, K.H. Ahmad Azhari duduk sebagai sekretaris dan dibantu M. Yahya, bekas tokoh PNI yang bergabung dengan PSII namun pindah lagi ke Partindo.

Ketua PPI adalah KH. Cik Wan dan wakilnya adalah K.H. Manshur Azhari, yang juga tamatan Timur Tengah.

Sementara Bendahara PPI dipegang oleh Rahman Thalib, seorang pedagang dari Palembang yang duduk sebagai salah satu pengurus koperasi sekolah Al-Hidayah di 4 Ulu. PPI memiliki sekitar 11 anak cabang yang tersebar di berbagai sekolah agama daerah pedalaman. Pimpinan dan gum guru sekolah sebagian besar tamatan Timur Tengah.

Organisasi ini bertindak sebagai juru bicara kelompok Islam modernis yang bernaung di dalam Committe Akan Perlindoengan Agama Islam yang terbentuk beberapa tahun sebelumnya.

Komite tersebut dibentuk untuk menghadapi kelompok penghulu, sebagian di antaranya juga tamatan Timur Tengah dan didukung penuh pemerintah kolonial.

Pertentangan antara Kaum Muda (Islam reformis) dan Kaum Tua (Islam ortodoks) tidak hanya sekadar perbedaan pandangan dan isu “khilafiyah”, tetapi juga soal bagaimana merekrut massa pengikut

Di samping itu juga terlihat dalam sikap mereka ketika berhadapan dengan kekuasaan kolonial, yang pertama cenderung kontra sedangkan yang kedua cenderung pro.

Dalam spektrum politik demikian, PII sebagai organ PSII masuk dalam kelompok modernis (Kaum Muda) yang mengambil jarak dan anti-kolonial.

Melalui sekolah-sekolah agama yang tersebar hingga daerah pedalaman. dan kontak dengan sesama anggota partai serta media massa, jaringan pergerakan anti-kolonial menemukan bentuknya yang baru. Bahkan seorang guru agama dari pedalaman mencoba menyikapi perubahan zaman dengan “nasionalisme keagamaan dan mengirimkan surat terbuka kepada Koran Pertja Selatan, dengan kalimat-kalimat:

….lni zaman memang zaman modern telah bertoekar-toekar. Itoe boekan heran karena Toehan telah menoendjoekkan kekayaan yang doeloe2 yang tidak gampang dicari dan tidak gampang didapat sekarang telah gampang dan moerah, segala macam benda apa djoega Doeloenya selagi zaman nenek2 kita hal agama Islam djika akan bergoeroe sama orang pandai amat soesah. Djika soedah ada akan mempeladjari ilmoe jang penting misalnya dengan djalan resiah [rahasia] atau siapa jang lebih soenggoeh2 pada goeroenya, baroe diberitahoe lebih oleh si goeroe. Tetapi zaman sekarang Alhamdulillah tidaklah lagi yang begitoe dengan moedah sadja dimesdjid2, disoeraoe2, dan sampai ditembok2 djoega soedah main toendjoek sadja ilmoe apa yang beloem mengerti, karena memangnya begitoe sebahagian jg telah mengerti ilmoe itoe tidak boleh disimpan dalam dada sendiri katanya….

BACA JUGA:   Peristiwa 10 September: HUT TNI Angkatan Laut

… Demikian di Oeloean Palembang yang doeloenya masih dalam kegelapan perkara agama, sekarang moelai bertindak madjoe, dalam satoe2 podjok soedah terdiri beberapa boeah sekolah agama yang didirikan oleh bangsa Islam…

AS. Matcik, tokoh PSII yang belum lama tiba dari Cirebon pada awal 1933 mengawali kegiatan partai dengan mengunjungi sekolah-sekolah agama di pedalaman Palembang.

Peluang semakin terbuka lebar ketika gempa bumi menggoncang kawasan Danau Ranau ( kini di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan dan Perbatasan Lampung Barat) pada 25 Juni 1933.

Bencana alam itu menelan korban sekitar 130 jiwa, 247 orang luka berat dan cidera ringan serta ratusan rumah hancur.

Kalangan PSII Kota Palembang “memanfaatkan” peristiwa itu dengan memberi berbagai macam bentuk bantuan bagi korban sambil melancarkan propaganda anti-pemerintah kolonial Belanda.

AS. Matcik dan beberapa koleganya dari Kota Palembang mengirimkan pertolongan dibantu tenaga-tenaga sukarelawan Sarikat Islam Afdeeling Panda (SIAP) Kota Palembang, yang kemudian bergabung dengan PSII lokal yang berpusat di sekolah agama Al-Irsyad, Muara Dua (berdiri sekitar tahun 1926).

Propaganda PSII yang cukup mengena saat itu adalah “… daripada mengharapkan bantuan dari penguasa kolonial. lebih baik menerima santunan ikhlas dari PSII, baik secara materi maupun rohani…”

PSII tampaknya mampu menjadi “Juru Penolong”. Sekitar 75 persen rumah yang hancur dapat dibangun kembali. Sebelum itu mereka mengumpulkan para penduduk yang tertimpa bencana. Mereka memberikan bantuan uang dan makanan-minuman sekadarnya.

Di samping itu mereka berceramah agama kepada setiap penduduk yang dilanda musibah untuk tetap sabar dan selalu ingat Tuhan yang menguji hambanya dengan berbagai cobaan, dan mengirimkan pesan bahwa dalam menghadapi persoalan bersama seperti sekarang, orang harus bersatu, tolong-menolong dan seterusnya…

Propagandis PSII lokal memang sigap mengangkat isu peduli rakyat dengan nada serupa seperti diperjuangkan SI masa silam.

BACA JUGA:   Tokoh Pahlawan Bangsa Yang Pertama Kali Meneriakkan Kemerdekaan Indonesia Sumber : https://www.rancah.com/berita-opini/107017/tokoh-pahlawan-bangsa-yang-pertama-kali-meneriakkan-kemerdekaan-indonesia/#ixzz6acJkC7WI

Mereka juga menyinggung adatheffingen (penghapusan beban adat) seperti pajak dan kerja rodi. Isu tersebut dimunculkan kembali dan mereka menjanjikan penduduk akan terbebas dari pajak jika bergabung dengan PSII. Hanya dengan membayar £25 kepada PSII maka Gunung Seminung sebuah gunung yang berbatasan dengan daerah Lampung Selatan dan Kabupaten OKU Selatan (Sumatera Selatan) akan diserahkan kepada penduduk Ranau.

“Siapa pun boleh menggarap ladang di gunung itu berapa pun luasnya, tanpa perlu lagi membayar pajak,” demikian salah satu ajakan propagandis PSII.

Pesan tersebut tampaknya cukup mengena karena selama ini setiap penduduk yang membuka ladang baru diharuskan membayar pajak kepada pemerintah. Mereka tidak akan dikenakan pajak oleh PSII, kecuali uang pendaftaran untuk menjadi anggota. Uang itu nantinya dipakai untuk mengundang dua tokoh PSII pusat, H. Agus Salim dan Tjokroaminoto, yang akan meresmikan Gunung Seminung menjadi “Gunung PSII”.

Pengaruh Sarekat Islam di perdesaan zaman sebelumnya sedemikian besar sehingga dapat membuat “desa-desa SI” sekarang meningkat dengan menjadikan Gunung Seminung sebagai “Gunung PSII.” Tak pelak propaganda semacam itu membuat warga kampung berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi anggota PSII setempat. Hiruk pikuk pendaftaran konon sempat membuat penduduk yang bukan anggota PSII menjadi panik. Propaganda “unik” seperti itu juga dapat ditemukan di daerah Banyuasin, Ogan, Komering, dan Rawas. Antara bulan Februari sampai Agustus 1933, misalnya, PSII lokal melakukan propaganda di Marga Muara Talang, Banyuasin.

Salah seorang propagandis adalah Naning bin Haji Mohammad yang mencoba meyakinkan penduduk dengan pernyataannya yang menggoda bahwa tidak lama lagi kekuasaan Belanda akan lenyap dan siapapun yang bergabung dengan PSII tidak perlu lagi membayar belasting dan heerendiensten. ***

Sumber:

1. Maya Yunita Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Alian Sair, Hudaidah Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri , Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dalam menghadapi krisis malaise di Palembang tahun 1930-1940.
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
5. Pers Perlawanan, Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan, Basilius Triharyanto, September – 2009
6. http://www.konstituante.net/id/profile/PSII_pangku_bin_oemar›.

sumber: palpres.com

News Feed